KebonCinta.com – Kemampuan membaca kitab merupakan salah satu keterampilan yang dikembangkan dalam pendidikan pesantren. Melalui kegiatan tersebut, santri mempelajari teks keagamaan sekaligus membiasakan diri memahami kosakata, struktur bahasa, dan isi pembahasan.
Namun, tidak semua santri yang baru masuk pesantren mempunyai kemampuan membaca teks Arab pada tingkat yang sama.
Sebagian telah terbiasa membaca Al-Qur'an dan mengenal kosakata Arab, tetapi belum memahami struktur kalimat dalam kitab.
Sebagian lainnya masih membutuhkan bantuan dalam mengenali harakat, membaca kata yang bersambung, atau membedakan bentuk kata.
Karena itu, program membaca kitab untuk santri pemula perlu dirancang secara bertahap.
Tujuannya bukan langsung menuntaskan kitab yang tebal, melainkan membangun kebiasaan membaca dan menunjukkan perkembangan kemampuan yang dapat diamati.
Kegiatan membaca yang dilakukan secara konsisten memberi kesempatan kepada santri untuk mengulang, memperbaiki kesalahan, serta memperoleh umpan balik dari guru.
Tanpa jadwal dan target yang jelas, kegiatan mengaji berisiko hanya menekankan jumlah halaman yang selesai.
Padahal, santri dapat saja mengikuti bacaan guru tanpa mampu membacanya kembali secara mandiri.
Program pembiasaan membantu pesantren menentukan kemampuan awal, materi yang sesuai, dan cara mencatat kemajuan setiap peserta.
Dalam Peraturan Menteri Agama Nomor 31 Tahun 2020 tentang Pendidikan Pesantren, metode sorogan dan bandongan disebut sebagai bagian dari penyelenggaraan pengkajian kitab kuning pada konteks pendidikan pesantren yang diatur.
Keduanya dapat menjadi dasar pendekatan pembelajaran, dengan penyesuaian menurut tradisi dan kebutuhan masing-masing pesantren.
Sebelum program dimulai, ustaz atau pendamping perlu mengetahui kemampuan santri.
Pemetaan dapat dilakukan melalui kegiatan membaca teks pendek.
Misalnya, santri diminta membaca beberapa kalimat dari kitab dasar berharakat.
Guru mengamati kemampuan mengenali huruf, kelancaran pengucapan, ketepatan harakat, serta pemahaman arti sederhana.
Jika diperlukan, santri dapat dikelompokkan menjadi beberapa tingkat.
Tingkat awal: Masih membutuhkan bantuan untuk membaca kata dan kalimat.
Tingkat berkembang: Sudah mampu membaca kalimat pendek, tetapi sering keliru dan belum memahami makna.
Tingkat mandiri awal: Dapat membaca teks sederhana serta menjelaskan sebagian maknanya.
Pengelompokan tersebut hanyalah contoh operasional.
Tujuannya adalah memberikan bantuan yang sesuai, bukan memberi label negatif kepada santri.
Pesantren perlu memilih kitab berdasarkan tujuan pembelajaran.
Untuk pemula, bahan bacaan sebaiknya tidak terlalu panjang dan menggunakan bahasa yang dapat dipelajari secara bertahap.
Misalnya, materi mengenai adab belajar, ibadah sehari-hari, atau akhlak.
Jika santri belum siap membaca kitab gundul, guru dapat memulai dari teks berharakat.
Kemudian, secara bertahap, santri dikenalkan dengan bentuk tulisan yang menuntut pemahaman nahwu dan sharaf.
Pemilihan kitab juga perlu memperhatikan apakah guru mampu memberikan penjelasan yang memadai.
Jangan menetapkan kitab yang terlalu sulit hanya karena digunakan oleh kelompok santri tingkat lanjut.
Program pembiasaan perlu mempunyai tujuan yang dapat diamati.
Sebagai contoh, setelah delapan minggu, santri diharapkan mampu:
Target tersebut harus disesuaikan dengan hasil pemetaan awal.
Santri yang masih memerlukan bantuan membaca huruf tidak sebaiknya langsung diberi target memahami teks tanpa harakat yang kompleks.
Kegiatan dapat dilakukan dalam sesi singkat, misalnya sekitar 20–25 menit, beberapa kali dalam satu minggu.
Berikut contoh alur kegiatan.
| Durasi | Kegiatan |
|---|---|
| 3 menit | Mengulang kosakata sebelumnya |
| 5 menit | Guru memberi contoh bacaan |
| 7 menit | Santri membaca bergiliran atau berpasangan |
| 5 menit | Membahas arti dan koreksi |
| 5 menit | Latihan ulang dan catatan kemajuan |
Jadwal tersebut merupakan contoh, bukan ketentuan nasional.
Pesantren dapat menyesuaikan waktu dengan pengajian, kegiatan sekolah, istirahat, dan kebutuhan santri.
Sesi singkat yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi pilihan daripada kegiatan panjang yang membuat pemula terlalu kelelahan.
Pada kegiatan bandongan, ustaz membaca bagian kitab dan menjelaskan maknanya kepada kelompok santri.
Santri menyimak, memberikan tanda pada bagian penting, serta mencatat kosakata.
Untuk pemula, guru dapat membatasi bacaan hanya beberapa kalimat.
Setelah memberi contoh, guru meminta santri mengulang bagian tertentu.
Jangan menganggap semua santri sudah memahami bacaan hanya karena mereka diam dan memperhatikan.
Sesekali mintalah peserta menunjukkan kata yang sedang dibahas atau menjelaskan arti sederhana.
Dengan demikian, guru memperoleh gambaran mengenai pemahaman peserta.
Sorogan memberikan kesempatan kepada santri membaca langsung di hadapan guru.
Melalui metode ini, ustaz dapat mendengarkan kesalahan secara individual.
Misalnya, santri keliru membaca harakat akhir atau belum tepat membedakan bentuk kata.
Guru dapat menunjukkan bagian yang salah, memberikan contoh, lalu meminta santri mengulanginya.
Namun, koreksi perlu diberikan dengan cara yang menjaga rasa percaya diri.
Hindari mempermalukan santri di depan teman-temannya.
Bagi kelompok besar, jadwal sorogan dapat dibuat bergiliran agar semua peserta memperoleh kesempatan.
Baca Juga: Mengenal Metode Sorogan dan Bandongan dalam Pendidikan Pesantren
Berikut rancangan sederhana yang dapat digunakan sebagai titik awal.
| Minggu | Fokus Pembiasaan |
|---|---|
| 1 | Pemetaan kemampuan dan pengenalan kitab |
| 2 | Latihan membaca kata serta kalimat berharakat |
| 3 | Pengenalan kosakata yang sering muncul |
| 4 | Membaca kalimat pendek dan menjelaskan makna |
| 5 | Mengenali struktur kalimat sederhana |
| 6 | Latihan membaca bagian teks lebih panjang |
| 7 | Sorogan mandiri dengan koreksi terbimbing |
| 8 | Evaluasi kemajuan dan penentuan target baru |
Rencana ini tidak berarti semua santri harus memperoleh kemampuan yang sama setelah delapan minggu.
Jika hasil evaluasi menunjukkan masih ada kesulitan, program dapat dilanjutkan pada tingkat sebelumnya.
Kemajuan individual perlu lebih diperhatikan daripada perlombaan menyelesaikan halaman.
Pengelola dapat menggunakan format berikut.
LEMBAR MONITORING MEMBACA KITAB
Nama santri: ....................................
Kelompok: ....................................
Nama kitab: ....................................
Ustaz pendamping: ....................................
Periode: ....................................
| Tanggal | Bagian Bacaan | Ketepatan | Pemahaman | Catatan Guru |
|---|---|---|---|---|
| 1 Nov | Paragraf 1 | Perlu bimbingan | Memahami 2 kosakata | Latih harakat |
| 4 Nov | Paragraf 1–2 | Berkembang | Memahami makna umum | Ulangi kalimat kedua |
| 7 Nov | Paragraf 2 | Cukup lancar | Dapat menjelaskan isi | Lanjut bertahap |
Data tersebut merupakan simulasi.
Guru perlu mengisi catatan sesuai kemampuan yang benar-benar terlihat.
Agar monitoring lebih konsisten, pesantren dapat menggunakan rubrik.
Contoh empat indikator yang dinilai adalah ketepatan bacaan, kelancaran, pemahaman kosakata, dan pemahaman isi.
Masing-masing dapat diberi skor 1–4.
Skor 1: Memerlukan bantuan intensif.
Skor 2: Mulai menunjukkan kemampuan tetapi masih sering dibimbing.
Skor 3: Mampu melaksanakan sebagian besar tugas dengan sedikit bantuan.
Skor 4: Mampu melaksanakan tugas secara mandiri pada teks yang dipelajari.
Jika terdapat empat indikator, skor total berada pada rentang 4–16.
Namun, penilaian ini merupakan contoh lokal dan belum menjadi instrumen baku yang tervalidasi.
Guru perlu menyamakan pemahaman terhadap rubrik agar penilaian antarpembimbing tidak terlalu berbeda.
Umpan balik sebaiknya menjelaskan kemampuan yang sudah terlihat dan bagian yang perlu diperbaiki.
Misalnya, daripada hanya menulis "bacaan kurang bagus", guru dapat memberikan catatan:
"Sudah lancar membaca kalimat pertama. Perlu mengulang kata pada kalimat ketiga dan memperhatikan harakat akhirnya."
Catatan tersebut membantu santri memahami langkah berikutnya.
Ustaz juga dapat memilih satu atau dua kesalahan utama untuk diperbaiki pada setiap pertemuan.
Terlalu banyak koreksi sekaligus berpotensi membuat santri pemula kebingungan.
Santri yang lebih lancar dapat membantu temannya berlatih membaca secara berpasangan.
Namun, pendamping sebaya bukan pengganti pemeriksaan guru.
Berikan petunjuk mengenai cara menyimak dan memberikan koreksi yang sopan.
Misalnya, pendamping menunjukkan bagian yang perlu diulang, bukan mengejek kesalahan bacaan.
Kegiatan ini juga dapat mengembangkan tanggung jawab dan kerja sama antarsantri.
Pastikan setiap peserta mempunyai kesempatan menjadi pembelajar aktif, bukan hanya mendengarkan teman.
Pada akhir program, guru dapat memberikan teks yang setara tingkat kesulitannya dengan bahan evaluasi awal.
Bandingkan kemampuan membaca berdasarkan indikator yang sama.
Apakah kesalahan sudah berkurang?
Apakah santri dapat membaca lebih mandiri?
Apakah pemahaman kosakatanya bertambah?
Perkembangan tersebut lebih bermakna daripada membandingkan satu santri dengan temannya.
Jika terdapat peserta yang memerlukan pendampingan tambahan, buat kegiatan penguatan.
Baca Juga: Sambut Hari Santri 2026, 86 Santri dari 15 Dayah di Aceh Ikuti Lomba Kitab Kuning dan Syarhil Quran
Setiap pesantren mempunyai tradisi keilmuan, jadwal, dan metode pembelajaran yang dapat berbeda.
Ada pesantren yang menekankan pemberian makna gandul, ada yang memadukan pembacaan dan diskusi, serta ada yang menggunakan bahan ajar bertingkat.
Program pembiasaan sebaiknya mengikuti kekhasan tersebut.
Namun, inti pembelajaran tetap perlu memperhatikan kemampuan santri, kejelasan target, dan kesempatan memperoleh bimbingan.
Pencatatan kemajuan tidak harus menggunakan aplikasi yang rumit. Buku monitoring atau spreadsheet sederhana sudah dapat membantu.
Melalui kegiatan membaca yang teratur, penggunaan sorogan dan bandongan secara proporsional, serta evaluasi yang memperhatikan perkembangan individual, santri pemula dapat membangun fondasi membaca kitab secara lebih bertahap.
Keberhasilan program tidak hanya terlihat dari banyaknya halaman yang selesai, tetapi juga dari meningkatnya ketepatan bacaan, pemahaman, dan kemandirian santri dalam mempelajari teks keagamaan.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir