Keboncinta.com-- Ada kalanya kita merasa belum siap memilih. Kita menunggu waktu yang lebih tepat, informasi yang lebih lengkap, atau perasaan yang lebih yakin.
Tanpa sadar, penundaan berubah menjadi kebiasaan. Hal sederhana seperti memilih pekerjaan, menentukan jurusan, menerima sebuah kesempatan, atau memutuskan untuk mengakhiri sesuatu bisa membuat kita terlalu lama berpikir.
Padahal, tidak mengambil keputusan bukan berarti kita sedang berada di posisi netral. Waktu tetap berjalan, kesempatan bisa berubah, dan keadaan dapat bergerak tanpa menunggu kesiapan kita.
Ketika kita membiarkan semuanya berjalan begitu saja, sebenarnya kita sudah membiarkan keadaan menentukan arah.
Inilah alasan mengapa menunda memilih tetaplah sebuah keputusan. Bukan keputusan yang dibuat secara sadar untuk memilih A atau B, tetapi keputusan untuk membiarkan sesuatu tetap seperti sekarang.
Lantas, apa yang membuat kita sering memilih menunda? Salah satunya adalah ketakutan terhadap konsekuensi. Kita ingin memastikan bahwa pilihan yang diambil tidak membawa penyesalan.
Masalahnya, kepastian seperti itu hampir tidak pernah benar-benar ada. Bahkan keputusan yang sudah dipikirkan matang pun tetap memiliki risiko.
Menunda juga sering terasa nyaman karena kita belum harus menghadapi akibat dari sebuah pilihan.
Selama belum menentukan apa pun, kita tidak perlu menghadapi kemungkinan gagal. Namun, kenyamanan tersebut bisa memiliki harga. Kesempatan yang seharusnya bisa dicoba mungkin terlewat, sementara masalah yang ingin diselesaikan justru semakin panjang.
Karena itu, tidak semua keputusan harus dibuat dengan keyakinan seratus persen. Untuk beberapa hal, informasi yang cukup dan pertimbangan yang masuk akal sudah menjadi bekal yang memadai.
Kita bisa menentukan batas waktu untuk berpikir, mempertimbangkan hal yang paling penting, kemudian memilih langkah yang paling sesuai dengan keadaan.