Keboncinta.com-- Banyak orang tertarik memulai journaling karena terdengar sederhana dan menenangkan. Cukup ambil buku, lalu tulis apa yang ada di kepala. Selesai. Tapi kenyataannya, tidak sedikit yang berhenti di minggu pertama. Alasannya beragam: bingung mau menulis apa, merasa tulisannya berantakan, atau justru merasa tidak ada perubahan apa-apa.
Padahal, journaling bukan soal bakat menulis. Ia lebih dekat dengan kebiasaan merawat diri. Supaya tidak berhenti di tengah jalan, ada beberapa hal mendasar yang perlu dipersiapkan, bukan dalam arti ribet, tetapi lebih pada kesiapan batin dan cara pandang.
Hal pertama yang sering terlewat adalah niat dan tujuan. Kamu perlu tahu, mengapa ingin mulai journaling? Apakah untuk mengelola emosi? Untuk lebih produktif? Untuk lebih mengenal diri? Tanpa alasan yang jelas, journaling mudah terasa seperti tugas tambahan, bukan kebutuhan. Saat tujuan sudah terasa personal, menulis tidak lagi menjadi beban, melainkan ruang rehat untuk diri.
Kemudian, lepaskan ekspektasi berlebihan. Banyak orang gagal konsisten karena ingin jurnalnya terlihat estetik seperti di media sosial. Padahal, journaling bukan lomba kaligrafi atau desain. Bahkan penelitian tentang expressive writing yang dipopulerkan oleh James W. Pennebaker menunjukkan bahwa manfaat menulis justru muncul dari kejujuran, bukan keindahan bahasa. Tulisan yang berantakan, penuh coretan, bahkan emosional, tetap punya nilai selama itu jujur.
Selain itu, penting juga menyiapkan ruang yang nyaman, bukan harus mewah, cukup kondusif. Bisa di sudut kamar, di meja kerja, atau bahkan di teras rumah saat sore hari. Otak manusia menyukai kebiasaan yang terasosiasi dengan tempat tertentu.