6. Ibrah dari Dakwah Periode Makkah
Materi diakhiri dengan pembahasan nilai keteladanan yang dapat diterapkan, seperti kejujuran, kesabaran, keberanian, kebijaksanaan, dan sikap menghargai orang lain.
Kegiatan pembelajaran dapat dirancang menggunakan alur memahami, mengaplikasi, dan merefleksi.
1. Kegiatan Pendahuluan
Guru membuka pembelajaran dengan salam, doa, dan pemeriksaan kesiapan peserta didik.
Selanjutnya, guru menampilkan gambar atau ilustrasi Gua Hira dan memberikan pertanyaan mengenai awal kenabian Rasulullah saw.
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran serta menghubungkan materi dengan pengetahuan awal peserta didik.
2. Kegiatan Inti
Memahami
Menganalisis dan Mengaplikasi
Merefleksi
3. Kegiatan Penutup
Guru bersama peserta didik menyimpulkan materi dan memberikan penguatan terhadap fakta sejarah yang telah dibahas.
Selanjutnya, peserta didik menyampaikan refleksi singkat mengenai pengalaman belajar.
Guru memberikan umpan balik, menyampaikan tindak lanjut, dan menutup pembelajaran dengan doa.
Asesmen dapat digunakan untuk mengetahui kemampuan peserta didik dalam memahami fakta sejarah, menganalisis informasi, dan mengambil ibrah.
| Aspek | Teknik Penilaian | Contoh |
|---|---|---|
| Pengetahuan | Tes tertulis atau lisan | Menjelaskan tahapan dakwah Rasulullah saw. di Makkah |
| Keterampilan | Tugas kronologi dan presentasi | Menyusun garis waktu dan mempresentasikan hasil analisis sejarah |
| Sikap dan refleksi | Observasi dan refleksi | Menunjukkan sikap menghargai pendapat dan mengambil nilai keteladanan |
Guru dapat menggunakan rubrik untuk menilai ketepatan informasi sejarah, kemampuan menyusun kronologi, kualitas argumentasi, serta kemampuan menghubungkan peristiwa dengan kondisi masa kini.
Penilaian sikap sebaiknya didasarkan pada perilaku yang dapat diamati selama kegiatan pembelajaran.
Peserta didik yang telah mencapai tujuan pembelajaran dapat diberikan tugas pengayaan berupa pencarian informasi dari sumber sejarah tambahan mengenai tokoh-tokoh awal penerima Islam.
Sementara itu, peserta didik yang belum mencapai tujuan pembelajaran dapat memperoleh pendampingan melalui pembacaan ulang materi, penyusunan kronologi sederhana, dan diskusi terbimbing.
Guru dapat menggunakan pertanyaan berikut:
Refleksi digunakan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran SKI pada pertemuan selanjutnya.
Setelah modul ajar terkumpul, guru perlu menata dokumen berdasarkan tahun pelajaran, semester, kelas, dan materi yang pernah diajarkan.
Berikut langkah yang dapat dilakukan.
Periksa arsip perangkat pembelajaran yang tersimpan di komputer, laptop, penyimpanan digital, atau dokumen administrasi madrasah.
Pilih dokumen yang benar-benar pernah disusun atau digunakan dalam pembelajaran SKI.
Jika guru masih memiliki RPP dari kurikulum sebelumnya, dokumen tersebut juga dapat dipersiapkan sesuai periode dan ketentuan RPL yang berlaku.
Dokumen sebaiknya diurutkan berdasarkan riwayat pembelajaran.
Contoh pengelompokan:
| Tahun Pelajaran | Semester | Materi SKI | Dokumen |
|---|---|---|---|
| 2023/2024 | Ganjil | Masyarakat Arab sebelum Islam | RPP |
| 2023/2024 | Genap | Dakwah Rasulullah saw. periode Makkah | RPP |
| 2024/2025 | Ganjil | Dakwah Rasulullah saw. periode Madinah | Modul Ajar |
| 2024/2025 | Genap | Khulafaurasyidin | Modul Ajar |
| 2025/2026 | Ganjil | Daulah Umayyah | Modul Ajar |
| 2025/2026 | Genap | Daulah Abbasiyah | Modul Ajar |
Tabel tersebut hanya contoh pengarsipan. Guru perlu mengisinya berdasarkan dokumen yang benar-benar dimiliki dan materi yang pernah diajarkan.
Jika dokumen menggunakan kurikulum periode sebelumnya, pertahankan identitas dan acuan aslinya.
Untuk perangkat yang disusun berdasarkan kurikulum madrasah terbaru, periksa kembali CP SKI berdasarkan SK Dirjen Pendis Nomor 9941 Tahun 2025 dan implementasi KMA Nomor 1503 Tahun 2025.
Modul ajar SKI sebaiknya tidak hanya berisi kegiatan membaca dan menghafal.
Jika tujuan pembelajaran menekankan kemampuan analisis sejarah, kegiatan perlu memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mencari sumber, membandingkan informasi, menyusun kronologi, dan menyampaikan hasil analisis.
Jika tujuan pembelajaran menekankan pengambilan ibrah, kegiatan refleksi perlu disediakan agar peserta didik dapat menghubungkan nilai sejarah dengan kehidupan masa kini.
Dokumen dapat disimpan dalam format PDF apabila diminta oleh LPTK.
Contoh struktur folder:
RPL PPG SKI
Susunan tersebut merupakan rekomendasi pengarsipan, bukan format folder wajib nasional.
Baca Juga: Perangkat Pembelajaran untuk RPL PPG Kemenag 2026: Prota, Promes, RPP, Modul Ajar hingga LKPD
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar dokumen yang dikumpulkan tetap relevan dan mudah diperiksa.
Pertama, menggunakan CP yang tidak sesuai dengan jenjang atau fase. Guru perlu memastikan perangkat mengacu pada CP SKI MI, MTs, atau MA sesuai satuan pendidikan.
Kedua, pembelajaran hanya berorientasi pada hafalan kronologi. SKI juga menuntut kemampuan menganalisis informasi, memahami konteks, dan mengambil ibrah dari peristiwa sejarah.
Ketiga, menggunakan sumber sejarah yang tidak jelas. Informasi mengenai tokoh, tanggal, tempat, dan peristiwa perlu diperiksa melalui sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.
Keempat, tidak menghubungkan tujuan dengan aktivitas pembelajaran. Jika tujuan pembelajaran meminta peserta didik menganalisis peristiwa sejarah, kegiatan sebaiknya melibatkan penelusuran sumber dan diskusi, bukan hanya mendengarkan ceramah.
Kelima, tidak menyediakan kegiatan refleksi. Nilai keteladanan dan ibrah merupakan bagian penting dari karakteristik mata pelajaran SKI.
Keenam, mengubah dokumen lama agar terlihat mengikuti kurikulum terbaru. Dokumen historis harus tetap menggambarkan perangkat yang benar-benar digunakan pada periode tersebut.
Penilaian akhir mengenai kelayakan modul ajar sebagai dokumen RPL tetap menjadi kewenangan LPTK berdasarkan instrumen dan rubrik yang berlaku.
Persiapan modul ajar SKI untuk RPL PPG Kemenag 2026 perlu memperhatikan kesesuaian kurikulum, kelengkapan perencanaan, dan keterkaitan antara peristiwa sejarah dengan kehidupan peserta didik.
Melalui SK Dirjen Pendidikan Islam Nomor 9941 Tahun 2025, pembelajaran SKI diarahkan untuk mengembangkan pemahaman konsep sekaligus keterampilan proses sejarah. Peserta didik diharapkan mampu mengamati, mencari sumber, menganalisis informasi, menyimpulkan, mengomunikasikan hasil, dan mengambil ibrah dari peristiwa yang dipelajari.
Oleh karena itu, guru perlu merancang pembelajaran yang tidak hanya mengutamakan hafalan tokoh dan kronologi, tetapi juga memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk memahami konteks sejarah serta meneladani nilai positif dari perjalanan peradaban Islam.
Untuk kebutuhan RPL, guru sebaiknya menggunakan dokumen yang autentik, mengelompokkannya berdasarkan periode mengajar, dan memeriksa kesesuaiannya dengan petunjuk LPTK.
Dengan penataan yang baik, modul ajar dapat menjadi bukti kemampuan profesional guru SKI dalam merencanakan pembelajaran sejarah yang kritis, bermakna, dan berorientasi pada pembentukan karakter.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir