Lifestyle
Azzahra Esa Nabila

Kenapa Kritik Terasa Lebih Melekat Dibanding Pujian? Jejak Psikologi di Balik Ingatan Kita

Kenapa Kritik Terasa Lebih Melekat Dibanding Pujian? Jejak Psikologi di Balik Ingatan Kita

22 Juni 2026 | 23:12

Keboncinta.com-- Pernah tidak, satu komentar negatif dari seseorang bisa bertahan di kepala berhari-hari, bahkan bertahun-tahun? Sementara puluhan pujian yang kamu terima seolah lewat begitu saja, seperti tidak sempat benar-benar “menempel”. Aneh ya, padahal jumlahnya tidak sebanding, tapi yang paling keras justru yang menyakitkan.

Fenomena ini sebenarnya berkaitan dengan cara otak manusia bekerja dalam membaca pengalaman emosional. Otak kita punya kecenderungan alami untuk lebih memperhatikan hal-hal yang dianggap “mengancam” atau berpotensi menyakitkan. Kritik, penolakan, atau komentar negatif sering diproses sebagai sinyal yang perlu diwaspadai. Bukan karena kita lemah, tapi karena sejak dulu, otak manusia dirancang untuk bertahan hidup, bukan untuk merasa nyaman.

Di masa lalu, satu kesalahan kecil bisa berarti bahaya besar. Maka wajar jika otak belajar untuk lebih sensitif terhadap hal-hal yang berpotensi merugikan. Sayangnya, mekanisme yang dulu membantu manusia bertahan hidup ini masih bekerja di kehidupan modern, meski ancamannya kini hanya berupa komentar di media sosial atau ucapan singkat dari orang lain.

Menariknya, pujian sebenarnya juga diproses oleh otak, tetapi efeknya sering lebih cepat memudar. Pujian terasa menyenangkan, tapi tidak selalu dianggap “penting untuk diingat”. Sementara kritik, justru diperlakukan seperti catatan peringatan yang harus disimpan lebih lama. Akibatnya, satu kalimat negatif bisa mengalahkan sepuluh kalimat positif dalam memori kita.

Hal ini menjelaskan kenapa banyak orang lebih sering mengingat kesalahan mereka daripada keberhasilan. Bahkan ketika orang lain sudah lupa, kita masih mengulang-ulangnya sendiri di kepala. Seolah-olah ada arsip tersembunyi yang hanya berisi momen-momen yang membuat kita merasa tidak cukup baik.

Dampaknya bisa cukup dalam. Jika tidak disadari, kita bisa mulai membentuk cara pandang terhadap diri sendiri berdasarkan kritik yang paling membekas, bukan berdasarkan gambaran utuh tentang diri kita. Pelan-pelan, suara kecil dari masa lalu bisa terdengar lebih keras daripada kenyataan saat ini.

Namun menariknya, kesadaran tentang hal ini juga bisa menjadi titik balik. Kita bisa belajar bahwa tidak semua hal yang melekat di ingatan harus dianggap sebagai kebenaran utama tentang diri kita. Ada banyak hal baik yang mungkin tidak bertahan lama di memori, tapi tetap nyata keberadaannya.

Tags:
Belajar Dewasa Gen Z Lifestyle Kritik Membangun Mindset pada remaja

Komentar Pengguna