KebonCinta.com – Di lingkungan pesantren, santri tidak hanya belajar melalui pembelajaran di kelas. Ada tradisi mengaji kitab kuning dengan metode sorogan dan bandongan yang mempertemukan santri dengan kiai atau ustaz secara langsung.
Kedua metode ini sama-sama digunakan untuk mendalami ilmu keislaman, tetapi cara belajarnya berbeda. Sorogan menekankan interaksi individual, sementara bandongan mengutamakan pembelajaran bersama. Perbedaan tersebut penting diketahui calon santri dan orang tua sebelum memilih lingkungan pendidikan pesantren.
Sorogan adalah metode pembelajaran ketika seorang santri belajar secara langsung di hadapan kiai atau ustaz. Santri biasanya membacakan bagian kitab yang dipelajari, kemudian guru menyimak, mengoreksi bacaan, serta memberikan penjelasan apabila diperlukan.
Dalam praktik tertentu, guru lebih dahulu memberi contoh bacaan, terutama untuk santri pemula. Pelaksanaannya dapat disesuaikan dengan kemampuan dan tradisi masing-masing pesantren.
Contoh pelaksanaan sorogan:
Metode ini memberi kesempatan kepada guru untuk mengetahui kemampuan setiap santri secara lebih dekat.
Baca Juga: Susah Konsisten Mengaji? Targetkan "Satu Ayat Sehari" daripada Satu Juz tapi Cuma Seminggu Sekali
Kelebihan sorogan terletak pada umpan balik yang lebih personal. Kesalahan membaca teks Arab, menerapkan kaidah nahwu dan sharaf, atau menerjemahkan kalimat dapat langsung diperbaiki. Santri juga belajar mempersiapkan diri dan bertanggung jawab atas kemajuannya.
Tantangannya adalah kebutuhan waktu dan pendampingan. Ketika jumlah santri banyak, guru perlu mengatur giliran agar setiap peserta mendapat kesempatan belajar yang memadai. Bagi santri pemula, membaca di hadapan guru juga mungkin terasa menegangkan pada awalnya.
Bandongan, yang juga dikenal dengan istilah wetonan dalam sejumlah tradisi pesantren, merupakan metode pengajian secara berkelompok. Kiai atau ustaz membacakan kitab, menerjemahkan atau memberi makna, lalu menjelaskan kandungannya. Para santri menyimak dan mencatat keterangan pada kitab masing-masing.
Kegiatan ini kerap berlangsung dalam bentuk halaqah, yakni kelompok belajar yang berkumpul di sekitar guru. Banyak pesantren menggunakan bandongan untuk membahas satu kitab secara berurutan dari pertemuan ke pertemuan.
Contoh pelaksanaan bandongan:
Bandongan memungkinkan satu guru membimbing banyak santri sekaligus. Penjelasan guru membantu peserta memperoleh gambaran isi kitab, istilah keagamaan, dan hubungan antarpembahasan. Kebiasaan menyimak serta mencatat juga menjadi bagian penting dari latihan belajar.
Namun, pemahaman setiap santri tidak selalu mudah terlihat dalam kelompok besar. Peserta yang tertinggal bisa kesulitan mengikuti pembahasan apabila tidak mengulang catatan atau memperoleh pendampingan tambahan.
Baca Juga: Tahsin, Tahfidz, dan Murajaah: Perbedaan serta Contoh Jadwal Belajarnya
Perbedaan utama kedua metode dapat diringkas sebagai berikut:
Keduanya bukan metode yang saling meniadakan. Pesantren dapat memadukan bandongan untuk mempelajari isi kitab dan sorogan untuk memeriksa keterampilan membaca masing-masing santri.
Sorogan dan bandongan merupakan bagian dari tradisi keilmuan pesantren. Peraturan Menteri Agama Nomor 31 Tahun 2020 tentang Pendidikan Pesantren, khususnya Pasal 60, menyebut keduanya sebagai metode dalam pengkajian kitab kuning dan pendidikan pesantren nonberjenjang yang dimaksud dalam ketentuan tersebut.
Bagi orang tua atau calon santri, pertanyaan penting bukan hanya apakah pesantren menggunakan sorogan atau bandongan. Tanyakan pula jadwal pengajian, tingkat kitab, pendampingan bagi pemula, kesempatan bertanya, serta cara guru menilai perkembangan membaca dan mengkaji kitab.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir