Gaya Hidup
Rahman Abdullah

Quiet Covering pada Gen Z di Kantor, Mengapa Banyak Pekerja Memilih Menyembunyikan Sisi Dirinya?

Quiet Covering pada Gen Z di Kantor, Mengapa Banyak Pekerja Memilih Menyembunyikan Sisi Dirinya?

08 November 2026 | 18:46

KebonCinta.com-- Pernah menjumpai rekan kerja Generasi Z yang tampak pendiam, berekspresi datar, atau tidak terlalu menunjukkan antusiasme saat berada di kantor? Sikap tersebut tidak selalu berarti mereka malas, tidak peduli, atau kehilangan semangat bekerja.

Di balik perilaku yang terlihat sederhana itu, bisa saja ada alasan lain yang berkaitan dengan tekanan sosial dan tuntutan profesional. Salah satu fenomena yang mulai mendapat perhatian adalah quiet covering, yaitu kecenderungan seseorang menahan atau menyembunyikan bagian tertentu dari dirinya agar terhindar dari penilaian negatif di lingkungan kerja.

Fenomena ini memberikan sudut pandang baru dalam memahami perilaku pekerja muda. Sebab, tidak semua orang merasa nyaman menampilkan kepribadian secara terbuka ketika berada dalam lingkungan profesional yang memiliki ekspektasi tertentu.

Quiet Covering, Ketika Pekerja Merasa Harus Menjaga Citra

Dalam dunia kerja, kemampuan menyelesaikan tugas bukan satu-satunya hal yang memengaruhi penilaian terhadap seorang karyawan. Cara berkomunikasi, tingkat antusiasme, kepercayaan diri, serta kemampuan menyesuaikan diri dengan budaya perusahaan juga dapat memengaruhi pandangan atasan maupun rekan kerja.

Situasi tersebut terkadang membuat pekerja merasa perlu mengatur bagaimana dirinya terlihat di hadapan orang lain. Mereka mungkin memilih untuk tidak banyak berbicara, membatasi ekspresi emosi, atau tidak menceritakan persoalan pribadi yang dianggap berpotensi memengaruhi citra profesional.

Menurut Tia Katz, pendiri Hu-X, sikap tenang dan ekspresi minim pada sebagian pekerja dapat menjadi bentuk respons terhadap lingkungan kerja yang menuntut keterlibatan emosional cukup besar.

Dengan kata lain, seseorang yang tampak tidak terlalu ekspresif belum tentu kehilangan minat terhadap pekerjaannya. Bisa jadi, ia sedang berusaha menjaga batas antara dirinya sebagai individu dan peran yang harus dijalankan sebagai seorang profesional.

Baca Juga: 6 Pertanyaan Jebakan Interview Kerja yang Sering Muncul dan Cara Menjawabnya agar Dilirik HRD 

Memahami Arti Quiet Covering di Lingkungan Kerja

Istilah covering diperkenalkan oleh Profesor Kenji Yoshino untuk menjelaskan upaya seseorang menyamarkan atau membatasi penampilan aspek tertentu dari identitasnya agar tidak menjadi sasaran stereotip maupun perlakuan negatif.

Hal yang ditutupi dapat berkaitan dengan ras atau etnis, gender, orientasi seksual, usia, agama, disabilitas, hingga karakteristik pribadi lainnya.

Dalam konteks pekerjaan, praktik tersebut bisa muncul dalam berbagai bentuk. Seorang karyawan, misalnya, mungkin enggan membicarakan kondisi kesehatan mentalnya karena khawatir dianggap kurang mampu menghadapi tekanan. Ada pula pekerja yang menyesuaikan cara berbicara, perilaku, atau ekspresinya agar lebih sesuai dengan gambaran karyawan ideal di perusahaan.

Quiet covering tidak selalu terlihat secara langsung. Bahkan, seseorang yang tampak tenang dan mampu berbaur dengan baik mungkin sedang berusaha keras menyembunyikan sisi dirinya yang dianggap tidak sesuai dengan ekspektasi lingkungan.

Mengapa Gen Z Merasa Perlu Menutupi Diri?

Berdasarkan data penelitian yang dikutip dalam referensi, pekerja Generasi Z disebut memiliki kemungkinan dua kali lebih besar melakukan covering dibandingkan generasi baby boomer. Sebanyak 56 persen pekerja Gen Z dalam studi tersebut juga dilaporkan melakukan covering ketika berhadapan dengan bagian sumber daya manusia atau HR.

Selain itu, hampir separuh responden Gen Z disebut menyembunyikan persoalan kesehatan mental, kebiasaan perawatan diri, atau pengalaman masa lalu. Langkah ini dilakukan untuk mempertahankan citra profesional sekaligus menjaga peluang pengembangan karier.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa keputusan untuk menutupi sisi pribadi tidak selalu muncul tanpa alasan. Sebagian pekerja mungkin merasa bahwa keterbukaan justru berisiko memengaruhi cara mereka dinilai oleh perusahaan.

Penelitian Hu-X bersama HiBob juga mencatat sejumlah alasan di balik perilaku tersebut. Sebanyak 55 persen responden mengaku melakukan covering untuk mempertahankan citra profesional, sementara 48 persen ingin memperoleh penerimaan sosial.

Adapun 46 persen menghubungkannya dengan upaya menghindari diskriminasi. Persentase yang sama menyebut keinginan mendapatkan kesempatan promosi, kenaikan gaji, atau bonus. Sementara itu, 43 persen mengaitkan covering dengan penilaian kinerja tahunan.

Angka-angka ini menunjukkan bahwa tekanan untuk menyesuaikan diri dapat berkaitan dengan hubungan sosial sekaligus pertimbangan karier.

Dampak Quiet Covering terhadap Kreativitas dan Produktivitas

Menjaga citra profesional mungkin terasa sebagai langkah yang menguntungkan dalam situasi tertentu. Namun, apabila dilakukan terus-menerus hingga seseorang merasa harus menyembunyikan bagian penting dari dirinya, kebiasaan tersebut berpotensi menimbulkan tekanan.

Dalam studi Hu-X dan HiBob yang dikutip dalam referensi, sebanyak 64 persen pekerja Gen Z dilaporkan mengalami stres sedang hingga berat yang berkaitan dengan quiet covering.

Dampak lainnya juga terlihat pada kreativitas dan produktivitas. Sebanyak 55 persen responden melaporkan pengaruh terhadap kreativitas serta inovasi, sedangkan 54 persen mengalami penurunan produktivitas dan efisiensi.

Pengaruhnya tidak berhenti pada pekerjaan sehari-hari. Keterlibatan karyawan, perkembangan karier, performa kerja, hingga kehidupan di luar kantor juga disebut dapat terdampak.

Ketika seseorang terus memikirkan bagaimana dirinya akan dinilai, energi dan perhatian yang seharusnya digunakan untuk bekerja bisa terbagi. Kondisi ini berpotensi membuat pekerja kurang leluasa menyampaikan gagasan, mengungkapkan kesulitan, atau menunjukkan kemampuan terbaiknya.

Meski demikian, data tersebut tidak berarti setiap pekerja Gen Z yang pendiam pasti mengalami quiet covering.

LANJUT MEMBACA
Jelajahi Artikel
1 / 2
LANJUTKAN MEMBACA Selanjutnya
Tags:
Quiet covering Gen Z Dunia Kerja

Komentar Pengguna