Keboncinta.com-- Belakangan ini, istilah ikigai semakin sering muncul di media sosial, podcast, hingga buku-buku pengembangan diri. Banyak orang membicarakannya sebagai rahasia hidup bahagia ala Jepang. Tidak sedikit pula yang mulai bertanya pada diri sendiri: “Apa tujuan hidupku?” atau “Apakah aku sudah menemukan ikigai-ku?” Di tengah arus konten motivasi yang terus bermunculan, menemukan tujuan hidup seolah menjadi sebuah kewajiban. Jika belum menemukannya, seseorang bisa merasa tertinggal, bingung, bahkan menganggap hidupnya kurang berarti dibanding orang lain yang tampak sudah memiliki arah yang jelas.
Padahal, konsep ikigai sebenarnya lebih sederhana daripada yang sering digambarkan. Dalam budaya Jepang, ikigai merujuk pada alasan seseorang untuk bangun di pagi hari, sesuatu yang membuat hidup terasa layak dijalani. Bagi sebagian orang, itu bisa berupa pekerjaan yang dicintai. Namun bagi yang lain, ikigai bisa hadir dalam bentuk yang jauh lebih sederhana: merawat tanaman, menikmati secangkir teh hangat, menghabiskan waktu bersama keluarga, atau menjalani hobi yang disukai. Masalahnya, ketika konsep ini diterjemahkan ke dalam budaya yang sangat menekankan pencapaian, ikigai sering berubah menjadi tekanan baru. Orang merasa harus menemukan satu tujuan besar yang akan menjelaskan seluruh hidupnya.
Di sinilah banyak kesalahpahaman terjadi. Tidak semua orang memiliki satu tujuan hidup yang jelas sejak muda. Bahkan banyak orang menemukan arah hidup mereka secara bertahap melalui pengalaman, kegagalan, pertemuan dengan orang-orang baru, dan perubahan situasi. Hidup bukan selalu tentang menemukan jawaban besar secepat mungkin. Terkadang, hidup justru berjalan melalui serangkaian langkah kecil yang baru terlihat maknanya setelah bertahun-tahun kemudian. Ketika terlalu fokus mencari tujuan besar, seseorang bisa lupa menikmati proses yang sedang dijalani saat ini. Akibatnya, yang muncul bukan semangat, melainkan kecemasan karena merasa belum menemukan apa yang dicari.