Kurikulum Berbasis Cinta Jadi Arah Baru Pendidikan Islam Nasional

Kurikulum Berbasis Cinta Jadi Arah Baru Pendidikan Islam Nasional

02 Januari 2026 | 07:58

Keboncinta.com-- Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar resmikan Peta Jalan Pendidikan Islam sebagai pedoman strategis pengembangan pendidikan Islam menuju visi Indonesia Emas 2025–2045 yang dicita-citakan bersama.

Peluncuran ini menegaskan pentingnya kurikulum sebagai fondasi utama dalam membentuk karakter umat dan arah peradaban generasi mendatang.

Dalam sambutannya, Menag menekankan bahwa masa depan umat sejatinya dapat dirancang sejak sekarang melalui kurikulum pendidikan.

Menurutnya, kurikulum bukan sekadar perangkat pembelajaran, melainkan instrumen strategis yang menentukan wajah masyarakat di masa depan.

Baca Juga: Membuka Peluang Karier Guru Profesional, PPG Prajabatan Jadi Langkah Awal Lulusan Sarjana Pendidikan

“Umat seperti apa yang kita harapkan di masa depan sejatinya bisa kita ‘pesan’ melalui kurikulum. Karena itu, kurikulum adalah instrumen yang sangat strategis,” ujar Menag dalam acara yang digelar Selasa (30/12/25).

Acara Review and Design on Islamic Education Tahun 2025 ini turut dihadiri oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Kamaruddin Amin, pejabat kementerian dan lembaga terkait, pimpinan perguruan tinggi keagamaan Islam, serta berbagai pemangku kepentingan di bidang pendidikan.

Menag menjelaskan bahwa Peta Jalan Pendidikan Islam disusun dengan menempatkan Kurikulum Berbasis Cinta sebagai fondasi utama.

Kurikulum ini dirancang untuk bersifat transformatif, tidak hanya berfokus pada transfer pengetahuan, tetapi juga membentuk cara berpikir, sikap hidup, serta relasi manusia dengan sesama dan alam.

Baca Juga: Menanti Keputusan Gaji ASN 2026, Pemerintah Pantau Arah Ekonomi Sebelum Ketok Palu

Pendekatan ini diharapkan mampu melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak, dan memiliki kepedulian sosial serta ekologis yang kuat.

“Kita ingin bertransformasi dari cara pandang yang maskulin dan penuh dominasi menuju pendekatan yang nurturing, yang merawat dan memelihara kehidupan,” jelas Menag.

Menurut Menag, kurikulum berbasis cinta memiliki lima arah transformasi utama yang akan menjadi penopang pembaruan pendidikan Islam ke depan.

Pertama, transformasi teologi menuju pendekatan yang lebih memanusiakan dan inklusif.

Kedua, pergeseran orientasi dari sekadar formalitas ke pendalaman substansi nilai-nilai keislaman.

Ketiga, perubahan cara pandang dari antroposentris menuju ekoteologis, yang menempatkan kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab keagamaan.

Baca Juga: Menyiapkan Generasi Pendidik Berkualitas, PPG Prajabatan Hadir sebagai Tahap Wajib Calon Guru Profesional

Keempat, peralihan dari pola pikir atomik ke holistik, sehingga pendidikan tidak terfragmentasi, tetapi menyeluruh dan saling terhubung.

Kelima, transformasi dari religiusitas formal menuju kesadaran keberagamaan yang membebaskan, mendorong kreativitas, dan inovasi.

Menag menegaskan bahwa agama seharusnya tidak menjadi penghambat kemajuan manusia, melainkan menjadi penuntun moral yang menyeimbangkan kebebasan dan tanggung jawab.

“Agama tidak dimaksudkan untuk membelenggu kreativitas manusia, tetapi menjadi kompas moral yang membimbing manusia agar tidak tersesat,” tegasnya.

Baca Juga: Daftar PTN yang Buka Jalur Mandiri Tanpa Tes! Peluang Besar bagi Siswa Kelas 12 Tahun 2026

Dengan peluncuran Peta Jalan Pendidikan Islam ini, Kemenag mempunyai harapan bahwa pendidikan Islam mampu melahirkan generasi yang unggul secara intelektual, matang secara spiritual, serta siap berkontribusi aktif dalam membangun Indonesia yang lebih maju.***

Tags:
pendidikan kemenag Menag kurikulum berbasis cinta Pendidikan Islam

Komentar Pengguna