KebonCinta.com — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) membagikan pengalaman sejumlah guru yang berhasil mengembangkan metode pembelajaran setelah mengikuti program peningkatan kompetensi.
Salah satu pendidik yang mendapat perhatian adalah Yuanita Widyaningrum, guru SLB Negeri Pahlawan Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.
Pengalaman tersebut dipublikasikan Kemendikdasmen melalui siaran pers pada Senin, 2 November 2026, dengan fokus pada pengembangan pembelajaran mendalam, literasi teknologi, dan kesejahteraan psikologis tenaga pendidik.
GURU SLB INDRAMAYU IKUTI PELATIHAN AI
Yuanita merupakan salah satu guru yang mengikuti pelatihan Pembelajaran Mendalam serta Koding dan Kecerdasan Artifisial (PMKKA).
Pelatihan tersebut dilaksanakan berbasis Kelompok Kerja Guru (KKG) dan memberikan kesempatan bagi peserta untuk memperluas pengetahuan mengenai strategi pembelajaran.
Melalui kegiatan tersebut, Yuanita mendapatkan pemahaman baru tentang pola pikir bertumbuh atau growth mindset.
Pendekatan tersebut mendorong guru untuk terus mencari strategi yang sesuai ketika peserta didik menghadapi kesulitan dalam pembelajaran.
Bagi guru yang mendampingi anak berkebutuhan khusus, pemilihan metode pembelajaran menjadi bagian penting untuk memberikan kesempatan berkembang sesuai kemampuan masing-masing murid.
KEMBANGKAN KEGIATAN BELAJAR BERKARYA
Salah satu bentuk penerapan pengetahuan dari pelatihan tersebut adalah kegiatan BERKARYA.
Program ini merupakan aktivitas pembelajaran yang membimbing siswa kelas II SDLB untuk berkreasi dan menghasilkan karya sederhana.
Dalam pelaksanaannya, Yuanita juga mulai memanfaatkan Papan Interaktif Digital sebagai alat bantu pembelajaran.
Perangkat tersebut dapat menjadi media pendukung agar kegiatan belajar lebih menarik dan membantu penyampaian materi kepada peserta didik.
Berdasarkan keterangan yang disampaikan Kemendikdasmen, Yuanita melihat murid lebih bersemangat dan berani mencoba setelah pendekatan pembelajaran dikembangkan.
Namun, publikasi tersebut belum memuat hasil penelitian kuantitatif yang mengukur peningkatan kemampuan siswa. Perkembangan yang disampaikan merupakan pengalaman langsung guru dalam kegiatan belajar.
GURU SUKABUMI PERKUAT KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS
Selain pengalaman guru Indramayu, Kemendikdasmen membagikan kisah Mustika Nurdiati, guru IPA SMPIT Al-Khoiriyah Al-Husna, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.
Mustika mengikuti Program Prioritas Kesejahteraan Psikologis Guru yang memberikan pemahaman mengenai pentingnya menjaga kondisi psikologis pendidik dan peserta didik.
Salah satu materi yang dipelajari adalah reframing, yaitu mengubah cara pandang terhadap pengalaman negatif agar dapat direspons secara lebih konstruktif.
Mustika mencoba menerapkan pendekatan tersebut kepada siswa dengan mendorong mereka melihat kesulitan belajar sebagai tantangan yang masih dapat diatasi.
Menurut pengalamannya, pendekatan itu membantu murid lebih berani menghadapi kesulitan dan tidak mudah menyerah.
GURU JAKARTA MANFAATKAN RUMAH PENDIDIKAN
Contoh lainnya datang dari Wahyu Setiawan, guru mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) SMP Negeri 216 Jakarta.
Setelah mengikuti pelatihan Pembelajaran Mendalam dan Digitalisasi Pembelajaran, Wahyu mulai memadukan pendekatan pembelajaran mendalam dengan layanan Ruang Murid pada platform Rumah Pendidikan.
Penggunaan teknologi tersebut membantu guru mengembangkan kegiatan yang lebih interaktif dan memberikan pengalaman belajar yang berbeda bagi siswa.
Wahyu menyampaikan bahwa murid menunjukkan antusiasme lebih tinggi ketika mengikuti pembelajaran yang dikembangkan melalui pendekatan tersebut.
KEMENDIKDASMEN TEKANKAN PELATIHAN YANG BERDAMPAK
Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Nunuk Suryani, menekankan bahwa kegiatan peningkatan kompetensi perlu memberikan dampak nyata terhadap kualitas pembelajaran.
Menurutnya, pelatihan guru tidak seharusnya hanya berfokus pada penyampaian materi, tetapi juga membantu pendidik menerapkan pengetahuan dalam kegiatan belajar.
Kemendikdasmen terus mendorong berbagai program peningkatan kompetensi agar guru dapat menyesuaikan pendekatan pembelajaran dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan murid.
Peningkatan keterampilan mengajar juga perlu diimbangi dengan perhatian terhadap kesejahteraan psikologis dan kemampuan beradaptasi.
TEKNOLOGI MENJADI ALAT BANTU, BUKAN PENGGANTI GURU
Pemanfaatan kecerdasan artifisial dan perangkat digital dalam pendidikan tetap membutuhkan pendampingan guru.
Teknologi dapat membantu penyediaan materi, pengembangan media belajar, serta kegiatan pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik.
Namun, guru tetap bertanggung jawab memilih metode, membimbing proses belajar, dan memastikan materi yang digunakan sesuai dengan kemampuan serta kondisi murid.
Pengalaman Yuanita di Kabupaten Indramayu menunjukkan bahwa pengembangan kompetensi dapat membantu guru menemukan pendekatan baru dalam pendidikan khusus.
Informasi mengenai pelatihan dan pengembangan kompetensi dapat dipantau melalui situs https://www.kemendikdasmen.go.id dan layanan resmi Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir