Bisnis
Admin

Psikologi "Sunk Cost Fallacy": Kenapa Banyak Pengusaha Rela Rugi Miliaran Hanya Karena Alasan "Sayang Udah Terlanjur Keluar Modal"

Psikologi "Sunk Cost Fallacy": Kenapa Banyak Pengusaha Rela Rugi Miliaran Hanya Karena Alasan "Sayang Udah Terlanjur Keluar Modal"

27 Februari 2026 | 21:57

keboncinta.com--  Dalam dunia bisnis yang keras, sering kali kita diajarkan bahwa ketekunan adalah kunci utama kesuksesan dan menyerah adalah dosa besar bagi seorang pengusaha. Namun, ada batas tipis antara kegigihan yang cerdas dan kebodohan yang emosional, sebuah jebakan psikologis yang dikenal dengan istilah Sunk Cost Fallacy. Fenomena ini terjadi ketika seseorang terus melanjutkan investasi pada proyek, produk, atau strategi yang jelas-jelas gagal hanya karena mereka merasa sayang dengan waktu, uang, dan tenaga yang sudah terlanjur dikeluarkan di masa lalu. Logika yang dipakai sering kali terdengar heroik namun sebenarnya destruktif, yaitu "kita harus terus jalan agar modal yang kemarin tidak sia-sia," padahal uang yang sudah keluar tersebut tidak akan pernah bisa kembali lagi terlepas dari keputusan apa pun yang diambil hari ini.

Secara psikologis, manusia memiliki kecenderungan alami untuk menghindari kerugian atau yang disebut dengan loss aversion. Rasa sakit akibat kehilangan seratus juta rupiah jauh lebih dalam daripada rasa bahagia saat mendapatkan jumlah yang sama. Bagi seorang pengusaha, menutup lini bisnis yang merugi terasa seperti mengakui kegagalan personal dan membuang semua "darah dan air mata" yang telah dikorbankan. Inilah yang membuat banyak pemilik bisnis terus menyuntikkan dana ke dalam unit usaha yang "berdarah-darah" dengan harapan keajaiban akan datang, padahal secara rasional, dana tersebut jauh lebih produktif jika dialokasikan ke peluang baru yang lebih menjanjikan. Keputusan bisnis yang sehat seharusnya didasarkan pada potensi keuntungan di masa depan, bukan pada besarnya pengeluaran di masa lalu yang sudah menjadi sejarah.

Efek ini juga sering disebut sebagai "Efek Concorde," merujuk pada pengembangan jet supersonik yang terus didanai oleh pemerintah Inggris dan Prancis meskipun secara ekonomi sudah terbukti tidak layak, hanya karena mereka merasa sudah terlalu banyak berinvestasi secara finansial dan reputasi. Dalam skala yang lebih kecil, kita sering melihat pengusaha toko ritel yang tetap mempertahankan lokasi yang sepi hanya karena sisa kontrak sewa masih panjang, atau pengembang aplikasi yang terus menambah fitur pada produk yang tidak laku hanya karena sudah membayar tim programmer mahal selama setahun. Mereka lupa bahwa setiap rupiah baru yang dibuang untuk mengejar "modal yang hilang" sebenarnya adalah kerugian tambahan yang semakin memperdalam lubang kebangkrutan mereka sendiri.

Untuk keluar dari jebakan ini, seorang pengusaha harus mampu melakukan "pemikiran berbasis nol" atau zero-based thinking. Cobalah bertanya pada diri sendiri: "Jika saya tidak pernah memulai proyek ini dan hari ini saya memiliki sisa uang yang sama, apakah saya akan memilih untuk menginvestasikannya ke proyek ini sekarang?" Jika jawabannya adalah tidak, maka berhenti sekarang juga adalah keputusan yang paling menguntungkan secara finansial. Memotong kerugian bukan berarti Anda gagal, melainkan Anda sedang menyelamatkan aset yang tersisa untuk dialihkan ke kemenangan yang lebih besar. Menjadi berani dalam bisnis bukan hanya soal berani mengambil risiko, tetapi juga soal berani mengakui kesalahan dan berani berhenti sebelum semuanya habis tak tersisa.

Tags:
Tips Bisnis Strategi Bisnis Sunk Cost Fallacy Manajemen Risiko

Komentar Pengguna