Parenting
Rahman Abdullah

Jangan Salah Sangka! Anak yang Terlalu Diam Bisa Jadi Sedang Menyimpan Masalah

Jangan Salah Sangka! Anak yang Terlalu Diam Bisa Jadi Sedang Menyimpan Masalah

10 Juni 2026 | 15:23

Keboncinta.com-- Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, banyak orang tua merasa lega ketika anak lebih memilih berada di rumah daripada menghabiskan waktu di luar. Apalagi jika mereka tampak tenang bermain gawai, menonton video, atau berselancar di internet tanpa menimbulkan masalah.

Namun, para ahli psikologi anak mengingatkan bahwa sikap tenang dan tidak banyak bicara belum tentu menjadi tanda bahwa kondisi anak benar-benar baik. Di balik perilaku yang tampak normal, bisa saja tersimpan tekanan emosional, kecemasan, atau masalah yang tidak pernah mereka ungkapkan kepada siapa pun.

Karena itu, orang tua perlu lebih peka terhadap perubahan perilaku anak agar dapat memberikan dukungan yang tepat sebelum masalah berkembang menjadi lebih serius.

Baca Juga: Jangan Salah Pilih! Ini Pembagian Wilayah Penempatan PPPK Sekolah Rakyat 2026 dari Aceh hingga Papua

Generasi Digital Menghadapi Tantangan yang Berbeda

Anak-anak masa kini tumbuh dalam lingkungan yang sangat berbeda dibanding generasi sebelumnya. Kehidupan mereka tidak lepas dari internet, media sosial, dan berbagai platform digital yang dapat diakses kapan saja.

Di satu sisi, teknologi memberikan banyak manfaat dalam proses belajar dan pengembangan diri. Namun di sisi lain, dunia digital juga menghadirkan berbagai tekanan yang tidak selalu terlihat oleh orang tua.

Mulai dari perundungan di dunia maya, tekanan untuk terlihat sempurna di media sosial, hingga rasa takut tertinggal dari teman-temannya dapat memengaruhi kondisi psikologis anak secara perlahan.

Tidak sedikit anak yang memilih memendam perasaan mereka karena merasa tidak ada yang benar-benar memahami apa yang sedang mereka alami.

Baca Juga: Banyak yang Belum Tahu! PPPK Sekolah Rakyat 2026 Wajib Siap Tinggal Dekat Asrama dan Kerja Sistem Shift

Perubahan Perilaku yang Perlu Diwaspadai

Psikolog anak menjelaskan bahwa masalah emosional sering muncul melalui perubahan perilaku yang tampak sederhana.

Beberapa tanda yang perlu mendapat perhatian antara lain:

  • Anak menjadi lebih pendiam dari biasanya.
  • Sering menghabiskan waktu sendirian di kamar.
  • Kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai.
  • Enggan berbicara atau berbagi cerita dengan orang tua.
  • Mudah marah atau lebih sensitif tanpa alasan yang jelas.

Meski tidak selalu menunjukkan adanya masalah serius, perubahan-perubahan tersebut layak diperhatikan agar orang tua dapat memahami kondisi anak lebih dini.

Jangan Hanya Bertanya Soal Sekolah dan Makanan

Banyak orang tua merasa telah berkomunikasi dengan baik karena setiap hari menanyakan kegiatan sekolah atau memastikan anak sudah makan.

Padahal, kebutuhan emosional anak memerlukan percakapan yang lebih mendalam daripada sekadar rutinitas harian.

  • Anak menjadi lebih pendiam dari biasanya.
  • Sering menghabiskan waktu sendirian di kamar.
  • Kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai.
  • Enggan berbicara atau berbagi cerita dengan orang tua.
  • Mudah marah atau lebih sensitif tanpa alasan yang jelas.

Meski tidak selalu menunjukkan adanya masalah serius, perubahan-perubahan tersebut layak diperhatikan agar orang tua dapat memahami kondisi anak lebih dini.

Baca Juga: Resmi Dibuka! Kemensos Buka 5.127 Formasi PPPK Sekolah Rakyat 2026, Usia Maksimal 45 Tahun Bisa Daftar

Jangan Hanya Bertanya Soal Sekolah dan Makanan

Banyak orang tua merasa telah berkomunikasi dengan baik karena setiap hari menanyakan kegiatan sekolah atau memastikan anak sudah makan.

Padahal, kebutuhan emosional anak memerlukan percakapan yang lebih mendalam daripada sekadar rutinitas harian.

Orang tua dapat mulai membangun komunikasi dengan pertanyaan sederhana seperti:

  • Apa hal paling menyenangkan yang kamu alami hari ini?
  • Apakah ada sesuatu yang membuatmu sedih atau kecewa?
  • Apa yang sedang kamu pikirkan akhir-akhir ini?
  • Adakah hal yang ingin kamu ceritakan tetapi belum sempat disampaikan?

Pertanyaan seperti ini dapat membantu anak merasa lebih dihargai dan memberi ruang bagi mereka untuk mengungkapkan perasaan yang selama ini dipendam.

Baca Juga: Penataan Honorer Segera Berakhir, Guru yang Masuk Dapodik 2024 Berpeluang Dapat Status ASN

Quality Time Tidak Harus Mahal

Kesibukan sehari-hari sering membuat anggota keluarga berada dalam satu rumah tetapi jarang benar-benar berinteraksi.

Tidak sedikit orang tua dan anak yang sama-sama sibuk dengan layar masing-masing sehingga komunikasi semakin berkurang.

Padahal, quality time tidak selalu berarti pergi berlibur atau menghabiskan biaya besar. Hal-hal sederhana justru sering memberikan dampak yang lebih besar, seperti:

  • Makan bersama tanpa gawai.
  • Bermain permainan sederhana di rumah.
  • Berjalan santai bersama keluarga.
  • Mendengarkan cerita anak sebelum tidur.
  • Mengobrol santai tanpa gangguan teknologi.

Momen-momen tersebut dapat memperkuat ikatan emosional dan membuat anak merasa lebih dekat dengan orang tuanya.

Baca Juga: Tidak Semua Guru Bisa Menerima! Ini 6 Syarat Wajib Penerima Insentif Guru PAI Non ASN 2026 Tahap 2

Anak Tidak Membutuhkan Orang Tua yang Sempurna

Salah satu anggapan yang sering muncul adalah orang tua harus selalu terlihat kuat, benar, dan sempurna di hadapan anak.

Padahal, yang sebenarnya dibutuhkan anak adalah kehadiran dan perhatian yang tulus.

Ketika orang tua mampu mendengarkan tanpa menghakimi, mengakui kesalahan, dan menunjukkan empati, anak akan belajar bahwa setiap orang memiliki kekurangan dan selalu bisa memperbaiki diri.

Hubungan yang hangat dan terbuka jauh lebih penting daripada kesan sempurna yang sulit dipertahankan.

Saat menghadapi masalah di sekolah, konflik pertemanan, atau kegagalan dalam mencapai sesuatu, anak membutuhkan tempat yang membuat mereka merasa aman.

Jika rumah dipenuhi kritik, kemarahan, atau tuntutan yang berlebihan, anak mungkin akan memilih menyimpan masalahnya sendiri atau mencari tempat lain untuk mencurahkan perasaan.

Sebaliknya, ketika rumah menjadi ruang yang penuh penerimaan, dukungan, dan kasih sayang, anak akan merasa nyaman untuk kembali dan berbagi apa pun yang mereka alami.

Pada akhirnya, tugas orang tua di era digital bukan hanya memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga menjaga kesehatan emosional anak. Sebab, anak yang tampak baik-baik saja belum tentu benar-benar sedang baik-baik saja.***

Tags:
Parenting Mendidik Anak

Komentar Pengguna