Keboncinta.com-- Menghadapi anak yang berusaha mencari alasan ketika melakukan kesalahan tentu menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua. Kebiasaan mengelak atau “ngeles” biasanya muncul ketika anak merasa takut dimarahi, mendapat hukuman, atau mengecewakan orang tuanya.
Padahal, melakukan kesalahan merupakan bagian dari proses tumbuh dan belajar. Hal yang jauh lebih penting adalah bagaimana anak memahami kesalahannya, berani mengakuinya, serta belajar memperbaiki apa yang telah dilakukan.
Karena itu, orang tua perlu membantu anak memahami arti tanggung jawab tanpa membuat mereka merasa tertekan. Ada beberapa cara yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Sebelum langsung memarahi anak karena memberikan alasan, orang tua sebaiknya mencari tahu penyebab di balik perilaku tersebut. Bisa jadi anak sebenarnya merasa takut terhadap reaksi orang tua atau khawatir akan mendapatkan hukuman.
Rasa cemas tersebut dapat membuat anak memilih untuk menghindari kenyataan dengan memberikan alasan atau menyalahkan keadaan. Dalam kondisi seperti ini, orang tua perlu mencoba memahami perasaan anak terlebih dahulu.
Ajak anak berbicara dengan tenang mengenai apa yang terjadi. Dengan mengetahui sumber ketakutannya, orang tua akan lebih mudah membantu anak menghadapi kesalahan tanpa harus berusaha menutupinya.
Anak banyak belajar melalui apa yang mereka lihat dari orang-orang terdekat, terutama orang tua. Karena itu, mengajarkan tanggung jawab tidak cukup hanya melalui nasihat, tetapi juga perlu ditunjukkan lewat tindakan nyata.
Ketika orang tua melakukan kesalahan, jangan ragu untuk mengakuinya. Sampaikan kepada anak bahwa kesalahan memang dapat terjadi dan setiap orang perlu berani memperbaikinya.
Misalnya, ketika orang tua keliru dalam menjalankan pekerjaan atau melakukan sesuatu di rumah, tunjukkan bagaimana cara mengakui kesalahan dan menerima akibat dari tindakan tersebut.
Kebiasaan sederhana ini dapat menjadi contoh bagi anak bahwa mengakui kesalahan bukan sesuatu yang memalukan. Sebaliknya, kejujuran dan keberanian bertanggung jawab merupakan sikap yang patut dihargai.
Anak juga bisa menjadi suka mengelak karena merasa tidak memiliki ruang yang aman untuk menceritakan kesalahannya. Jika setiap kesalahan selalu dibalas dengan kemarahan, anak kemungkinan akan memilih menyembunyikan atau memutarbalikkan cerita.
Untuk mencegah hal tersebut, orang tua perlu membangun komunikasi yang terbuka di rumah. Berikan kesempatan kepada anak untuk menjelaskan kejadian dari sudut pandangnya tanpa langsung memotong pembicaraan.
Dengarkan apa yang mereka rasakan dan tanyakan alasan di balik tindakan tersebut. Setelah anak selesai berbicara, orang tua dapat menjelaskan bagian mana yang keliru serta apa yang sebaiknya dilakukan untuk memperbaikinya.
Ketika anak merasa didengar dan tidak langsung dihakimi, mereka akan lebih percaya diri untuk mengatakan hal yang sebenarnya. Dari sinilah sikap jujur dan bertanggung jawab dapat tumbuh secara perlahan.
Pada akhirnya, tujuan orang tua bukan sekadar membuat anak berhenti “ngeles”, tetapi membantu mereka memahami bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi. Dengan pendekatan yang tenang, teladan yang baik, dan komunikasi yang terbuka, anak dapat belajar menghadapi kesalahan dengan lebih jujur dan bertanggung jawab.***
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir