KebonCinta.com – Perkalian merupakan salah satu kemampuan dasar matematika yang perlu dipahami siswa sekolah dasar. Namun, tidak sedikit anak mengalami kesulitan ketika mulai mempelajari operasi hitung tersebut.
Sebagian siswa mampu menghafal hasil perkalian dua sampai sepuluh, tetapi belum memahami mengapa suatu perkalian menghasilkan angka tertentu.
Misalnya, anak mengetahui bahwa 3 × 4 = 12, tetapi kesulitan menjelaskan bagaimana angka 12 diperoleh.
Padahal, pemahaman konsep perkalian penting untuk membantu anak mempelajari pembagian, pecahan, serta operasi matematika yang lebih kompleks.
Salah satu pendekatan awal yang dapat digunakan adalah mengenalkan perkalian melalui penjumlahan berulang.
Dalam Panduan Mata Pelajaran Matematika Fase A hingga Fase F yang diterbitkan Kemendikdasmen pada 2025, pembelajaran operasi hitung diarahkan untuk melibatkan benda konkret, gambar, garis bilangan, dan berbagai strategi yang membantu siswa memahami konsep.
Pendekatan tersebut dapat diterapkan melalui kegiatan sederhana di kelas maupun di rumah.
Perkalian bilangan cacah dapat diperkenalkan melalui penjumlahan beberapa kelompok yang mempunyai jumlah anggota sama.
Misalnya, terdapat tiga kotak pensil. Setiap kotak berisi empat pensil.
Jumlah seluruh pensil dapat dihitung dengan cara:
4 + 4 + 4 = 12
Karena terdapat tiga kelompok yang masing-masing berisi empat pensil, penjumlahan tersebut dapat ditulis:
3 × 4 = 12
Dalam contoh ini, angka 3 menunjukkan banyaknya kelompok, sedangkan angka 4 menunjukkan banyaknya pensil pada setiap kelompok.
Penjelasan tersebut membantu anak memahami makna operasi perkalian.
Namun, perlu dijelaskan pula bahwa penjumlahan berulang merupakan salah satu cara mengenalkan perkalian bilangan cacah, bukan keseluruhan makna perkalian untuk semua jenis bilangan.
Pada pembelajaran berikutnya, siswa juga akan mengenal perkalian melalui susunan persegi panjang, pola, sifat operasi, dan hubungan antarkonsep.
Guru dan orang tua dapat menggunakan benda sederhana untuk menjelaskan perkalian.
Misalnya, kancing, tutup botol, pensil, penghapus, atau stik es krim.
Siapkan dua kelompok benda yang masing-masing berisi tiga kancing.
Ajak anak menghitung jumlah pada setiap kelompok.
Kelompok pertama berisi tiga kancing.
Kelompok kedua juga berisi tiga kancing.
Kemudian tanyakan jumlah seluruh kancing.
Anak dapat menghitung:
3 + 3 = 6
Setelah itu, jelaskan bahwa terdapat dua kelompok yang masing-masing berisi tiga kancing.
Situasi tersebut dapat dinyatakan sebagai:
2 × 3 = 6
Jangan terburu-buru meminta anak menghafal simbol perkalian sebelum ia memahami hubungan antara kelompok dan jumlah benda.
Setelah anak memahami benda konkret, guru dapat memperkenalkan gambar.
Misalnya, terdapat empat piring yang masing-masing berisi dua buah.
Anak dapat menggambar empat lingkaran besar sebagai piring, kemudian menambahkan dua gambar buah di setiap lingkaran.
Dari gambar tersebut, siswa dapat menuliskan:
2 + 2 + 2 + 2 = 8
Kemudian:
4 × 2 = 8
Kegiatan menggambar membantu anak menghubungkan benda nyata dengan simbol matematika.
Jika anak sudah terbiasa, gambar dapat disederhanakan menjadi titik, garis, atau kotak.
Perubahan dari benda nyata menuju gambar dan simbol perlu dilakukan bertahap sesuai kesiapan siswa.
Salah satu kesulitan yang sering muncul adalah anak belum mampu membedakan jumlah kelompok dengan isi setiap kelompok.
Misalnya, guru menuliskan 5 × 3.
Jika digunakan kesepakatan bahwa faktor pertama menunjukkan banyak kelompok, maka operasi tersebut berarti lima kelompok dengan tiga benda pada setiap kelompok.
Penjumlahan berulangnya adalah:
3 + 3 + 3 + 3 + 3 = 15
Sementara itu, 3 × 5 dapat digambarkan sebagai tiga kelompok yang masing-masing berisi lima benda.
Penjumlahannya:
5 + 5 + 5 = 15
Hasilnya sama karena perkalian bilangan mempunyai sifat komutatif.
Namun, representasi kelompok yang digunakan dalam pembelajaran awal dapat berbeda.
Guru sebaiknya menjelaskan hal tersebut secara konsisten agar siswa memahami konsep, bukan hanya mengikuti pola tulisan.
Garis bilangan dapat digunakan untuk menunjukkan perkalian sebagai lompatan berulang.
Misalnya, siswa ingin menyelesaikan 3 × 2.
Buat garis bilangan dari 0 sampai 6.
Kemudian lakukan tiga lompatan yang masing-masing bernilai dua satuan.
Lompatan pertama: 0 menuju 2.
Lompatan kedua: 2 menuju 4.
Lompatan ketiga: 4 menuju 6.
Dari kegiatan tersebut, anak dapat melihat bahwa:
2 + 2 + 2 = 6
Jadi:
3 × 2 = 6
Garis bilangan membantu siswa melihat pola pertambahan yang teratur.
Untuk anak yang baru belajar, gunakan angka kecil agar jumlah lompatan mudah diamati.
Baca Juga: 5 Cara Mudah Mengajarkan Angka dan Berhitung pada Anak Usia 5–6 Tahun
Contoh yang dekat dengan pengalaman anak dapat membantu pembelajaran terasa lebih bermakna.
Misalnya, seorang ibu membeli empat kantong jeruk.
Setiap kantong berisi lima jeruk.
Tanyakan kepada anak berapa jumlah seluruh jeruk.
Anak dapat menuliskan:
5 + 5 + 5 + 5 = 20
Kemudian mengubahnya menjadi:
4 × 5 = 20
Contoh lain dapat menggunakan jumlah kaki kursi, buku dalam beberapa rak, atau botol minum yang disusun dalam kelompok sama banyak.
Namun, pastikan benda yang digunakan benar-benar memiliki jumlah anggota kelompok yang sama.
Jika setiap kelompok mempunyai isi berbeda, masalah tersebut tidak dapat langsung dinyatakan sebagai perkalian sederhana tanpa penyesuaian.
Setelah memahami penjumlahan berulang, siswa dapat diperkenalkan dengan susunan baris dan kolom.
Misalnya, guru menggambar tiga baris titik dengan empat titik pada setiap baris.
Jumlah seluruh titik adalah 12.
Susunan tersebut dapat ditulis sebagai 3 × 4.
Kemudian ajak siswa melihat gambar dari arah berbeda.
Terdapat empat kolom, masing-masing berisi tiga titik.
Susunan yang sama dapat dinyatakan sebagai 4 × 3.
Melalui kegiatan ini, siswa dapat memahami bahwa:
3 × 4 = 4 × 3 = 12
Kedua operasi memiliki hasil sama.
Konsep tersebut dikenal sebagai sifat komutatif perkalian.
Menghafal tabel perkalian tetap bermanfaat setelah siswa memahami konsepnya.
Namun, hafalan sebaiknya tidak menjadi satu-satunya metode.
Jika anak lupa bahwa 6 × 3 = 18, ia dapat menggunakan strategi penjumlahan berulang atau memanfaatkan fakta perkalian yang sudah diketahui.
Misalnya:
5 × 3 = 15
Kemudian tambah satu kelompok berisi tiga.
15 + 3 = 18
Strategi tersebut menunjukkan bahwa anak dapat menggunakan pengetahuan sebelumnya untuk menemukan jawaban.
Guru dapat memberikan kesempatan kepada siswa menjelaskan cara berpikirnya, bukan sekadar menyatakan hasil akhir.
Berikut beberapa latihan sederhana.
Soal 1
Terdapat tiga keranjang. Setiap keranjang berisi dua apel. Berapa jumlah seluruh apel?
Pembahasan:
2 + 2 + 2 = 6
3 × 2 = 6
Jawaban: 6 apel.
Soal 2
Ada empat kotak. Setiap kotak berisi lima pensil. Berapa seluruh pensil?
Pembahasan:
5 + 5 + 5 + 5 = 20
4 × 5 = 20
Jawaban: 20 pensil.
Soal 3
Ubah penjumlahan berikut menjadi perkalian:
7 + 7 + 7
Pembahasan:
Terdapat tiga kelompok angka 7.
Jadi, 3 × 7 = 21.
Soal 4
Tuliskan penjumlahan berulang dari 5 × 2 menggunakan kesepakatan faktor pertama sebagai banyak kelompok.
Pembahasan:
2 + 2 + 2 + 2 + 2 = 10.
Soal 5
Sebuah kelas mempunyai tiga meja. Pada setiap meja terdapat empat buku. Berapa seluruh buku?
Pembahasan:
4 + 4 + 4 = 12
3 × 4 = 12
Jawaban: 12 buku.
Guru dapat menggunakan kartu angka untuk membuat permainan kelompok.
Misalnya, siswa mengambil dua kartu.
Kartu pertama menunjukkan banyak kelompok, sedangkan kartu kedua menunjukkan banyak benda pada setiap kelompok.
Jika memperoleh angka 3 dan 5, siswa diminta menyusun tiga kelompok berisi lima benda.
Setelah itu, mereka menuliskan penjumlahan berulang dan bentuk perkaliannya.
Permainan dapat dilakukan secara berpasangan agar siswa saling menjelaskan hasil.
Namun, hindari menjadikan kecepatan menjawab sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan.
Anak yang membutuhkan waktu lebih panjang tetap perlu mendapatkan kesempatan memahami prosesnya.
Untuk mengetahui apakah siswa sudah memahami konsep, guru dapat memberikan tugas tanpa langsung meminta hasil perkalian.
Misalnya, tampilkan gambar empat kelompok benda yang masing-masing berisi tiga.
Kemudian ajukan pertanyaan:
Berapa kelompok yang terlihat?
Berapa benda pada setiap kelompok?
Bagaimana bentuk penjumlahan berulangnya?
Bagaimana bentuk perkaliannya?
Jika siswa mampu menjelaskan keempat pertanyaan tersebut dengan tepat, guru memperoleh bukti yang lebih kuat mengenai pemahaman konsep.
Hasilnya dapat digunakan untuk menentukan apakah siswa siap mempelajari perkalian dengan bilangan lebih besar.
Baca Juga: Anak Malas Belajar Matematika? Hubungkan Angka dengan Hobi Mereka agar Logika Berjalan tanpa Paksaan
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir