KebonCinta.com - Susunan balok yang roboh atau kancing baju yang belum berhasil dipasang bisa membuat anak kesal. Ada yang langsung meminta bantuan, memilih meninggalkan kegiatannya, atau ingin mencoba lagi meski masih merasa kecewa.
Dalam situasi seperti ini, respons orang tua menjadi bagian dari pengalaman anak menghadapi kesulitan. Mendampingi dapat dimulai dengan mendengarkan, memberi waktu, lalu menawarkan bantuan sesuai kebutuhan.
Memberi ruang untuk mencoba lagi bukan berarti menuntut anak terus mengulang sampai berhasil. Anak juga perlu kesempatan beristirahat dan menentukan kapan ia siap melanjutkan kegiatan.
Sebelum mengajak anak mengulang, perhatikan reaksinya. Jika ia terlihat kecewa, orang tua dapat membuka percakapan dengan kalimat sederhana, seperti, “Kamu kesal karena baloknya jatuh, ya?”
Baca Juga: Saat Pengalaman Anak Terus Disangkal, Bagaimana Gaslighting Bisa Terjadi dalam Keluarga?
Beri kesempatan anak menyampaikan apa yang dirasakan tanpa segera menyela dengan nasihat. Hindari komentar yang meremehkan kesulitannya, misalnya, “Begitu saja kok tidak bisa?”
Sesuatu yang terlihat mudah bagi orang dewasa mungkin masih membutuhkan usaha besar bagi anak. Karena itu, pendampingan perlu disesuaikan dengan kemampuan dan keadaan anak saat itu.
Ajakan mencoba kembali dapat disampaikan tanpa tekanan. Orang tua bisa bertanya, “Mau istirahat dulu atau mencoba sekali lagi?”
Jika anak memilih berhenti sejenak, beri waktu untuk beralih dari kegiatan tersebut. Kesempatan mencoba ulang tetap dapat ditawarkan ketika ia sudah lebih tenang.
Perhatikan pula apakah kegiatan terlalu sulit atau anak mulai lelah. Mengulang pekerjaan yang sama tanpa menyesuaikan tantangannya belum tentu menjadi pengalaman yang menyenangkan.
Baca Juga: Selalu Dituntut Sempurna, Mengapa Anak Bisa Merasa Tidak Pernah Cukup Baik?
Ketika anak bersedia melanjutkan, ajak ia melihat bagian yang belum berhasil. Pertanyaan konkret seperti, “Balok yang mana tadi mulai miring?” lebih mudah diarahkan pada kegiatan yang sedang dilakukan.
Orang tua dapat menawarkan satu petunjuk, misalnya mencoba balok yang lebih lebar sebagai dasar. Setelah itu, beri anak kesempatan menyusun bagian berikutnya.
Pada kegiatan lain, bantuan bisa berupa memegang salah satu bagian atau memperagakan satu langkah. Sesuaikan bantuan agar anak masih memiliki bagian yang dapat dikerjakan sendiri.
Apresiasi tidak harus menunggu hasilnya sempurna. Orang tua dapat menyebut usaha yang terlihat, seperti, “Tadi kamu mencoba susunan yang berbeda,” atau “Kamu sudah memasang satu kancing sendiri.”
Kalimat yang konkret menunjukkan bagian pekerjaan yang telah dilakukan anak. Hindari membandingkan kecepatannya dengan saudara atau teman karena setiap anak dapat membutuhkan waktu berbeda.
Jika percobaan berikutnya belum berhasil, orang tua tetap dapat mengakhiri kegiatan dengan tenang. “Kita simpan dulu, nanti bisa dicoba lagi,” menjadi salah satu pilihan ketika anak sudah lelah.
Baca Juga: Ajak Anak Menghias Kamar, Kenalkan Proses Belajar Lewat Proyek Sederhana
Ruang untuk mencoba lagi hadir melalui kesempatan, bantuan, dan waktu yang sesuai. Dengan pendampingan tersebut, anak dapat melanjutkan proses belajarnya tanpa merasa harus selalu berhasil pada setiap percobaan.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir