KebonCinta.com – Masyarakat di berbagai wilayah Indonesia perlu bersiap menghadapi perubahan pola musim pada periode 2026/2027. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi awal musim hujan tahun ini cenderung datang lebih lambat dibandingkan kondisi normal.
Kondisi tersebut dipengaruhi oleh sejumlah fenomena iklim global, terutama El Niño dan Indian Ocean Dipole (IOD) yang berlangsung di sekitar wilayah Indonesia. Kombinasi kedua fenomena tersebut berpotensi memperpanjang periode kering di sejumlah daerah.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan, keberadaan El Niño dan IOD secara bersamaan menjadi salah satu faktor yang menyebabkan musim hujan datang lebih terlambat.
"Kombinasi fenomena El Nino dan IOD yang terjadi bersamaan ini memperparah dan memperpanjang periode kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia sehingga musim hujan datang terlambat dan terjadi lebih singkat," ujar Teuku Faisal dalam konferensi pers mengenai prediksi musim hujan yang disiarkan melalui kanal YouTube Info BMKG, Selasa (22/9/2026) lalu.
Kondisi tersebut membuat masyarakat perlu memperhatikan informasi cuaca dan iklim yang dikeluarkan BMKG, terutama di daerah yang masih mengalami periode kering ketika sebagian wilayah lain mulai memasuki musim hujan.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan, masuknya musim hujan di Indonesia tidak akan berlangsung secara serentak.
Sebagian besar wilayah diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada November hingga Desember 2026. Namun, terdapat pula daerah yang baru mengalami awal musim hujan setelah periode tersebut.
Dari karakteristik musim hujan 2026/2027, BMKG memperkirakan sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami kondisi curah hujan yang relatif normal.
Berdasarkan prediksi BMKG, sebanyak 510 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 69,76 persen luas daratan Indonesia diperkirakan mengalami musim hujan dengan sifat normal.
Sementara itu, sekitar 147 ZOM atau 18,55 persen luas daratan diprediksi mengalami kondisi lebih basah dari normal. Adapun 42 ZOM atau 11,69 persen luas daratan diperkirakan memiliki sifat hujan di bawah normal atau cenderung lebih kering.
Dalam pembaruan informasi yang disampaikan melalui media sosial BMKG, sebagian besar wilayah juga diperkirakan mengalami awal musim hujan yang lebih lambat dibandingkan kondisi normal.
Sebanyak 61,08 persen luas daratan atau 529 ZOM diprediksi memasuki musim hujan lebih lambat dari biasanya. Sementara itu, 2,15 persen wilayah atau 26 ZOM diperkirakan memasuki musim hujan sesuai dengan waktu normal.
Hanya sekitar 1,12 persen wilayah atau 11 ZOM yang diprediksi mengalami awal musim hujan lebih cepat dari normal.
Baca Juga: PPh 21 2027 Berlanjut! Gaji di Bawah Rp10 Juta Bakal Dapat Keringanan Pajak, Ini Bedanya
Selain memperkirakan awal musim hujan, BMKG juga memetakan periode yang berpotensi menjadi puncak musim hujan 2026/2027.
Secara umum, puncak musim hujan diprediksi terjadi pada Desember 2026 hingga Februari 2027. Desember menjadi bulan dengan cakupan wilayah terbesar yang mengalami puncak musim hujan.
Berikut perkiraan wilayah berdasarkan bulan puncak musim hujan:
Wilayah yang diperkirakan mengalami puncak musim hujan pada Desember antara lain:
Secara keseluruhan, sekitar 36,94 persen luas daratan Indonesia diperkirakan mencapai puncak musim hujan pada Desember 2026.
Pada Januari 2027, sejumlah wilayah juga diperkirakan mencapai periode hujan tertinggi. Daerah tersebut meliputi:
Cakupan wilayah yang mengalami puncak musim hujan pada Januari mencapai sekitar 25,68 persen luas daratan Indonesia.
Sementara itu, sekitar 16,79 persen wilayah Indonesia diperkirakan mengalami puncak musim hujan pada Februari 2027.
Wilayah tersebut meliputi:
Dengan demikian, masyarakat di wilayah tersebut perlu mencermati potensi hujan tinggi ketika memasuki periode puncak musim hujan masing-masing.
BMKG memiliki kriteria tertentu untuk menentukan apakah suatu wilayah telah memasuki musim hujan.
Suatu daerah dapat dikategorikan memasuki musim hujan apabila curah hujan mencapai sedikitnya 50 milimeter dalam satu dasarian, atau periode 10 hari.
Kondisi tersebut kemudian harus diikuti dengan curah hujan minimal 50 milimeter pada dua dasarian berikutnya secara berturut-turut.
Karena itu, turunnya hujan sekali atau dua kali belum otomatis menandakan sebuah wilayah telah memasuki musim hujan.
Waktu awal musim hujan juga dapat berbeda-beda antara satu wilayah dan wilayah lainnya. Berdasarkan perbandingan terhadap rata-rata klimatologis selama 30 tahun, awal musim hujan dapat dikategorikan lebih awal, normal, atau lebih lambat.
Meskipun awal musim hujan diperkirakan mengalami keterlambatan di banyak daerah, BMKG memprediksi akumulasi curah hujan musiman di sebagian besar wilayah Indonesia masih berada dalam kategori normal.
Wilayah dengan sifat hujan normal mencakup sekitar 69,6 persen luas daratan Indonesia atau 510 ZOM.
Wilayah yang masuk kategori tersebut antara lain sebagian besar Sumatera, sebagian besar Jawa, sebagian besar Bali, sebagian NTB, sebagian besar NTT, sebagian besar Kalimantan, sebagian besar Sulawesi, sebagian Maluku Utara, sebagian Maluku, serta sebagian besar Pulau Papua.
Artinya, meskipun kedatangan musim hujan diprediksi mundur di banyak wilayah, kondisi jumlah hujan secara keseluruhan tidak serta-merta berada pada kategori ekstrem.
Prediksi BMKG mengenai musim hujan 2026/2027 menjadi informasi penting bagi berbagai sektor, mulai dari pertanian, pengelolaan sumber daya air, transportasi, hingga kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi.
Daerah yang mengalami awal musim hujan lebih lambat perlu mewaspadai potensi kekeringan yang lebih panjang. Sebaliknya, wilayah yang memasuki periode hujan perlu meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi banjir, longsor, maupun dampak cuaca ekstrem lainnya.
Dengan pola musim yang tidak seragam, masyarakat disarankan tidak hanya berpatokan pada perkiraan umum kapan musim hujan dimulai. Informasi cuaca dan peringatan dini dari BMKG perlu diperhatikan secara berkala karena kondisi di setiap daerah dapat berbeda.
Desember diperkirakan menjadi periode puncak hujan dengan cakupan wilayah terbesar, disusul Januari dan Februari. Karena awal musim hujan berbeda-beda di setiap daerah, masyarakat perlu terus mengikuti pembaruan informasi BMKG untuk mengetahui kondisi cuaca dan musim di wilayah masing-masing.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir