Mulailah dengan menjelaskan bahwa toilet merupakan tempat untuk buang air kecil dan besar.
Gunakan bahasa sederhana yang mudah dipahami.
Contohnya:
"Kalau mau pipis, nanti kita ke toilet, ya."
"Kalau ingin pup, bilang Ibu supaya bisa ke kamar mandi."
Orang tua juga dapat membacakan buku cerita bergambar tentang toilet training atau menggunakan boneka untuk memperagakan prosesnya.
Tujuannya adalah membuat anak mengenal toilet sebagai bagian dari aktivitas sehari-hari.
Sebagian anak merasa lebih nyaman menggunakan pispot khusus daripada toilet orang dewasa.
Pilih perlengkapan yang stabil, tidak mudah bergeser, dan mempunyai ukuran sesuai tubuh anak.
Jika menggunakan toilet orang dewasa, gunakan dudukan tambahan yang sesuai dan pijakan kaki agar anak tidak merasa takut terjatuh.
Posisi duduk yang nyaman juga membantu anak lebih rileks ketika belajar BAK atau BAB.
Pada tahap awal, ajak anak duduk di pispot satu kali sehari pada waktu yang relatif sama.
Misalnya, setelah bangun tidur, setelah makan, atau ketika mandi.
Tidak perlu menunggu anak langsung berhasil mengeluarkan urine atau feses.
Tujuan awalnya adalah membiasakan anak dengan posisi dan lingkungan toilet.
Jika anak menolak, jangan memaksanya duduk terlalu lama. Coba kembali pada kesempatan lain ketika suasana lebih nyaman.
Setiap anak dapat menunjukkan tanda yang berbeda ketika ingin BAK atau BAB.
Ada yang tiba-tiba diam, memegang celana, berjalan ke sudut ruangan, atau menunjukkan ekspresi tertentu.
Ketika melihat tanda tersebut, orang tua dapat mengingatkan anak untuk menggunakan toilet.
Gunakan kalimat sederhana dan konsisten agar anak semakin memahami hubungan antara sinyal tubuh dan kebutuhan pergi ke kamar mandi.
Ketika anak sudah mulai memahami penggunaan toilet dan menunjukkan kesiapan, orang tua dapat mencoba mengganti popok dengan celana biasa pada siang hari.
Celana yang mudah dilepas dan dikenakan kembali akan membantu anak berlatih secara mandiri.
Namun, orang tua tetap perlu menyiapkan pakaian pengganti karena kecelakaan kecil seperti mengompol masih dapat terjadi selama proses belajar.
Popok dapat tetap digunakan ketika tidur siang atau malam sampai anak menunjukkan kesiapan mengendalikan BAK pada periode tersebut.
Toilet training tidak berhenti setelah anak berhasil BAK atau BAB di toilet.
Anak juga perlu belajar menjaga kebersihan setelah buang air.
Tahapan yang dapat diajarkan meliputi:
Untuk anak perempuan, ajarkan cara membersihkan area genital dari arah depan ke belakang guna mengurangi risiko perpindahan bakteri dari anus ke saluran kemih.
Pada awalnya, orang tua tetap perlu membantu memastikan kebersihan anak terjaga.
Proses toilet training membutuhkan latihan berulang.
Ketika anak berhasil duduk di pispot, memberi tahu sebelum buang air, atau mencoba membersihkan diri, berikan apresiasi.
Contohnya:
"Bagus, kamu sudah memberi tahu Ibu ketika ingin pipis."
"Kamu sudah berani duduk di toilet sendiri."
Pujian sederhana membantu anak merasa dihargai dan lebih percaya diri untuk mencoba kembali.
Namun, hindari memberikan hukuman ketika anak mengompol atau tidak berhasil menggunakan toilet.
Toilet training memerlukan kerja sama seluruh orang yang terlibat dalam pengasuhan anak.
Jika anak diasuh oleh orang tua, kakek-nenek, atau pengasuh, sebaiknya gunakan cara dan istilah yang relatif sama.
Konsistensi membantu anak memahami kebiasaan yang sedang dipelajari.
Namun, konsisten bukan berarti harus memaksa anak mengikuti jadwal secara kaku. Jika anak sedang sakit, kelelahan, atau mengalami perubahan besar, latihan dapat disesuaikan sementara.
Meskipun bertujuan melatih kemandirian, beberapa pendekatan justru dapat membuat anak merasa takut atau tertekan.
Berikut kesalahan yang sebaiknya dihindari.
Usia bukan satu-satunya penentu kesiapan.
Jika anak belum mampu mengenali sinyal tubuh atau belum siap secara emosional, latihan yang terlalu dini dapat membuat proses menjadi lebih sulit.
Anak tidak perlu dipaksa duduk hingga berhasil buang air.
Jika merasa tidak nyaman, anak dapat semakin menolak toilet.
Buat latihan singkat dan menyenangkan agar anak tidak menganggap toilet sebagai tempat yang menakutkan.
Mengompol merupakan hal yang dapat terjadi selama proses belajar.
Memarahi atau mempermalukan anak tidak membantu kemampuan pengendalian kandung kemih berkembang lebih cepat.
Sebaliknya, bersihkan dengan tenang dan ajak anak mencoba kembali pada kesempatan berikutnya.
Hindari kalimat seperti, "Temanmu sudah tidak pakai popok, masa kamu belum?"
Setiap anak mempunyai kecepatan perkembangan yang berbeda.
Perbandingan dapat membuat anak merasa gagal dan kehilangan kepercayaan diri.
Kemampuan mengendalikan BAK pada siang dan malam hari tidak selalu berkembang bersamaan.
Sebagian anak sudah mampu menggunakan toilet ketika terjaga, tetapi masih mengompol saat tidur.
Hal tersebut dapat terjadi karena mekanisme pengendalian kandung kemih dan produksi urine saat malam hari masih berkembang.
Karena itu, jangan memaksakan anak berhenti menggunakan popok malam sebelum menunjukkan kesiapan.
Penolakan dapat terjadi ketika anak merasa takut, tidak nyaman, atau belum memahami proses yang sedang dipelajari.
Orang tua dapat mencoba beberapa pendekatan berikut:
Pertama, cari tahu alasan penolakan.
Apakah anak takut suara siraman toilet, merasa tidak nyaman duduk, atau belum memahami instruksi?
Kedua, mulai dari pengenalan tanpa tuntutan.
Biarkan anak melihat pispot, menyentuhnya, atau duduk sebentar dengan pakaian lengkap apabila itu membuatnya lebih nyaman.
Ketiga, gunakan permainan.
Boneka dapat digunakan untuk memperagakan cara pergi ke toilet sehingga anak lebih mudah memahami prosesnya.
Keempat, berikan pilihan sederhana.
Misalnya, anak dapat memilih menggunakan pispot atau dudukan toilet khusus.
Kelima, hentikan latihan jika anak mengalami tekanan berlebihan.
Berikan jeda dan coba kembali setelah anak lebih siap.
Jika anak menolak karena mengalami nyeri saat BAK atau BAB, jangan menganggapnya sekadar masalah perilaku. Periksakan kepada dokter untuk mengetahui kemungkinan penyebab medis.
Sebagian anak dapat kembali mengompol setelah sebelumnya berhasil menggunakan toilet.
Kondisi tersebut dikenal sebagai toilet training regression.
Kemunduran dapat terjadi karena berbagai faktor, seperti:
Jika anak kembali mengompol, orang tua tidak perlu langsung menganggap seluruh latihan sebelumnya gagal.
Tetap berikan dukungan dan kembali bantu anak mengikuti rutinitas toilet.
Namun, apabila anak yang sebelumnya sudah mampu mengendalikan BAK atau BAB tiba-tiba mengalami perubahan yang menetap, terutama disertai nyeri, haus berlebihan, atau perubahan frekuensi buang air, konsultasikan dengan dokter.
Sebagian anak membutuhkan waktu lebih panjang untuk mencapai kemandirian dalam menggunakan toilet.
Namun, terdapat beberapa kondisi yang perlu mendapatkan pemeriksaan medis.
Orang tua sebaiknya berkonsultasi apabila anak:
Dokter anak dapat mengevaluasi kondisi fisik, kebiasaan buang air, perkembangan, dan kemungkinan gangguan kesehatan yang memengaruhi proses latihan.
IDAI menyarankan orang tua berkonsultasi apabila anak belum dapat mengendalikan buang air pada usia 7 tahun.
Namun, jangan menunggu sampai usia tersebut jika anak sudah menunjukkan keluhan kesehatan atau masalah yang mengganggu aktivitas sehari-hari.
Salah satu hal yang sering disalahpahami orang tua adalah menganggap anak yang sudah tidak menggunakan popok pada siang hari seharusnya juga mampu tetap kering sepanjang malam.
Padahal, kemampuan tersebut berkembang secara berbeda.
Kontrol BAK pada siang hari lebih berkaitan dengan kemampuan anak mengenali sinyal kandung kemih dan pergi ke toilet ketika terjaga.
Sementara itu, tetap kering sepanjang malam membutuhkan kematangan mekanisme tubuh yang mengatur produksi urine dan kemampuan kandung kemih selama tidur.
Karena itu, orang tua dapat mempertahankan penggunaan popok malam apabila anak masih sering mengompol ketika tidur.
Beberapa kebiasaan yang dapat diterapkan antara lain:
Mengompol saat tidur tidak boleh dijadikan alasan untuk mempermalukan anak.
Toilet training merupakan bagian penting dari perkembangan kemandirian anak. Namun, keberhasilannya tidak hanya ditentukan oleh usia atau seberapa cepat anak berhenti menggunakan popok.
Anak perlu memiliki kesiapan fisik, kemampuan memahami instruksi, kesadaran terhadap sinyal tubuh, serta kesiapan emosional untuk belajar menggunakan toilet.
Karena itu, orang tua sebaiknya memulai latihan berdasarkan tanda kesiapan, bukan karena tekanan lingkungan atau perbandingan dengan anak lain.
Melalui rutinitas yang konsisten, pengenalan bertahap, lingkungan yang nyaman, dan apresiasi terhadap setiap kemajuan, anak dapat belajar menggunakan toilet dengan lebih percaya diri.
Jika terjadi penolakan atau kecelakaan kecil, hadapi dengan tenang. Hindari hukuman, ancaman, dan rasa malu karena hal tersebut tidak membantu anak mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan.
Pada akhirnya, tujuan toilet training bukan sekadar membuat anak berhenti memakai popok, tetapi membantu mereka mengenali kebutuhan tubuh, menjaga kebersihan diri, dan tumbuh menjadi pribadi yang lebih mandiri.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir