Khazanah
M. Fadhli Dzil Ikram

Bukan Cuma Cordoba, Pulau di Italia Ini Ternyata Pernah Jadi Pusat Ilmu Pengetahuan Islam

Bukan Cuma Cordoba, Pulau di Italia Ini Ternyata Pernah Jadi Pusat Ilmu Pengetahuan Islam

04 November 2026 | 08:46

Keboncinta.com — Pulau Sisilia di Italia Selatan menyimpan lembaran sejarah yang sangat kaya akan peradaban Islam. Jauh sebelum menjadi bagian integral dari wilayah Italia modern, pulau strategis di Laut Mediterania ini pernah berada di bawah kekuasaan dan pengaruh berbagai imperium besar, mulai dari Yunani, Romawi, Byzantium, hingga bangsa Arab. Di bawah naungan Islam, Sisilia menjelma menjadi salah satu pusat kebudayaan dan transmisi ilmu pengetahuan paling berpengaruh di kawasan Eropa Selatan.

Kehadiran umat Islam di wilayah ini tidak sekadar membawa nilai-nilai keagamaan, melainkan sukses mentransformasikan Sisilia menjadi jembatan peradaban yang menghubungkan khazanah intelektual dunia Islam dengan dunia Barat. Hingga hari ini, jejak-jejak peninggalan serta sentuhan arsitektur Islam masih berdiri kokoh menghiasi lanskap kota-kota di Sisilia.

Baca Juga: Mengapa Hari Santri Diperingati Setiap 22 Oktober? Ini Sejarah dan Makna Pentingnya 

Kisah Penaklukan dan Puncak Kejayaan Islam di Sisilia

Berdasarkan catatan dalam buku Sejarah Peradaban Islam karya Ahmad Jamal Rohman, ekspedisi bangsa Arab dalam menaklukkan Sisilia bermula pada masa akhir kekuasaan Dinasti Aghlabiyah yang berpusat di wilayah Afrika Utara (kini Tunisia dan Al-Jazair). Peristiwa bersejarah ini berlangsung pada era Kekhalifahan Abbasiyah di sekitar pertengahan abad ke-3 Hijriah atau abad ke-10 Masehi, menyusul dinamika konflik wilayah dengan Kekaisaran Romawi.

Seiring berjalannya waktu, ketika Dinasti Fatimah bangkit dan memperluas kekuasaannya di Afrika Utara, kendali atas Sisilia turut beralih ke tangan mereka, membentang dari Italia Selatan hingga mendekati Roma. Penguasaan bangsa Arab ini membuka jalan bagi penyebaran peradaban Islam secara masif ke berbagai kota penting di Sisilia, seperti Palermo, Messina, Siracusa, dan Bari.

Mengutip buku Sejarah Terlengkap Peradaban Islam karya Abdul Syukur al-Azizi, semenjak berada dalam pelukan kekuasaan Islam, Sisilia tumbuh menjadi pusat peradaban kedua paling gemilang di Eropa setelah Cordoba di Spanyol. Pembangunan fasilitas publik berjalan pesat, di mana bangunan masjid didirikan di hampir seluruh penjuru wilayah. Masjid-masjid tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat sujud, melainkan juga bertindak sebagai pusat pendidikan dan pengajaran ilmu.

Kota Palermo pada masa keemasannya tercatat memiliki tidak kurang dari 300 masjid. Penjelajah Muslim terkemuka, Ibnu Hauqal, bahkan menuliskan dalam catatan perjalanannya bahwa ia belum pernah menemukan sebuah kota di belahan dunia mana pun yang memiliki jumlah masjid sebanyak Kota Palermo.

Selain itu, berdiri pula institusi pendidikan tinggi terkemuka seperti Universitas Balerm, yang mutu akademiknya dinilai setara dengan Universitas Cordoba pada masanya. Kampus ini melahirkan banyak cendekiawan dan sastrawan besar, salah satunya adalah penyair masyhur Ibnu Hamdis. Sejarawan Michelle Amari bahkan menegaskan bahwa sebagian besar fondasi ilmu pengetahuan yang diserap oleh dunia Barat pada masa pencerahan berasal dari transfer intelektual yang berpusat di Sisilia.

Masa Transisi dan Toleransi di Bawah Dinasti Normandia

Meskipun kekuasaan politik umat Islam akhirnya harus bergeser setelah penguasa terakhirnya dikalahkan oleh Roger I dari bangsa Normandia—sehingga pulau ini kembali berada di bawah naungan penguasa Kristen—warisan peradaban Islam tidak serta-merta musnah.

Berdasarkan buku Sejarah Pendidikan Islam Abad Pertengahan dan Modern karya Irfal Khairul Fardri, Raja Roger I menunjukkan sikap bijak dengan tetap melindungi para cendekiawan, filsuf, astrolog, serta dokter berlatar belakang Arab. Ia memberikan kebebasan penuh kepada masyarakat non-Kristen untuk menjalankan ibadah sesuai keyakinan masing-masing. Bahkan, struktur birokrasi istana Normandia selama lebih dari satu abad setelah penaklukan tetap mempertahankan banyak pejabat Muslim di posisi strategis.

Tradisi akulturasi budaya Islam ini terus berlanjut dan mencapai puncaknya pada masa pemerintahan penerus Roger I, yakni Raja Roger II dan Raja Frederik II. Roger II dikenal kerap mengenakan pakaian bangsawan Muslim berupa jubah mewah yang dihiasi aksara Arab. Pengaruh budaya tersebut begitu kuat hingga masa cucunya, William II, di mana sebagian perempuan Kristen di Palermo turut mengenakan busana tertutup ala muslimah.

Baca Juga: Bolehkah Membaca Al-Qur’an Tanpa Berjilbab? Simak Hukum dan Adabnya 

Jejak Peninggalan Arsitektur Islam di Sisilia

Sentuhan estetika dan kebudayaan Islam di Sisilia dapat disaksikan secara langsung melalui peninggalan bangunan bersejarah yang terawat hingga kini:

  1. Istana La Cuba di Palermo: Kompleks istana megah bergaya arsitektur Islam yang dibangun oleh Raja William II pada tahun 1180 M. Bangunan ini terkenal dengan detail hiasan kubah sarang lebah (muqarnas) yang sangat khas tradisi Islam.
  2. Gereja San Giovanni degli Eremiti: Bangunan gereja unik di Palermo yang diyakini berdiri di atas bekas tapak sebuah masjid kuno. Karakter keislaman bangunan ini tampak sangat kuat pada ornamen kubah-kubah merahnya.
  3. Gereja Martorana (Santa Maria dell'Ammiraglio): Terletak di Piazza Bellini, Palermo, gereja ini menampilkan perpaduan arsitektur Bizantium dan Arab yang harmonis, mencerminkan tingginya toleransi estetika masa lampau.
  4. Gereja San Cataldo: Didirikan pada tahun 1160 M oleh Admiral Majone, gereja ini mudah dikenali melalui ciri khas tiga kubah merah di atas atap datarnya yang mengadopsi langgam seni bangunan Islam abad pertengahan.
Tags:
Peradaban Islam Sisilia Sejarah Islam Eropa Arsitektur Islam

Komentar Pengguna