Sejarah
Admin

Kenapa Peta dan Desain Topografi Dunia Didominasi Eropa? Di Mana Posisi Indonesia?

Kenapa Peta dan Desain Topografi Dunia Didominasi Eropa? Di Mana Posisi Indonesia?

27 Februari 2026 | 12:46

Keboncinta.com-- Jika kita membuka atlas lama, melihat globe klasik, atau menelusuri sejarah peta dunia, nama-nama dari Eropa terutama Jerman dan Belanda sering muncul sebagai pelopor. Proyeksi peta terkenal lahir di benua itu, teknik kartografi berkembang pesat di sana, dan banyak standar pemetaan modern berakar dari tradisi ilmiah Eropa. 

Kartografi modern berkembang pesat di Eropa sejak abad ke-15, ketika era penjelajahan samudra dimulai. Negara-negara seperti Belanda, Portugis, dan Spanyol berlomba-lomba memetakan wilayah baru demi kepentingan perdagangan dan kolonialisme. Peta bukan sekadar gambar, melainkan alat kekuasaan. Siapa yang memiliki peta paling akurat, dialah yang lebih unggul dalam navigasi dan ekspansi.

Belanda, misalnya, dikenal memiliki tradisi kartografi yang sangat kuat pada abad ke-16 dan ke-17. Banyak peta dunia yang detail dan presisi lahir dari sana, didukung oleh kebutuhan pelayaran dan perdagangan global. Jerman pun berperan besar dalam pengembangan teknik proyeksi dan standar ilmiah pemetaan.

Sementara itu, bagaimana dengan Indonesia?

Perlu diingat, Indonesia sebagai negara baru merdeka pada tahun 1945. Sebelumnya, wilayah Nusantara berada dalam sistem kolonial selama berabad-abad. Pemetaan wilayah Indonesia pada masa kolonial memang dilakukan secara intensif, tetapi oleh pemerintah kolonial Belanda. Artinya, meski objeknya Indonesia, sistem dan desainnya tetap berada di bawah otoritas Eropa.

Di sisi lain, perkembangan desain topografi dunia bukan hanya soal kemampuan menggambar peta, melainkan soal akses terhadap teknologi, riset ilmiah, dan jejaring global. Revolusi kartografi modern sangat terkait dengan kemajuan ilmu matematika, astronomi, geodesi, dan kemudian teknologi satelit. Negara-negara yang lebih dahulu mengalami revolusi industri memiliki keunggulan dalam membangun fondasi ilmiah ini.

Namun bukan berarti Indonesia tidak punya kontribusi sama sekali.

Indonesia memiliki lembaga resmi seperti Badan Informasi Geospasial (BIG) yang mengembangkan sistem pemetaan nasional, termasuk peta topografi detail wilayah Indonesia. Dalam konteks regional dan nasional, Indonesia aktif menghasilkan data geospasial yang digunakan untuk perencanaan pembangunan, mitigasi bencana, hingga pengelolaan sumber daya alam. Hanya saja, dalam skala “desain topografi dunia” yang menjadi standar global, dominasi historis Eropa dan Amerika memang masih terasa.

Perlu juga dipahami bahwa istilah “desain topografi dunia” sering merujuk pada sistem proyeksi peta global. Proyeksi seperti Mercator atau lainnya lahir dalam konteks kebutuhan navigasi global pada masa lalu. Pada saat itu, Indonesia belum memiliki posisi geopolitik dan ilmiah yang memungkinkan untuk menciptakan standar global.

Namun kondisi dunia kini berbeda. Teknologi pemetaan modern tidak lagi sepenuhnya bergantung pada satu negara. Data satelit, sistem informasi geografis (GIS), dan pemetaan digital melibatkan kolaborasi internasional. Banyak ilmuwan dan ahli geospasial dari berbagai negara, termasuk Indonesia, berkontribusi dalam riset dan pengembangan.

Pertanyaannya mungkin bukan lagi “mengapa tidak dari Indonesia?”, melainkan “bagaimana Indonesia bisa memperkuat posisinya di masa depan?” Jawabannya terletak pada investasi pendidikan, riset, dan teknologi. Ketika sumber daya manusia diperkuat dan kolaborasi global ditingkatkan, peluang untuk menciptakan inovasi dalam bidang geospasial semakin terbuka.

Dominasi Eropa dalam sejarah kartografi lebih merupakan hasil konteks sejarah dan kekuatan geopolitik masa lalu, bukan cerminan bahwa bangsa lain tidak mampu.

Tags:
Penelitian Sejarah Sejarah Indonesia sejarah dunia

Komentar Pengguna