KebonCinta.com – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memperkuat pembelajaran Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) melalui penyiapan 60 fasilitator inti pada Oktober 2026. Program ini menekankan penerapan pembelajaran mendalam, pendidikan inklusif, serta pengembangan kemampuan berpikir komputasional melalui kegiatan bermain. Langkah tersebut diharapkan membantu pendidik menghadirkan pembelajaran yang lebih bermakna dan sesuai kebutuhan anak.
Direktorat PAUD menyelenggarakan kegiatan Penguatan Pembelajaran untuk Satuan PAUD Tahun 2026 di Jakarta Utara pada 8–9 Oktober 2026.
Informasi yang dipublikasikan melalui PAUDPEDIA pada 9 Oktober 2026 menyebutkan bahwa kegiatan tersebut difokuskan pada penyiapan fasilitator inti yang nantinya membantu menyebarluaskan praktik pembelajaran kepada pendidik di berbagai daerah.
Penguatan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan mutu pendidikan anak usia dini melalui pendekatan yang lebih aktif, inklusif, dan relevan dengan perkembangan anak.
Kegiatan diikuti 60 peserta dari unsur pengurus wilayah dan pengurus pusat Badan Koordinasi Taman Kanak-Kanak Islam Indonesia Dewan Masjid Indonesia (BKKTKI DMI).
Melalui kerja sama dengan organisasi mitra tersebut, pemerintah berupaya memperluas jangkauan penguatan kompetensi guru PAUD.
Para peserta disiapkan sebagai fasilitator inti yang diharapkan membagikan pengetahuan dan praktik pembelajaran kepada pendidik lain di wilayah masing-masing.
Program ini merupakan kegiatan penguatan bagi peserta yang telah ditentukan, bukan pengumuman pendaftaran terbuka untuk seluruh guru PAUD.
Baca Juga: Revitalisasi PAUD 2026: Kemendikdasmen Larang Pungli, Wajibkan Swakelola, Ini Cara Melapor
Direktur PAUD Kemendikdasmen, Kurniawan, menekankan pentingnya pendekatan Pembelajaran Mendalam atau Deep Learning dalam meningkatkan kualitas pendidikan anak usia dini.
Pendekatan ini mengutamakan tiga prinsip utama:
Dalam konteks PAUD, pembelajaran mendalam tidak berarti memberikan materi akademik yang semakin sulit kepada anak.
Sebaliknya, guru perlu merancang kegiatan bermain yang memberi kesempatan anak mengalami, mencoba, bertanya, dan menemukan sesuatu melalui interaksi dengan lingkungannya.
Salah satu materi yang diperkenalkan adalah berpikir komputasional, yaitu kemampuan memahami persoalan, mengenali pola, menyusun langkah, dan menemukan penyelesaian secara teratur.
Pada jenjang PAUD, keterampilan tersebut dapat diperkenalkan melalui kegiatan sederhana tanpa komputer atau gawai, yang dikenal dengan pendekatan unplugged.
Contohnya, guru menyediakan balok berwarna dan meminta anak mengelompokkannya berdasarkan bentuk. Anak juga dapat diajak menyusun urutan kegiatan mencuci tangan menggunakan kartu bergambar.
Kegiatan seperti ini dapat membantu melatih penalaran awal, sekaligus mempertahankan karakteristik pendidikan anak usia dini yang berpusat pada bermain.
Selain pembelajaran mendalam, kegiatan penguatan membahas penyelenggaraan pendidikan yang ramah terhadap keberagaman kebutuhan anak.
Pendidikan inklusif memberikan kesempatan kepada setiap anak untuk berpartisipasi dalam kegiatan belajar dengan dukungan yang sesuai.
Misalnya, guru dapat menyediakan pilihan aktivitas menggambar, menyusun benda, atau bercerita agar anak memiliki cara berbeda untuk menunjukkan pemahaman.
Anak yang membutuhkan waktu lebih lama juga perlu mendapatkan pendampingan tanpa dibandingkan atau dipermalukan.
Penguatan tersebut penting agar layanan PAUD tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik, tetapi juga perkembangan sosial, emosional, komunikasi, dan kemandirian anak.
Menurut Direktorat PAUD, peserta mendapatkan tujuh materi utama yang mencakup sejumlah bidang penguatan pembelajaran.
Bidang yang dibahas antara lain kebijakan pendidikan nasional, penyusunan kurikulum, pembelajaran berbasis berpikir komputasional, pengelolaan pendidikan inklusif, dan praktik microteaching.
Microteaching merupakan latihan mengajar dalam situasi terbatas untuk membantu pendidik menguji strategi, menerima masukan, dan memperbaiki pelaksanaan pembelajaran.
Materi juga dirancang agar dapat diintegrasikan dengan nilai keislaman sesuai karakter organisasi mitra yang mengikuti kegiatan.
Pada akhir kegiatan, setiap peserta ditargetkan menyusun draf perencanaan pembelajaran dan Rencana Tindak Lanjut (RTL) untuk pengimbasan di wilayahnya.
RTL menjadi panduan mengenai langkah yang akan dilakukan setelah pelatihan, termasuk bagaimana hasil pembelajaran dapat disampaikan kepada pendidik lain.
Keberhasilan program tidak hanya dilihat dari keikutsertaan selama dua hari, tetapi juga dari keberlanjutan pendampingan dan penerapan praktik pembelajaran di daerah.
Karena itu, kerja sama antara fasilitator, organisasi mitra, dan satuan PAUD memiliki peran penting dalam memperluas manfaat kegiatan.
Guru yang tidak mengikuti kegiatan secara langsung tetap dapat memahami prinsip pembelajaran melalui panduan resmi Kemendikdasmen.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
Sekolah juga dapat mengikuti informasi pengimbasan atau pendampingan yang disampaikan melalui dinas pendidikan serta organisasi mitra resmi.
Perlu diperhatikan, kegiatan pelatihan ini bukan pengumuman pergantian kurikulum nasional. Pelaksanaannya merupakan upaya memperkuat kemampuan pendidik menerapkan kebijakan dan pendekatan pembelajaran yang sudah menjadi arah pengembangan pendidikan.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir