Berita
Hilmi An Naufal

Hari Santri 2026, PBNU Instruksikan Apel Serentak, Ziarah Ulama hingga Mujahadah untuk Palestina

Hari Santri 2026, PBNU Instruksikan Apel Serentak, Ziarah Ulama hingga Mujahadah untuk Palestina

04 Oktober 2026 | 20:55

JAKARTA — Pengurus Besar Nahdlatul Ulama resmi menerbitkan pedoman pelaksanaan Hari Santri Nasional 2026 yang akan diperingati pada 22 Oktober mendatang. Tahun ini PBNU mengangkat tema “Menguatkan Akar Tradisi, Menjaga Keutuhan Negeri”. Tema tersebut membawa pesan bahwa santri harus mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan tradisi keilmuan, adab dan nilai-nilai pesantren yang diwariskan para ulama. Pedoman pelaksanaan tertuang dalam Surat Edaran PBNU Nomor 3/PB.01/A.II.10.47/99/10/2026 tertanggal 1 Oktober 2026. Surat itu ditujukan kepada struktur Nahdlatul Ulama di berbagai tingkatan, mulai dari Pengurus Wilayah, Pengurus Cabang hingga Pengurus Cabang Istimewa di luar negeri. PBNU menegaskan bahwa peringatan Hari Santri tidak hanya diarahkan menjadi kegiatan seremonial. Rangkaian kegiatan diharapkan memberikan manfaat langsung kepada masyarakat sekaligus menjaga tradisi yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan pesantren. Salah satu agenda utama adalah pelaksanaan Apel Hari Santri secara serentak pada Kamis, 22 Oktober 2026. Apel dapat dilaksanakan di lingkungan kantor NU, pondok pesantren, madrasah, sekolah, perguruan tinggi maupun fasilitas lain yang berada di bawah lingkungan Nahdlatul Ulama. Dalam pedoman tersebut, peserta laki-laki diarahkan menggunakan sarung berwarna gelap, atasan putih serta peci hitam. Sementara peserta perempuan mengenakan pakaian muslimah bernuansa putih dengan bawahan yang menyesuaikan. Pembacaan naskah Resolusi Jihad NU juga dapat menjadi bagian dari rangkaian apel. Selain apel, PBNU meminta rangkaian Hari Santri dimulai dengan kegiatan ziarah ke makam para ulama, aulia maupun tokoh penggerak Nahdlatul Ulama di daerah masing-masing. Ziarah dipandang sebagai bentuk penghormatan kepada para ulama yang telah memberikan kontribusi dalam membangun pesantren, masyarakat dan perjuangan kebangsaan. Hari Santri tahun ini juga memiliki agenda khusus berupa Mujahadah Kemanusiaan untuk Palestina. PBNU meminta jajaran NU mengadakan istighotsah, pembacaan shalawat, zikir berjamaah maupun majelis doa sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan. PBNU menilai hubungan masyarakat Indonesia, khususnya kalangan pesantren dan Nahdlatul Ulama, dengan Palestina memiliki sejarah panjang. Solidaritas tersebut karena itu kembali dimasukkan sebagai salah satu bagian penting dalam peringatan Hari Santri. Tidak hanya kegiatan keagamaan, PBNU juga mendorong adanya pelayanan sosial. Kegiatan dapat berupa layanan kesehatan gratis, donor darah maupun pelayanan lain yang sesuai kebutuhan masyarakat di masing-masing wilayah.
Tags:
pendidikan

Komentar Pengguna