KebonCinta.com - Kebiasaan membaca buku di China terus menunjukkan perkembangan. Meski harga buku di negara tersebut disebut tidak selalu murah, masyarakat memiliki akses terhadap berbagai potongan harga yang membuat buku relatif lebih terjangkau.
Director General Xinhua News Agency di Indonesia, Cao Kai, mengatakan harga buku bacaan di China sebenarnya tidak jauh berbeda dari negara lain dalam hal keterjangkauan. Namun, toko buku umumnya menawarkan potongan harga yang cukup besar.
Diskon yang diberikan dapat mencapai 30 hingga 50 persen. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang membantu masyarakat memperoleh buku dengan harga yang lebih rendah.
�9�3 Baca Juga: 65 Soal TKA Bahasa Inggris Kelas 12 2026, Lengkap dengan Bacaan dan Kunci Jawaban
Menurut Cao Kai, berdasarkan pengamatannya, harga buku di Indonesia justru relatif lebih mahal dibandingkan China. Ia memperkirakan harga buku di China dapat berada sekitar separuh hingga 20–30 persen dari harga buku yang ditemuinya di Indonesia.
Selain harga, ekosistem penerbitan di China juga didukung oleh pemerintah dan sektor swasta. Salah satu bentuk dukungan pemerintah datang melalui China's National Publication Foundation.
Lembaga tersebut telah memberikan dukungan kepada lebih dari 7.500 proyek penerbitan unggulan sejak 2007. Bantuan juga mencakup ratusan proyek penerbitan yang kemudian memperoleh penghargaan di tingkat nasional.
Minat Baca Masyarakat China Meningkat
Budaya membaca di China tercermin dari peningkatan kemampuan membaca masyarakatnya.
�9�3 Baca Juga: Anak Sulit Diajak Membaca? Ini 7 Cara Mudah Menumbuhkan Minat Baca Sejak Dini
Berdasarkan survei nasional yang diluncurkan Chinese Academy of Press and Publication, tingkat kemampuan membaca komprehensif orang dewasa di China pada 2025 mencapai 82,3 persen. Angka tersebut meningkat dibandingkan 82,1 persen pada 2024 dan 81,9 persen pada 2023.
Survei tersebut juga mencatat jumlah bacaan per kapita di China mencapai 8,39 eksemplar yang mencakup buku cetak dan buku elektronik. Sementara itu, produksi buku di China mencapai lebih dari 70 juta judul.
Meskipun penggunaan buku digital terus berkembang karena dianggap praktis, buku fisik masih memiliki peminat yang besar. Sebanyak 45,9 persen orang dewasa di China masih memilih membaca buku dalam bentuk cetak.
Pada 2023, orang dewasa di China rata-rata membaca 4,75 buku fisik dan 3,4 buku digital per orang. Sementara itu, anak-anak rata-rata membaca 11,39 buku dalam setahun.
Kebiasaan Membaca Dimulai dari Keluarga
Pertumbuhan budaya membaca di China juga tidak terlepas dari peran keluarga, terutama orangtua.
�9�3 Baca Juga: Bukan Dipaksa, Ini 6 Cara Membuat Anak Senang Membaca Buku Sejak Kecil
Cao Kai mencontohkan kebiasaan yang diterapkannya kepada anak sejak usia dini. Ia mulai membacakan buku untuk anaknya ketika berusia sekitar 1–2 tahun.
Ketika memasuki usia 3–4 tahun, anak mulai dapat membaca buku sendiri dengan bantuan pinyin, yakni sistem ejaan alfabet yang digunakan untuk membantu pelafalan bahasa Mandarin.
Pada usia sekitar 5–6 tahun, anak mulai mengenal sejumlah karakter Mandarin sederhana. Kemudian, ketika berusia 7–8 tahun, anak sudah mulai mampu membaca secara mandiri.
Kebiasaan tersebut membuat aktivitas membaca diperkenalkan sejak tahap awal perkembangan anak. Buku yang dibaca anak-anak China juga banyak berkaitan dengan cerita klasik yang sekaligus menjadi sarana mengenalkan budaya dan sejarah negaranya.
Membacakan buku sebelum tidur juga menjadi salah satu kebiasaan yang dilakukan sebagian keluarga di China.
Pemerintah China Dorong Budaya Membaca
Budaya membaca di China juga mendapat dukungan melalui kebijakan pemerintah.
Sejak akhir 2025, pemerintah China menetapkan kampanye untuk mendorong kebiasaan membaca yang mulai berlaku pada 1 Februari 2026.
Kebijakan tersebut diarahkan untuk meningkatkan kemampuan intelektual, moral, ilmiah, dan budaya masyarakat sekaligus memperkuat kesadaran sosial.
Pemerintah China juga menetapkan pekan keempat April setiap tahun sebagai pekan baca nasional.
Selain kegiatan membaca secara konvensional, pemerintah turut mendorong pemanfaatan teknologi informasi untuk meningkatkan minat baca masyarakat di berbagai wilayah.
Dengan demikian, perkembangan budaya membaca di China tidak hanya ditopang oleh ketersediaan buku dan kebiasaan keluarga, tetapi juga oleh dukungan industri penerbitan serta kebijakan pemerintah.
Kombinasi antara budaya membaca sejak usia dini, akses terhadap buku melalui potongan harga, dukungan penerbitan, dan kebijakan nasional menjadi bagian dari ekosistem literasi yang terus dikembangkan di China.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir