Lifestyle
Azzahra Esa Nabila

Lelah di Usia 20 an? Mengurai Quarter Life Crisis antara Realita dan Tren

Lelah di Usia 20 an? Mengurai Quarter Life Crisis antara Realita dan Tren

29 April 2026 | 09:23

Keboncinta.com-- Ada fase dalam hidup ketika semuanya terasa seperti persimpangan. Lulus kuliah, mulai mencari kerja, melihat teman-teman melangkah lebih cepat, sementara diri sendiri masih mencoba memahami arah. Istilah yang sering muncul untuk menggambarkan fase ini adalah quarter life crisis. Sekilas, ia terdengar seperti tren yang ramai dibicarakan di media sosial. Namun jika ditarik lebih dalam, fenomena ini bukan sekadar istilah populer. Hal ini berkaitan dengan fase perkembangan psikologis yang nyata, fase ketika seseorang mulai mempertanyakan identitas, tujuan hidup, dan masa depan.

Dalam perspektif Psikologi, masa dewasa awal memang penuh dengan transisi. Perubahan peran, tuntutan sosial, hingga ekspektasi pribadi bisa memicu kebingungan. Perasaan tidak pasti, cemas, atau bahkan merasa tertinggal adalah hal yang cukup umum. Namun, di era digital, pengalaman ini terasa lebih intens. Platform seperti Instagram dan TikTok memperlihatkan potongan kehidupan orang lain yang tampak “lebih siap”. Ada yang sudah mapan, sudah menemukan passion, atau terlihat bahagia dengan jalannya. Tanpa disadari, perbandingan mulai terjadi. Dari sinilah muncul tekanan yang sering kali tidak terlihat. Kita tidak hanya berhadapan dengan realitas hidup sendiri, tetapi juga dengan ekspektasi yang terbentuk dari apa yang kita lihat. Padahal, yang ditampilkan di media sosial hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan cerita.

Dalam banyak kasus, fase ini justru menjadi titik penting untuk refleksi. Momen ketika seseorang mulai mengenal diri lebih dalam, memahami apa yang diinginkan, dan menyusun arah hidup dengan lebih sadar. Masalahnya, proses ini tidak instan. Tidak ada timeline yang sama untuk setiap orang. Ada yang menemukan jalannya lebih cepat, ada juga yang membutuhkan waktu lebih lama. Dan itu bukan sesuatu yang salah. Di sisi lain, penggunaan istilah quarter life crisis yang terlalu sering di media sosial juga bisa membuatnya terasa seperti “tren”. Seolah-olah semua orang harus mengalami hal yang sama, dengan cara yang sama. Padahal, setiap individu memiliki pengalaman yang berbeda.

Mungkin yang perlu diubah bukanlah fase ini, tetapi cara kita memaknainya. Alih-alih melihatnya sebagai krisis, kita bisa melihatnya sebagai proses. Proses yang mungkin tidak nyaman, tetapi penting. Karena di tengah kebingungan itu, sebenarnya ada ruang untuk tumbuh. Dan mungkin, tidak apa-apa jika belum tahu arah sepenuhnya. Selama masih terus bergerak, sekecil apa pun langkahnya, itu sudah cukup berarti.

Tags:
Belajar Dewasa Gen Z life Hidup Lebih Tenang

Komentar Pengguna