Khazanah
M. Fadhli Dzil Ikram

Dari Sekutu Berubah Jadi Musuh: Peran Bangsa Rum atau Bani Ashfar dalam Nubuat Hari Kiamat

Dari Sekutu Berubah Jadi Musuh: Peran Bangsa Rum atau Bani Ashfar dalam Nubuat Hari Kiamat

04 November 2026 | 08:54

Keboncinta.com — Menjelang hari kiamat, umat Islam di akhir zaman akan menghadapi berbagai fase peristiwa besar, mulai dari gejolak geopolitik global hingga peperangan dahsyat. Salah satu entitas penting yang sering disinggung dalam nubuat akhir zaman adalah bangsa Rum (Romawi) atau yang dalam literatur hadits kerap pula dijuluki sebagai Bani Ashfar (kaum berkulit kemerahan).

Keberadaan bangsa Romawi ini sejatinya telah diabadikan di dalam Al-Qur'an, tepatnya pada awal Surat Ar-Rum ayat 1–6:

الۤمۤ ۝ غُلِبَتِ الرُّومُ ۝ فِي أَدْنَى الْأَرْضِ وَهُمْ مِنْ بَعْدِ غَلَبِهِمْ سَيَغْلِبُونَ ۝ فِي بِضْعِ سِنِينَ لِلَّهِ الْأَمْرُ مِنْ قَبْلُ وَمِنْ بَعْدُ وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ ۝ بِنَصْرِ اللَّهِ يَنْصُرُ مَنْ يَشَاءُ وَوَهُوَ الْعَزيزُ الرَّحِيمُ

Artinya: "Alif Lām Mīm. Bangsa Romawi telah dikalahkan, di negeri yang terdekat dan mereka setelah kekalahannya itu akan menang dalam beberapa tahun (lagi). Milik Allahlah urusan sebelum dan setelah (mereka menang). Pada hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang mukmin karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang Dia kehendaki. Dia Mahaperkasa lagi Maha Penyayang." (QS. Ar-Rum: 1–6).

Namun, dinamika hubungan antara umat Islam dan bangsa Rum di akhir zaman tidak berhenti pada kisah masa lalu tersebut. Berdasarkan risalah yang disusun dalam buku Isa dan Al-Mahdi di Akhir Zaman karya Muslih Abdul Karim, fase akhir zaman mencatat adanya perubahan drastis di mana bangsa Rum yang semula bertindak sebagai sekutu justru berbalik menjadi pengkhianat perjanjian damai.

Baca Juga: Tak Harus ke Masjid, Ini 5 Cara Melakukan Sedekah Subuh di Rumah 

Kronologi Persekutuan hingga Pengkhianatan Bangsa Rum

Dalam eskatologi Islam, kemunculan Imam Mahdi serta kedatangan Nabi Isa AS di akhir zaman diiringi oleh rangkaian pertempuran besar melawan kekuatan global. Hubungan antara umat Islam dan bangsa Rum digambarkan melalui beberapa fase krusial:

  1. Fase Perjanjian Damai dan Aliansi Bersama: Sebelum terjadinya huru-hara besar, umat Islam dan bangsa Romawi dikabarkan akan mengadakan perjanjian damai (shulhan amanah). Kedua belah pihak bahkan sempat bersekutu untuk menghadapi musuh bersama.
  2. Pengerahan Pasukan Besar-Besaran (Bani Ashfar): Sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari sahabat Mu'adz bin Jabal RA mengisyaratkan datangnya kekuatan besar dari Bani Ashfar:

    "Kemudian Bani Ashfar datang kepada kalian di bawah 80 bendera di mana setiap benderanya menghimpun 12 ribu pasukan." (HR. Bukhari).

  3. Pemicu Pengkhianatan di Padang Dzi Tulul: Berdasarkan riwayat dalam kitab Misykah Al-Mashabih, pengkhianatan bermula ketika pasukan gabungan memenangkan pertempuran dan beristirahat di sebuah padang rumput bernama Dzi Tulul. Di tempat tersebut, seorang lelaki dari kalangan Romawi tiba-tiba maju ke depan sambil mengangkat salib dan menyerukan, "Ingatlah, salib telah menang!" Mendengar provokasi yang melanggar kesepakatan damai tersebut, seorang muslim yang murka mendekati lalu memukul dan membunuh sang pengibar salib. Peristiwa inilah yang menjadi titik balik pecahnya pengkhianatan, di mana bangsa Romawi segera memobilisasi pasukan besar-besaran untuk memerangi umat Islam.
  4. Pertempuran Dahsyat di Al-Ghauthah (Damaskus): Puncak konfrontasi militer ini akan berpusat di wilayah Syam. Sahabat Abu Darda RA meriwayatkan bahwa perkemahan utama pasukan umat Islam dalam pertempuran dahsyat tersebut terletak di Al-Ghauthah, sebuah kawasan strategis di dekat kota Damaskus, Suriah. Umpan balik dari perang ini menuntut keteguhan iman yang luar biasa hingga banyak di antara pejuang Islam yang meraih kemuliaan syahid.

Latar Belakang Historis: Tafsir Surat Ar-Rum dan Kemenangan Romawi

Jika nubuat di atas berbicara mengenai masa depan akhir zaman, Al-Qur'an merekam kisah masa lalu bangsa Romawi (Byzantium) ketika menghadapi Kekaisaran Persia (Sasaniyah).

Menurut Tafsir Ibnu Katsir dan kajian dalam buku Ghulibat Ar-Rum Dzat Al-Qurun karya Mansur Abdul Hakim, pada masa awal dakwah Islam di Makkah ketika kaum muslimin masih dalam posisi tertindas, meletuslah perang terbuka antara Romawi (yang beragama Kristen sebagai Ahli Kitab) melawan Persia (pemuja api/Majusi).

Kaum musyrikin Makkah memihak kepada bangsa Persia karena kesamaan akidah paganisme mereka, sementara Rasulullah SAW dan para sahabat berharap kemenangan diraih oleh bangsa Romawi karena kedekatan keimanan mereka terhadap Kitab Suci.

Pada fase awal, bangsa Persia di bawah Raja Kisra sukses besar memukul mundur pasukan Romawi, merebut wilayah Syam, Mesir, Yerusalem, hingga merampas The True Cross (Salib Sejati). Kekalahan ini sempat membuat kaum musyrik bersorak gembira. Namun, sesuai dengan janji Allah SWT dalam Surat Ar-Rum ayat 1–6, beberapa tahun kemudian Kaisar Heraklius bangkit memimpin balik bala tentara Romawi, merebut kembali wilayah-wilayah yang hilang, dan mengalahkan Persia—sebuah kemenangan yang disambut penuh suka cita oleh kaum mukminin di Madinah.

Kini, siklus sejarah dan nubuat kenabian memperlihatkan bahwa bangsa Rum yang dahulu pernah bersimpati kepada nilai-nilai ketuhanan melalui Ahli Kitab, di akhir zaman justru diuji dengan ujian pengkhianatan besar terhadap umat Islam sebelum akhirnya tatanan dunia menyambut kemunculan pemimpin yang adil, Imam Mahdi. Wallahu a'lam.

Tags:
Bangsa Rum Akhir Zaman Imam Mahdi

Komentar Pengguna