Keboncinta.com-- Ilmu psikologi yang mempelajari pikiran, kesadaran, dan perilaku manusia ternyata memiliki sejarah yang panjang. Jauh sebelum psikologi dikenal sebagai disiplin ilmu tersendiri, pertanyaan mengenai manusia telah menjadi bahan pemikiran para filsuf sejak masa Yunani Kuno.
Sekitar 350 SM, pada masa Yunani Kuno, para pemikir mulai mempertanyakan berbagai hal tentang pikiran dan perilaku manusia. Pada zaman Plato dan Aristoteles, misalnya, telah muncul pertanyaan yang kemudian menjadi dasar bagi perkembangan ilmu psikologi.
Para filsuf kala itu mempertanyakan apakah manusia benar-benar memiliki kehendak bebas, apakah perilaku seseorang dipengaruhi oleh faktor bawaan dari orang tua, serta berbagai persoalan lain mengenai hakikat manusia.
Namun, pemahaman mengenai mekanisme pikiran dan kesadaran manusia pada masa tersebut masih sangat terbatas. Bahkan, kesadaran sempat dikaitkan dengan hati, bukan dengan otak sebagaimana pemahaman ilmiah yang berkembang kemudian.
Baca Juga: OMI 2026 Makin Ramai, 230.123 Siswa Ikut Kompetisi dari Madrasah dan Sekolah Umum
Memasuki abad ke-19, kajian mengenai psikologi berkembang semakin serius. Pada periode ini, para ilmuwan mulai berusaha menjadikan psikologi sebagai bidang yang memiliki metode penelitian sendiri dan tidak lagi sepenuhnya berada di bawah filsafat.
Salah satu tokoh penting dalam perkembangan awal psikologi adalah Wilhelm Wundt. Ia mencoba mempelajari kesadaran manusia dengan menanyakan pengalaman dan respons seseorang secara langsung untuk menemukan kemungkinan adanya pola tertentu.
Namun, metode tersebut memiliki keterbatasan. Setiap individu dapat memberikan jawaban dan respons yang berbeda ketika menghadapi pengalaman tertentu sehingga hasil pengamatan sulit diseragamkan.
Kondisi itu kemudian mendorong para tokoh psikologi lainnya untuk mencari pendekatan yang lebih sistematis dan ilmiah.
Sejumlah nama seperti William James, Sigmund Freud, John B. Watson, Fritz Heider, dan Hermann Ebbinghaus turut memberikan kontribusi terhadap perkembangan berbagai pendekatan dalam ilmu psikologi.
Perkembangan tersebut tidak hanya berlangsung di Eropa. Kajian psikologi kemudian berkembang pesat di Amerika Serikat dan berbagai wilayah lainnya hingga menjadi salah satu bidang ilmu yang terus mengalami perubahan.
Sampai sekarang, para ilmuwan masih berusaha menemukan penjelasan terhadap berbagai fenomena psikologis dengan menggunakan pendekatan dari beragam sudut pandang.
Baca Juga: Guru Madrasah di Daerah 3T Diperkuat lewat Program KREASI hingga 2028
Dalam memahami fenomena psikologis, perkembangan ilmu psikologi dapat dilihat melalui tiga tingkatan, yaitu level bawah, level menengah, dan level atas.
Ketiga tingkatan tersebut membantu melihat perilaku dan kondisi psikologis manusia dari sudut yang berbeda, mulai dari faktor biologis hingga pengaruh lingkungan sosial dan budaya.
Pada level bawah, fenomena psikologis dijelaskan melalui faktor biologis yang terdapat dalam tubuh manusia.
Faktor genetik, hormon, sistem saraf, serta berbagai proses biologis lainnya dapat menjadi bagian dari kajian untuk memahami perilaku dan kondisi psikologis seseorang.
Salah satu bidang yang berkaitan dengan pendekatan ini adalah neurosains, yang mempelajari sistem saraf dan otak manusia.
Ada pula biopsikologi yang berusaha menjelaskan hubungan antara proses biologis dengan perilaku manusia.
Pengetahuan dari bidang-bidang tersebut kemudian ikut mendukung perkembangan berbagai pendekatan dalam penanganan kondisi psikologis, termasuk pengembangan obat yang dapat membantu menangani kondisi tertentu.
Dengan demikian, level bawah lebih banyak melihat manusia dari sisi biologis dan mekanisme yang berlangsung di dalam tubuh.
Baca Juga: Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Ganggu Penerbangan, 209 Jadwal di Soekarno-Hatta Dibatalkan
Berbeda dengan level bawah, level menengah berfokus pada karakteristik individu serta bagaimana seseorang berpikir dan berperilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Perhatian tidak lagi hanya diarahkan pada apa yang terjadi di dalam tubuh, tetapi juga pada pola perilaku yang muncul dan bagaimana pengalaman seseorang dapat berhubungan dengan pembentukan sifat serta kepribadiannya.
Kajian tersebut salah satunya dilakukan melalui psikologi kepribadian.
Kepribadian manusia tidak selalu bersifat statis. Seiring bertambahnya usia, seseorang memperoleh pengalaman baru yang dapat memengaruhi cara berpikir, bersikap, dan mengambil keputusan.
Karena itu, perubahan pengalaman sepanjang kehidupan dapat menjadi bagian penting dalam memahami perkembangan kepribadian seseorang.
Ketika seseorang menghadapi gangguan dalam proses mental atau cara berpikirnya, kondisi tersebut dapat dikaji melalui bidang seperti psikologi kognitif.
Sementara itu, psikologi klinis dan konseling berperan dalam memahami serta membantu menangani berbagai persoalan psikologis yang dialami individu.
Pada level paling atas, psikologi melihat manusia dalam konteks yang lebih luas. Perhatian diarahkan pada hubungan antara kondisi psikologis seseorang dengan lingkungan sosial dan budaya di sekitarnya.
Manusia tidak hidup sendirian. Cara seseorang berpikir, berperilaku, dan merasakan sesuatu dapat berkaitan dengan lingkungan sosial tempat ia tumbuh dan berinteraksi.
Pendekatan psikologi sosiokultural kemudian digunakan untuk mempelajari berbagai pertanyaan mengenai hubungan manusia dengan masyarakat dan kebudayaan.
Misalnya, apakah kelompok usia tertentu lebih rentan mengalami depresi dibandingkan kelompok lainnya? Bagaimana lingkungan sosial memengaruhi kebahagiaan seseorang? Atau bagaimana nilai dan budaya masyarakat membentuk perilaku individu?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa memahami manusia tidak cukup hanya dengan melihat kondisi biologis atau karakter pribadinya. Faktor lingkungan sosial dan budaya juga dapat memberikan pengaruh.
Baca Juga: Guru Madrasah Dapat Penguatan Numerasi lewat Program KREASI Kemenag dan Save the Children
Perjalanan ilmu psikologi dari masa Yunani Kuno hingga era modern menunjukkan bahwa pemahaman manusia terus berkembang.
Pertanyaan yang dahulu hanya menjadi bahan pemikiran para filsuf kini dapat diteliti menggunakan berbagai metode ilmiah. Psikologi pun berkembang menjadi bidang yang memiliki banyak cabang dengan fokus kajian berbeda.
Mulai dari otak, genetik, hormon, kepribadian, proses kognitif, hingga masyarakat dan budaya, berbagai pendekatan tersebut saling melengkapi dalam menjelaskan kompleksitas manusia.
Perkembangan ilmu psikologi juga menunjukkan bahwa tidak ada satu sudut pandang yang selalu cukup untuk menjelaskan seluruh perilaku manusia. Semakin banyak penelitian dilakukan, semakin luas pula pemahaman mengenai pikiran, emosi, kepribadian, dan perilaku manusia.
Karena itu, psikologi hingga saat ini masih menjadi bidang ilmu yang terus berkembang untuk mencari jawaban atas berbagai fenomena kehidupan manusia.***
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir