Pendidikan
Rahman Abdullah

Kemendikdasmen Perkuat Integritas Pendidikan, Budaya Antikorupsi Dimulai dari Sekolah

Kemendikdasmen Perkuat Integritas Pendidikan, Budaya Antikorupsi Dimulai dari Sekolah

07 Oktober 2026 | 15:52

KebonCinta.com-- Membangun budaya antikorupsi tidak cukup dilakukan melalui penindakan ketika pelanggaran terjadi. Fondasi kejujuran justru perlu ditanamkan sejak anak berada di lingkungan pendidikan.

Pandangan tersebut menjadi bagian dari langkah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dalam memperkuat integritas sektor pendidikan. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menyampaikan hal itu setelah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memaparkan hasil Indeks Integritas Pendidikan 2026 di Jakarta, Selasa, 6 Oktober.

Menurut Abdul Mu’ti, hasil indeks tersebut dapat menjadi bahan penting untuk mengevaluasi sekaligus memperbaiki kebijakan dan layanan pendidikan. Ia menilai sekolah bukan hanya tempat mengejar prestasi akademik, tetapi juga ruang untuk membentuk karakter dan kebiasaan yang akan dibawa peserta didik dalam kehidupan bermasyarakat.

Baca Juga: Skor Integritas Pendidikan Naik, KPK Masih Temukan Joki Skripsi hingga Penyalahgunaan Dana BOS 

Integritas Tidak Berhenti pada Pendidikan Karakter

Kemendikdasmen berupaya membangun integritas melalui dua sisi sekaligus, yaitu perilaku warga pendidikan dan tata kelola layanan yang semakin terbuka.

Dalam Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB), misalnya, pemerintah terus melakukan penyempurnaan kebijakan dengan mengedepankan prinsip inklusif dan keadilan. Sistem yang transparan diharapkan dapat mengurangi celah terjadinya penyimpangan dalam proses penerimaan peserta didik.

Saluran pengaduan juga diperkuat melalui Unit Layanan Terpadu (ULT). Masyarakat memiliki kesempatan menyampaikan laporan, keluhan, maupun aspirasi melalui sejumlah kanal yang disediakan kementerian.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya agar pengawasan terhadap layanan pendidikan tidak hanya bergantung pada mekanisme internal pemerintah.

Pembentukan Karakter Melibatkan Banyak Lingkungan

Abdul Mu’ti juga menyoroti penerapan Pembelajaran Mendalam sebagai salah satu pendekatan yang dapat memperkuat pendidikan karakter.

Melalui pendekatan tersebut, pembelajaran tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kemampuan akademik. Pendidikan karakter juga melibatkan empat lingkungan yang saling berpengaruh terhadap perkembangan anak, yakni sekolah, keluarga, masyarakat, dan media.

Upaya tersebut kemudian diperkuat melalui program Budaya Sekolah Aman dan Nyaman, 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, serta penguatan layanan bimbingan dan konseling.

Dengan pendekatan tersebut, nilai kejujuran diharapkan tidak hanya menjadi materi yang disampaikan guru, tetapi berkembang menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: Putusan MK soal Syarat Pendidikan Gibran Dinanti, Perkara Masuk Tahap Penentuan 

Transparansi Dana dan Pembangunan Sekolah

Penguatan integritas juga menyentuh pengelolaan dana pendidikan. Kemendikdasmen terus menyempurnakan sistem penyaluran dana agar semakin transparan, akuntabel, dan memanfaatkan teknologi digital.

Hal serupa diterapkan dalam program Revitalisasi Satuan Pendidikan. Proses pelaksanaan disederhanakan sekaligus disertai penguatan pertanggungjawaban agar pembangunan sekolah menghasilkan kualitas pekerjaan yang lebih baik.

Program tersebut menggunakan skema swakelola. Selain membantu memastikan proses pembangunan lebih terkontrol, skema ini diharapkan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat di daerah.

Kejujuran Data Menentukan Kebijakan

Persoalan integritas juga berkaitan dengan data pendidikan. Abdul Mu’ti mendorong seluruh pihak menjaga kejujuran dalam pengisian Data Pokok Pendidikan (Dapodik).

Data yang akurat menjadi salah satu dasar penting bagi pemerintah dalam menentukan program dan kebijakan. Kesalahan atau ketidakjujuran dalam data berpotensi memengaruhi ketepatan sasaran layanan pendidikan.

Karena itu, membangun integritas tidak hanya berarti mencegah pungutan atau penyalahgunaan anggaran. Kejujuran dalam memberikan informasi juga menjadi bagian dari tata kelola pendidikan yang sehat.

Ruang Kelas Menjadi Awal Masa Depan

Ketua KPK Setyo Budiyanto menegaskan bahwa masa depan Indonesia dapat mulai dibentuk dari ruang kelas.

Sekolah bukan semata tempat peserta didik memperoleh pengetahuan. Di lingkungan tersebut, karakter dibangun, kebiasaan terbentuk, dan nilai yang akan menentukan perilaku generasi mendatang mulai ditanamkan.

Baca Juga: Indonesia Siapkan Peta Jalan Nasional AI, Kesehatan hingga Pendidikan Bakal Punya Panduan Berbeda 

Karena itu, penguatan integritas pendidikan membutuhkan konsistensi antara pendidikan karakter dan pembenahan sistem. Ketika keduanya berjalan bersama, sekolah tidak hanya menghasilkan murid yang berprestasi, tetapi juga generasi yang jujur, bertanggung jawab, dan memiliki budaya antikorupsi.***

Tags:
pendidikan Antikorupsi Integritas kemendikdasmen

Komentar Pengguna