Keboncinta.com — Menggunakan Wi-Fi publik sering menjadi pilihan praktis ketika berada di tempat umum, seperti kafe, hotel, bandara, pusat perbelanjaan, hingga fasilitas umum lainnya. Pengguna bisa mengakses internet tanpa harus menghabiskan kuota data seluler.
Namun, di balik kemudahannya, jaringan Wi-Fi publik juga memiliki risiko keamanan yang perlu diperhatikan. Pengguna umumnya tidak mengetahui siapa saja yang mengelola jaringan tersebut, perangkat apa yang terhubung, maupun bagaimana sistem keamanannya dikonfigurasi.
Salah satu potensi ancaman yang perlu diwaspadai berkaitan dengan Domain Name System (DNS). Teknologi ini berfungsi menerjemahkan nama domain, seperti alamat situs web, menjadi alamat IP yang dapat dikenali oleh perangkat ketika mengakses internet.
Ketika berada di rumah atau kantor, pengguna biasanya mengandalkan DNS dari penyedia layanan internet atau Internet Service Provider (ISP). Sementara itu, jaringan Wi-Fi publik dapat menggunakan server DNS yang ditentukan oleh pengelolanya.
Jika konfigurasi DNS tidak aman atau telah disusupi pihak tertentu, pengguna berpotensi menghadapi ancaman DNS spoofing.
Seperti dilansir Make Use Of, Minggu (4/10/2026), DNS yang dikonfigurasi secara buruk dapat membuka peluang terjadinya pengalihan koneksi ke situs web palsu.
Sebagai contoh, seseorang mengetik alamat situs resmi untuk masuk ke akun perbankan atau layanan digital. Namun, akibat manipulasi DNS, permintaan tersebut justru diarahkan ke halaman tiruan yang dibuat menyerupai situs aslinya.
Jika tidak teliti, pengguna bisa memasukkan nama pengguna, kata sandi, atau informasi pribadi ke halaman palsu tersebut. Data yang dimasukkan kemudian berpotensi dicuri oleh pelaku kejahatan siber.
Baca Juga: Pemprov Jabar Sediakan Wifi Publik Gratis di 25 Titik Strategis Jawa Barat
Salah satu cara untuk menambah perlindungan ketika menggunakan jaringan Wi-Fi publik adalah mengaktifkan fitur Private DNS di Android.
Fitur ini memungkinkan pengguna menentukan penyedia DNS sendiri, sehingga permintaan penerjemahan nama domain tidak harus selalu mengikuti server DNS yang disediakan oleh jaringan Wi-Fi.
Private DNS pada Android menggunakan protokol DNS-over-TLS (DoT). Teknologi tersebut mengenkripsi komunikasi antara perangkat dan penyedia DNS melalui protokol TLS.
Dengan adanya enkripsi, pihak lain yang berada di jaringan yang sama akan lebih sulit mengintip atau memanipulasi permintaan DNS yang dikirimkan perangkat.
Keunggulan lainnya, pengaturan Private DNS dapat dilakukan satu kali dan digunakan secara otomatis ketika smartphone terhubung ke jaringan yang mendukung koneksi tersebut.
Artinya, pengguna tidak perlu mengatur ulang server DNS setiap kali berpindah dari satu jaringan Wi-Fi ke jaringan lainnya.
Meski begitu, perlu dipahami bahwa Private DNS bukanlah perlindungan menyeluruh terhadap semua ancaman internet. Fitur ini hanya mengamankan proses komunikasi DNS, bukan mengenkripsi seluruh lalu lintas data dari perangkat.
Sebelum mengaktifkan fitur Private DNS, pengguna perlu menentukan penyedia DNS yang akan digunakan. Setiap layanan memiliki karakteristik dan keunggulan berbeda.
Berikut beberapa pilihan yang dapat dipertimbangkan.
Google Public DNS merupakan layanan DNS publik yang dapat digunakan secara gratis. Layanan ini cocok bagi pengguna yang menginginkan alternatif DNS dengan infrastruktur luas dan dukungan keamanan.
Hostname untuk Private DNS Android:
dns.google
Cloudflare menyediakan layanan DNS publik yang dikenal dengan fokus pada kecepatan dan privasi pengguna.
Layanan ini dapat menjadi pilihan bagi pengguna yang menginginkan alternatif DNS untuk penggunaan internet sehari-hari.
Hostname:
one.one.one.one
AdGuard DNS menawarkan kemampuan pemblokiran iklan dan pelacak pada tingkat DNS. Fitur ini membantu mengurangi permintaan koneksi ke sejumlah domain yang masuk dalam daftar pemblokiran.
Layanan tersebut cocok bagi pengguna yang ingin menambahkan perlindungan terhadap iklan dan pelacak ketika menjelajahi internet.
Hostname:
dns.adguard-dns.com
Quad9 berfokus pada keamanan dengan membantu memblokir akses menuju domain yang diketahui berbahaya.
Layanan ini dapat menjadi pilihan bagi pengguna yang ingin menambahkan lapisan perlindungan terhadap situs yang berkaitan dengan aktivitas berbahaya.
Hostname:
dns.quad9.net
NextDNS menyediakan pengaturan yang lebih fleksibel. Pengguna dapat menentukan berbagai aturan penyaringan, termasuk pemblokiran pelacak, iklan, serta kategori situs tertentu.
Layanan ini cocok bagi pengguna yang ingin mengatur perlindungan internet sesuai kebutuhan pribadi.
Hostname:
(hostname khusus sesuai konfigurasi akun NextDNS)
Setelah menentukan penyedia DNS, pengguna bisa langsung mengaktifkannya melalui menu pengaturan smartphone.
Secara umum, langkah-langkahnya sebagai berikut:
Sebagai contoh, jika ingin menggunakan Google Public DNS, masukkan dns.google pada kolom hostname.
Perlu diketahui bahwa susunan menu dapat berbeda bergantung pada merek dan versi Android. Pada beberapa perangkat, menu Private DNS bisa ditemukan melalui kolom pencarian di halaman Pengaturan.
Selain itu, Android membutuhkan hostname penyedia DNS, bukan alamat IP berupa deretan angka seperti 8.8.8.8.
Setelah pengaturan disimpan, perangkat akan mencoba menggunakan penyedia DNS tersebut. Jika koneksi tidak dapat dilakukan, pengguna mungkin mengalami kesulitan mengakses internet sampai pengaturannya diperbaiki atau dikembalikan ke mode otomatis.
Baca Juga: Internet Tercepat di Dunia 2026, Ini 5 Negara dan Wilayah dengan Koneksi Paling Kencang
Mengaktifkan Private DNS merupakan langkah awal untuk meningkatkan keamanan ketika terhubung ke jaringan publik.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir