KebonCinta.com -Rendahnya minat generasi muda terhadap sektor pertanian dan perikanan menjadi perhatian Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Pemerintah menilai pendidikan kejuruan perlu mengambil peran dalam memperkenalkan potensi kedua sektor tersebut sekaligus menyiapkan sumber daya manusia yang mampu mengelola kekayaan alam Indonesia.
Baca Juga: Pupuk Kujang Siapkan 8.885 Ton Urea Subsidi untuk Petani Cirebon, Begini Cara Menebusnya
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, mengungkapkan bahwa selama melakukan kunjungan ke berbagai daerah, dirinya jarang menemukan siswa sekolah dasar (SD) maupun sekolah menengah pertama (SMP) yang bercita-cita menjadi petani atau nelayan.
Sebagian besar siswa justru menyebut profesi seperti dokter, polisi, tentara, hingga anggota legislatif sebagai pekerjaan yang ingin mereka tekuni pada masa depan.
Baca Juga: TKA Gelombang II Diikuti 1,3 Juta Siswa, Hasilnya Jadi Bahan Evaluasi Pembelajaran
Fenomena tersebut menjadi perhatian tersendiri mengingat Indonesia memiliki potensi sumber daya alam yang besar, termasuk di bidang pertanian dan kelautan. Menurut Mu'ti, keberlanjutan sektor-sektor tersebut membutuhkan regenerasi tenaga kerja agar pengelolaannya tidak hanya bergantung pada generasi sebelumnya.
Baca Juga: Beasiswa PPA STAKat Negeri Pontianak 2026 Sediakan 299 Kuota, Pendaftaran Ditutup 4 November
Mu'ti menilai pandangan anak-anak terhadap profesi petani perlu diperluas. Selama ini, pekerjaan di sektor pertanian kerap diasosiasikan dengan aktivitas fisik yang berat, seperti mencangkul, bekerja di bawah terik matahari, dan berhadapan langsung dengan lumpur.
Padahal, perkembangan teknologi telah mengubah cara kerja sektor pertanian. Berbagai peralatan modern dan sistem pengelolaan berbasis teknologi memungkinkan kegiatan pertanian dilakukan secara lebih efektif dan efisien.
Dalam dialog bersama siswa, Mu'ti juga menekankan bahwa pertanian memiliki keterkaitan dengan hampir seluruh profesi. Kebutuhan pangan menjadi bagian mendasar dari kehidupan masyarakat, termasuk bagi mereka yang bekerja sebagai dokter, polisi, maupun profesi lainnya.
Ia pernah menemukan jawaban menarik dari seorang siswa kelas V SD di Wonosobo yang bercita-cita menjadi juragan sapi. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pengenalan terhadap potensi sektor agraris dapat membentuk cara pandang anak terhadap pilihan profesi.
Untuk menjawab persoalan regenerasi tenaga kerja, Kemendikdasmen berupaya mempertahankan sekaligus memperkuat program pendidikan kejuruan yang berkaitan dengan pertanian dan kelautan.
Kedua bidang tersebut mendapatkan perhatian khusus melalui kebijakan afirmatif agar semakin banyak peserta didik tertarik menekuni bidang keahlian yang berhubungan dengan pengelolaan sumber daya alam.
Upaya ini dinilai penting karena kebutuhan tenaga kerja di sektor pertanian tidak hanya berkaitan dengan aktivitas produksi, tetapi juga mencakup penguasaan teknologi, pengelolaan usaha, dan inovasi pengolahan hasil alam.
Pengalaman sejumlah negara juga menunjukkan bahwa sektor pertanian menghadapi persoalan regenerasi tenaga kerja. Jepang, misalnya, mengalami kekurangan pekerja di bidang pertanian sehingga membuka peluang bagi tenaga kerja asing, termasuk dari Indonesia.
Kondisi tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa keterampilan di bidang pertanian memiliki peluang kerja yang tidak terbatas pada pasar domestik.
Persoalan pengembangan keterampilan dan peluang kerja juga menjadi bagian dari perhatian pemerintah dalam melepas 3.030 lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) dan Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) untuk mengikuti program magang dan bekerja di luar negeri.
Dalam kegiatan yang berlangsung di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Kamis (29/10/2026), Mu'ti menekankan pentingnya menjaga identitas nasional di tengah pengalaman bekerja dan berkarier di negara lain.
Menurutnya, kesempatan bekerja di luar negeri dapat menjadi ruang bagi lulusan pendidikan vokasi untuk mengembangkan kompetensi, memperluas pengalaman profesional, sekaligus menunjukkan kemampuan tenaga kerja Indonesia di tingkat internasional.
Ia juga menilai keberhasilan seseorang tidak semata-mata ditentukan oleh tempat mereka bekerja, tetapi oleh kontribusi dan prestasi yang dapat diberikan melalui keterampilan yang dimiliki.
Pengembangan pendidikan vokasi, dengan demikian, tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja, tetapi juga membangun generasi muda yang mampu memanfaatkan potensi sumber daya alam, menguasai teknologi, dan bersaing dalam berbagai sektor pekerjaan.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir