Oleh : Agus Abdurrohim
Dakwah merupakan bagian penting dalam ajaran Islam. Ia bukan sekadar aktivitas menyampaikan ceramah di mimbar, tetapi proses mengajak manusia menuju kebaikan dan jalan Allah dengan cara yang benar. Namun dalam praktiknya, dakwah tidak cukup hanya bermodal semangat. Ia membutuhkan hikmah (kebijaksanaan) dan akhlak mulia.
Di era keterbukaan informasi saat ini, cara berdakwah sangat menentukan bagaimana Islam dipahami. Dakwah yang keras dan penuh celaan justru dapat menjauhkan orang dari kebenaran. Sebaliknya, dakwah yang lembut, bijak, dan berakhlak akan menyentuh hati serta membawa perubahan yang lebih mendalam.
Perintah Berdakwah dengan Hikmah
Allah SWT berfirman:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan debatlah mereka dengan cara yang paling baik.”
(QS. An-Nahl: 125)
Ayat ini menjadi landasan utama metode dakwah dalam Islam. Terdapat tiga pendekatan yang disebutkan:
Ini menunjukkan bahwa cara penyampaian sama pentingnya dengan isi pesan.
Makna Hikmah dalam Dakwah
Hikmah bukan sekadar pintar berbicara. Hikmah adalah kemampuan menempatkan sesuatu pada tempatnya. Dalam konteks dakwah, hikmah berarti:
Dakwah yang berhikmah mempertimbangkan aspek psikologis, sosial, dan budaya. Apa yang tepat disampaikan di satu tempat belum tentu tepat di tempat lain.
Akhlak Mulia sebagai Kunci Keberhasilan Dakwah
Rasulullah SAW adalah teladan utama dalam berdakwah. Keberhasilan beliau bukan hanya karena kebenaran risalah yang dibawa, tetapi juga karena keluhuran akhlaknya.
Allah berfirman:
“Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.”
(QS. Al-Qalam: 4)
Bahkan dalam ayat lain disebutkan bahwa kelembutan Rasulullah menjadi sebab orang-orang tetap berada di sekitarnya:
“Maka berkat rahmat dari Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.”
(QS. Ali Imran: 159)
Ayat ini menjadi pelajaran besar: kekerasan dan sikap kasar hanya akan menjauhkan manusia dari dakwah.
Tantangan Dakwah di Era Digital
Media sosial membuka ruang dakwah yang sangat luas. Namun, ia juga menghadirkan tantangan besar. Dakwah sering berubah menjadi ajang saling menyalahkan, mempermalukan, bahkan menyerang pribadi.
Beberapa tantangan yang sering muncul:
Dalam kondisi ini, dakwah dengan hikmah dan akhlak mulia menjadi semakin penting. Seorang da’i harus mampu menahan emosi, menjaga lisan (atau tulisan), serta memastikan pesan yang disampaikan membawa maslahat.
Prinsip-Prinsip Dakwah yang Bijak
Agar dakwah tetap berada di jalur hikmah dan akhlak mulia, ada beberapa prinsip yang perlu dijaga:
Dakwah bukan untuk popularitas, tetapi untuk mencari ridha Allah.
Tujuan dakwah adalah menyelamatkan, bukan menghakimi.
Rendah hati membuka pintu dialog.
Dakwah harus memberi harapan dan jalan keluar.
Akhlak adalah dakwah yang paling kuat.
Dakwah melalui Keteladanan
Sering kali, dakwah yang paling efektif bukan melalui kata-kata, tetapi melalui perilaku. Kejujuran dalam bekerja, kesabaran dalam menghadapi masalah, dan kepedulian terhadap sesama adalah bentuk dakwah yang nyata.
Banyak orang tertarik kepada Islam bukan karena perdebatan teologis, tetapi karena melihat akhlak seorang Muslim yang baik. Inilah yang disebut sebagai dakwah bil hal — dakwah melalui tindakan.
Penutup
Dakwah adalah amanah mulia yang harus dijalankan dengan cara yang mulia pula.