KebonCinta.com — Perkembangan kecerdasan buatan mulai mengubah cara media bekerja, mulai dari pencarian informasi, transkripsi wawancara hingga pembuatan berbagai materi pendukung berita.
Bank Indonesia Provinsi Bali mendorong insan pers meningkatkan kemampuan memanfaatkan Artificial Intelligence atau AI tanpa meninggalkan prinsip dasar jurnalistik.
Penguatan kemampuan tersebut menjadi salah satu materi dalam Capacity Building Sobat Media BI Bali 2026 yang berlangsung di Ibu Kota Nusantara pada 1 hingga 3 Oktober.
Kegiatan melibatkan jurnalis dari berbagai media di Bali.
“Kerja jurnalisme tetap kerja jurnalisme,” menjadi salah satu pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.
Pesan itu menekankan bahwa teknologi dapat mengubah proses produksi, tetapi pencarian fakta dan tanggung jawab terhadap isi berita tetap berada pada jurnalis.
AI dapat digunakan untuk membantu memantau perkembangan isu dan melihat berbagai sumber informasi dalam waktu lebih cepat.
Teknologi juga dapat dimanfaatkan untuk membuat transkripsi dari wawancara yang panjang.
Pekerjaan lain seperti membaca dokumen dalam jumlah besar dapat dibantu menggunakan sistem AI untuk menemukan informasi yang relevan.
Jurnalis kemudian tetap harus membuka dokumen asli dan melakukan pengecekan sebelum informasi digunakan.
AI juga dapat membantu menyiapkan draf awal, ringkasan, kata kunci, infografik maupun menemukan kesalahan penulisan.
Namun hasil yang dihasilkan mesin tidak boleh langsung dianggap sebagai fakta.
Sistem AI tetap dapat menghasilkan informasi yang tidak tepat, kehilangan konteks atau bahkan membuat pernyataan yang sebenarnya tidak pernah disampaikan narasumber.
Karena itu, verifikasi menjadi tahap yang tidak dapat dilewati.
Jurnalis tetap harus menghubungi narasumber, melakukan peliputan dan membandingkan informasi dengan sumber terpercaya.
Dalam kegiatan tersebut juga dibahas perubahan cara masyarakat mencari informasi.
Media sebelumnya banyak mengandalkan Search Engine Optimization atau SEO agar artikel mudah ditemukan melalui mesin pencari.
Perkembangan AI generatif kemudian melahirkan pembahasan mengenai Generative Engine Optimization atau GEO.
Perubahan ini muncul karena sebagian pengguna mulai mencari jawaban melalui chatbot maupun mesin pencarian berbasis AI.
Media karena itu menghadapi tantangan agar kontennya tetap mudah ditemukan sekaligus tetap dipercaya.
Kepala Divisi Implementasi Kebijakan Ekonomi dan Keuangan Daerah BI Bali Renold Asri juga menyoroti pentingnya peran media dalam menjelaskan kebijakan ekonomi.
“Kami membutuhkan dukungan dan kolaborasi rekan-rekan media,” ujarnya.
Ia kemudian menjelaskan masih terdapat tugas dan kebijakan Bank Indonesia yang perlu disampaikan dengan bahasa yang dapat dipahami masyarakat.
Dalam pemberitaan ekonomi, kesalahan informasi dapat memberikan dampak lebih luas.
Informasi mengenai suku bunga, inflasi, sistem pembayaran atau kebijakan moneter perlu dijelaskan dengan konteks yang tepat.
Penggunaan AI karena itu perlu dibarengi prinsip akurasi, transparansi, privasi dan akuntabilitas.
Jurnalis tidak hanya bertanggung jawab membuat berita lebih cepat.
Tugas utamanya tetap memastikan informasi yang sampai kepada pembaca benar dan dapat dipertanggungjawabkan.
AI akhirnya dapat menjadi alat bantu yang sangat berguna di ruang redaksi.
Namun keputusan akhir mengenai apa yang layak diterbitkan tetap membutuhkan penilaian manusia dan proses jurnalistik yang benar.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir