Khazanah
M. Fadhli Dzil Ikram

Bukan Cuma Ibadah Ritual, Meringankan Utang Sesama Ternyata Menjamin Naungan Arasy di Hari Kiamat

Bukan Cuma Ibadah Ritual, Meringankan Utang Sesama Ternyata Menjamin Naungan Arasy di Hari Kiamat

04 November 2026 | 08:16

Keboncinta.com — Padang Mahsyar merupakan tempat berkumpulnya seluruh umat manusia setelah dibangkitkan kembali dari alam kubur pada hari kiamat. Berdasarkan keterangan hadits, suasana di Padang Mahsyar digambarkan sangat mencekam karena jarak matahari didekatkan ke atas kepala makhluk. Akibatnya, panas yang menyengat akan mengucurkan keringat manusia hingga menyiksa fisik mereka sesuai dengan takaran amal buruk serta dosa-dosa yang diperbuat selama hidup di dunia.

Gambaran dahsyatnya peristiwa hari kebangkitan ini telah dijelaskan secara langsung oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Imam Muslim: "Manusia tersiksa dalam keringatnya sesuai dengan kadar amal masing-masing (dosa-dosanya). Di antara mereka ada yang keringatnya sampai di kedua mata kakinya. Ada yang sampai di kedua betisnya. Ada pula yang sampai pinggangnya. Ada juga yang keringatnya sungguh-sungguh menyiksanya." (HR Muslim).

Di tengah teriknya panas matahari yang menyiksa seluruh makhluk tersebut, terdapat sekelompok hamba pilihan yang terbebas dari penderitaan karena memperoleh perlindungan langsung dari Allah SWT. Siapa saja golongan yang beruntung tersebut dan amalan apa yang menjadi penolong mereka?

Baca Juga: Jangan Sampai Lalai! Ini Urutan Kehidupan Setelah Kiamat Menurut Al-Qur'an 

Dalil dan Tujuh Golongan yang Dinaungi Allah di Padang Mahsyar

Atas izin dan kasih sayang Allah SWT, sejumlah amalan saleh di dunia akan menjadi perisai bagi pelakunya di Padang Mahsyar. Ketentuan ini bersandar pada hadits shahih yang tercantum dalam kitab Riyadhus Shalihin karya Imam an-Nawawi, Mukhtashar Sya'bul Iman susunan Imam Baihaqi, serta Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-Asqalani. Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلَّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: الْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللَّهِ ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ ، وَرَجُلَانِ تَحَابًا فِي اللهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ ، فَقَالَ : إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عيناه

Artinya: "Tujuh golongan yang dinaungi Allah dalam naungan-Nya pada hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: (1) Imam yang adil, (2) seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allah, (3) seorang yang hatinya bergantung ke masjid, (4) dua orang yang saling mencintai di jalan Allah, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya, (5) seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik, lalu ia berkata, 'Sesungguhnya aku takut kepada Allah,' (6) seseorang yang bersedekah dengan satu sedekah lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfakkan tangan kanannya, serta (7) seseorang yang berzikir kepada Allah dalam keadaan sepi lalu ia meneteskan air matanya." (HR Bukhari, Muslim, Ahmad, Tirmidzi, dan Nasa'i).

Merujuk pada uraian dalam buku Ensiklopedia Kiamat yang disusun oleh Tim Gema Insani, ketujuh amalan utama yang menyelamatkan seseorang di Padang Mahsyar tersebut meliputi:

  1. Menjadi Pemimpin yang Adil: Menunaikan amanah kepemimpinan secara jujur dan menegakkan keadilan bagi orang-orang yang dipimpinnya.
  2. Menjaga Ketaatan Sejak Usia Muda: Memanfaatkan masa muda untuk tekun beribadah dan menjaga kebersihan diri dari kemaksiatan.
  3. Memiliki Hati yang Terpaut pada Masjid: Mencintai rumah Allah dengan senantiasa memakmurkannya dan menjaga shalat berjamaah.
  4. Mencintai Sesama karena Allah SWT: Menjalin persaudaraan dan persahabatan yang murni dilandasi keimanan, baik saat bertemu maupun berpisah.
  5. Menjaga Kehormatan Diri dari Perbuatan Zina: Menolak godaan syahwat dan perzinaan semata-mata karena rasa takut kepada azab Allah SWT.
  6. Bersedekah Secara Sembunyi-Sembunyi: Mengeluarkan infak dan sedekah dengan penuh keikhlasan tanpa mengharapkan pujian atau balasan manusia.
  7. Berzikir dalam Kesunyian: Mengingat keagungan Allah SWT dan merenungi dosa saat sendirian hingga meneteskan air mata ketundukan.

Makna Naungan Allah dan Keutamaan Membebaskan Utang

Terkait hakikat "naungan" yang disebutkan dalam hadits, ulama ahli hadits terkemuka, Imam al-Hafiz Ibnu Abdil Barr, memberikan penjelasan mendalam melalui kitabnya yang berjudul al-Tamhid dan al-Istidzkar. Beliau menerangkan bahwa naungan tersebut bermakna limpahan rahmat serta perlindungan dari Allah SWT. Setiap hamba yang berada di bawah naungan-Nya akan diselamatkan dari kengerian hari kebangkitan, termasuk terbebas dari rasa cemas, tekanan batin (stres), serta siksaan genangan keringat yang menimpa manusia lainnya.

Selain ketujuh amalan di atas, Islam juga membuka pintu perlindungan lain melalui kepedulian sosial, yakni memberikan kelonggaran waktu bagi orang yang kesulitan membayar utang atau memutihkan beban utang tersebut. Rasulullah SAW menegaskan keutamaan ini dalam sabdanya: "Barang siapa memberikan kelonggaran kepada orang yang sedang kesulitan (membayar utang) atau membebaskan (utang tersebut) darinya, niscaya Allah akan menaunginya dalam Arasy-Nya." (HR Muslim).

Baca Juga: Apakah Mengangkat Tangan saat Berdoa Termasuk Sunnah Nabi? 

Golongan Manusia yang Diabaikan Allah SWT pada Hari Kiamat

Sebagai bentuk peringatan agar umat Islam senantiasa mawas diri, Rasulullah SAW juga mengabarkan adanya golongan manusia yang justru diabaikan, tidak disucikan dari dosa, tidak dipandang dengan pandangan rahmat, serta diancam siksa pedih pada hari kiamat.

Berdasarkan hadits riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah RA, tiga golongan pertama yang mendapat murka tersebut adalah:

  • Orang lanjut usia yang berzina: Mereka yang tetap melakukan perbuatan keji di saat dorongan syahwat seharusnya telah melemah dan waktu kematian semakin dekat.
  • Pemimpin atau raja yang pendusta: Penguasa yang mengkhianati rakyatnya dengan kebohongan padahal memiliki kekuasaan penuh untuk berkata jujur.
  • Orang miskin yang sombong: Mereka yang tetap angkuh di hadapan manusia meskipun tidak memiliki harta benda yang biasa memicu kesombongan.

Selanjutnya, dalam riwayat Imam Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad, disebutkan pula tiga perilaku buruk lainnya yang membuat pelakunya tidak diajak bicara oleh Allah SWT di hari kiamat:

  • Menahan kelebihan air dari musafir: Seseorang yang memiliki persediaan air berlebih di tengah gurun pasir, namun enggan memberikannya kepada musafir yang sangat membutuhkan.
  • Bersumpah palsu dalam berdagang: Penjual yang menawarkan barang dagangannya selepas waktu Ashar dengan bersumpah palsu atas nama Allah mengenai modal harga beli demi menipu pembeli.
  • Berbaiat kepada pemimpin demi materi duniawi: Seseorang yang menyatakan kesetiaan kepada pemimpin semata-mata mengharap keuntungan harta; apabila diberi bagian dunia ia menepati janji, namun jika tidak diberi ia segera berkhianat. Wallahu a'lam.
Tags:
Padang Mahsyar Naungan Allah Amalan Hari Kiamat

Komentar Pengguna