News
M. Fadhli Dzil Ikram

Rezeki Terasa Seret? Kenali Dosa yang Sering Tidak Disadari

Rezeki Terasa Seret? Kenali Dosa yang Sering Tidak Disadari

03 November 2026 | 12:31

Seorang muslim juga harus memperhatikan cara mendapatkan dan menggunakan hartanya.

Allah SWT berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 188:

وَلَا تَأْكُلُوْٓا اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوْا بِهَآ اِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوْا فَرِيْقًا مِّنْ اَمْوَالِ النَّاسِ بِالْاِثْمِ وَاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

Artinya:

"Janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada para hakim dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui."

Ayat ini menegaskan larangan mengambil atau menguasai harta orang lain melalui cara yang tidak benar.

Karena itu, menjaga kejujuran dalam bekerja, berdagang, dan melakukan transaksi menjadi bagian penting untuk memperoleh rezeki yang halal dan berkah.

5. Memutus Silaturahmi

Memutus hubungan kekeluargaan juga termasuk perbuatan yang dilarang dalam Islam. Perselisihan, perbedaan pendapat, maupun persoalan pribadi seharusnya tidak menjadi alasan untuk memelihara permusuhan tanpa berusaha mencari jalan penyelesaian.

Rasulullah SAW menjelaskan bahwa menyambung silaturahmi memiliki keutamaan, termasuk dilapangkan rezeki dan dipanjangkan umur.

Sebaliknya, Al-Qur'an memberikan peringatan kepada orang-orang yang memutus hubungan kekeluargaan dalam surah Muhammad ayat 22–23:

فَهَلْ عَسَيْتُمْ اِنْ تَوَلَّيْتُمْ اَنْ تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ وَتُقَطِّعُوْٓا اَرْحَامَكُمْ ۝٢٢ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ لَعَنَهُمُ اللّٰهُ فَاَصَمَّهُمْ وَاَعْمٰٓى اَبْصَارَهُمْ ۝٢٣

Artinya:

"Apakah seandainya berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaanmu? Mereka itulah orang-orang yang dilaknat oleh Allah. Lalu, Dia menulikan (pendengaran) dan membutakan penglihatan mereka."

Menjaga silaturahmi dapat dilakukan melalui berbagai cara sederhana, seperti mengunjungi keluarga, menanyakan kabar, membantu kerabat yang membutuhkan, atau tetap berkomunikasi dengan baik.

6. Gibah atau Membicarakan Aib Orang Lain

Gibah sering dianggap sebagai obrolan biasa dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, membicarakan keburukan seseorang yang tidak disukainya merupakan perbuatan yang dilarang dalam Islam.

Kebiasaan menggunjing dapat menimbulkan permusuhan, merusak hubungan sosial, dan menyakiti perasaan orang lain.

Allah SWT memberikan perumpamaan yang sangat tegas mengenai gibah dalam surah Al-Hujurat ayat 12:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ

Artinya:

"Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang."

Ayat tersebut mengingatkan agar seorang muslim menjaga lisan dan tidak menjadikan keburukan orang lain sebagai bahan pembicaraan.

7. Dusta atau Berbohong

Dusta merupakan perilaku tercela yang dapat merusak kepercayaan dan hubungan antarmanusia. Kebiasaan berbohong dalam pekerjaan, perdagangan, maupun kehidupan sehari-hari juga bertentangan dengan nilai kejujuran yang diajarkan Islam.

Dalam kegiatan ekonomi, misalnya, seseorang yang sengaja menyampaikan informasi palsu mengenai barang dagangan dapat merugikan pembeli. Begitu pula pekerja yang terbiasa memalsukan laporan atau mengingkari kesepakatan.

Allah SWT berfirman dalam surah An-Nahl ayat 105:

اِنَّمَا يَفْتَرِى الْكَذِبَ الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِۚ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْكٰذِبُوْنَ

Artinya:

"Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah. Mereka itulah para pembohong."

Kejujuran menjadi dasar penting dalam membangun kepercayaan. Dengan bersikap jujur, seseorang dapat menjaga hubungan baik sekaligus menjalankan aktivitas ekonomi sesuai tuntunan agama.

Baca Juga: Ketika Rezeki Terasa Lambat, Bagaimana Islam Mengajarkan Kita untuk Tetap Berikhtiar? 

Cara Menghindari Dosa yang Menghambat Keberkahan Rezeki

Setelah mengetahui berbagai perilaku tersebut, seorang muslim perlu melakukan introspeksi terhadap kehidupan sehari-hari. Upaya memperbaiki diri tidak cukup hanya dengan meningkatkan penghasilan, tetapi juga harus disertai perbaikan akhlak dan ibadah.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

  1. Memperkuat tauhid, dengan menggantungkan harapan dan doa hanya kepada Allah SWT.
  2. Menjaga salat lima waktu, sekalipun memiliki kesibukan pekerjaan.
  3. Berbakti kepada orang tua, melalui perkataan yang baik dan perhatian sesuai kemampuan.
  4. Memastikan kehalalan penghasilan, dengan menghindari penipuan, suap, dan praktik yang dilarang agama.
  5. Menjaga silaturahmi, serta berusaha menyelesaikan perselisihan keluarga dengan cara yang baik.
  6. Menjaga lisan, dengan menghindari gibah, fitnah, dan kebiasaan merendahkan orang lain.
  7. Membiasakan kejujuran, baik dalam pekerjaan, perdagangan, maupun kehidupan sosial.

Rezeki Bukan Hanya tentang Banyaknya Harta

Dalam Islam, rezeki tidak selalu berbentuk uang atau kekayaan materi. Kesehatan, ketenteraman hati, keluarga yang harmonis, ilmu yang bermanfaat, dan kesempatan berbuat baik juga merupakan bagian dari nikmat Allah SWT.

Karena itu, ketika menghadapi kesulitan ekonomi, seorang muslim tidak seharusnya langsung menganggapnya sebagai hukuman akibat dosa tertentu.

LANJUT MEMBACA
Jelajahi Artikel
2 / 3
HALAMAN SEBELUMNYA Sebelumnya LANJUTKAN MEMBACA Selanjutnya
Tags:
Dosa Penghambat Rezeki Rezeki dalam Islam Keberkahan Hidup

Komentar Pengguna