Mengapa Puisi Rumi Tetap Populer? Ini Makna Cinta dalam Ajaran Sang Sufi

Mengapa Puisi Rumi Tetap Populer? Ini Makna Cinta dalam Ajaran Sang Sufi

07 Maret 2026 | 22:26

Keboncinta.com-- Di tengah kehidupan modern yang sering dipenuhi kegelisahan dan tekanan, banyak orang kembali mencari makna hidup melalui refleksi spiritual.

Dalam proses pencarian tersebut, karya-karya klasik dari para tokoh spiritual kerap menjadi sumber inspirasi yang tak lekang oleh waktu.

Salah satu tokoh yang terus dikenang hingga saat ini adalah Jalaluddin Rumi. Melalui puisi-puisi yang sarat makna, Rumi mengajarkan bahwa cinta bukan sekadar emosi, melainkan jalan untuk memahami kehidupan, sesama manusia, bahkan Tuhan.

Tokoh yang memiliki nama lengkap Jalal ad-Din Muhammad Rumi ini lahir pada 30 September 1207 di Balkh, wilayah Persia Raya yang kini berada di Asia Tengah. Ia kemudian wafat pada 17 Desember 1273 di Konya.

Baca Juga: Peluang THR PPPK Paruh Waktu 2026 Masih Bergantung Anggaran Daerah Kepala BKN Beri Penjelasan Terbaru

Selain dikenal sebagai penyair sufi yang berpengaruh, Rumi juga merupakan seorang ulama serta teolog yang menganut mazhab Maturidi. Pemikirannya tidak hanya dikenal di kalangan umat Islam, tetapi juga melampaui batas agama, budaya, dan zaman.

Selama lebih dari tujuh abad, karya-karya Rumi terus dibaca dan dipelajari oleh masyarakat dari berbagai wilayah, mulai dari Iran, Tajikistan, Turki, hingga kawasan Asia Selatan.

Bahkan di era modern, puisinya sangat populer di Barat dan sering disebut sebagai salah satu karya sastra spiritual paling banyak dibaca di Amerika Serikat.

Sebagian besar puisi Rumi ditulis dalam bahasa Persia. Namun dalam beberapa karyanya ia juga menggunakan bahasa Arab, Turki, dan Yunani. Salah satu karya terbesarnya adalah Masnawi yang disusun ketika ia tinggal di Konya.

Baca Juga: Kewajiban Penting Pensiunan PNS Agar Dana Pensiun dari PT Taspen Tetap Cair Setiap Bulan hingga Akhir Hayat

Karya tersebut sering dijuluki sebagai “Al-Qur’an dalam bahasa Persia” karena kedalaman ajaran spiritual dan nilai tasawuf yang terkandung di dalamnya. Hingga kini, Masnawi masih menjadi rujukan penting dalam tradisi sufisme.

Pengaruh Rumi tidak hanya terlihat dalam sastra Persia. Pemikirannya juga memberi warna kuat pada perkembangan sastra Turki Utsmaniyah, Chagatai, Urdu, Bengali, hingga Pashtun.

Salah satu ciri khas puisi Rumi adalah kritiknya terhadap pandangan yang terlalu menonjolkan rasio. Ia menilai bahwa akal semata tidak cukup untuk memahami realitas kehidupan.

Bagi Rumi, pemahaman sejati tentang dunia dan Tuhan hanya dapat dicapai melalui cinta. Cinta dipandang sebagai energi spiritual yang mampu menghidupkan jiwa manusia dan mendekatkannya pada Sang Pencipta.

Baca Juga: ASN Boleh Work From Anywhere Saat Libur Nyepi dan Lebaran 2026, Simak Tanggalnya

Keunikan lain dalam karya Rumi terletak pada penggunaan kisah-kisah simbolik. Ia sering memulai puisinya dengan cerita yang bukan sekadar narasi sejarah, tetapi sarana untuk menyampaikan pesan spiritual yang lebih dalam.

Tokoh-tokoh seperti Nabi Yusuf, Musa, Ya’qub, hingga Isa sering muncul dalam puisinya. Namun mereka tidak digambarkan hanya sebagai figur sejarah, melainkan simbol dari jiwa yang telah mencapai kedekatan dengan Tuhan melalui cinta Ilahi.

Pendekatan simbolik tersebut membuat karya-karya Rumi kaya makna dan terbuka untuk berbagai penafsiran, sehingga tetap relevan bagi pembaca dari generasi ke generasi.

Salah satu kutipan Rumi yang terkenal menggambarkan pandangannya tentang identitas spiritual manusia:

“Jangan tanya apa agamaku. Aku bukan Yahudi, bukan Zoroaster, bukan pula Islam. Karena ketika sebuah nama kusebut, kau akan memberinya makna lain dari yang hidup di hatiku.”

Baca Juga: Kemenag Mulai Cairkan TPG 2026, Ratusan Ribu Guru Madrasah Segera Terima Tunjangan

Selain menulis puisi, Rumi juga menghasilkan berbagai karya prosa. Beberapa di antaranya adalah Al-Majalis as-Sab’ah, kumpulan khutbah dan nasihat spiritualnya; Majmu’ah min ar-Rasa’il, yang berisi surat-surat kepada sahabat dan keluarganya; serta Fihi Ma Fihi yang memuat refleksi spiritual, pembahasan akhlak, serta tafsir terhadap Al-Qur’an dan hadis.

Dalam karya puisi, Rumi juga menulis Diwan Syams Tabrizi yang berisi ribuan bait ghazal sebagai ungkapan cinta spiritual kepada gurunya, Syamsuddin al-Tabrizi.

Selain itu terdapat pula Ruba’iyat serta Masnawi yang menjadi fondasi utama ajaran tasawufnya.

Melalui karya-karya tersebut, Rumi menegaskan bahwa kehidupan bukan hanya perjalanan intelektual semata, tetapi juga pengalaman spiritual yang dipandu oleh cinta Ilahi.

Pesan-pesan Rumi terus hidup hingga hari ini, menginspirasi manusia dari berbagai latar belakang untuk menemukan makna terdalam dalam kehidupan.***

Tags:
Khazanah Islam Sejarah Islam

Komentar Pengguna