Khazanah
M. Fadhli Dzil Ikram

Salat Jalan tapi Suka Pamer? Waspada Masuk Golongan Pendusta Agama dalam Al-Ma'un

Salat Jalan tapi Suka Pamer? Waspada Masuk Golongan Pendusta Agama dalam Al-Ma'un

04 November 2026 | 08:30

Keboncinta.com — Istilah pendusta agama dalam pandangan Islam tidak selalu merujuk pada seseorang yang secara terang-terangan mengingkari keberadaan Allah SWT atau menolak kebenaran syariat. Tanpa disadari, predikat pendusta agama justru kerap melekat pada sikap hidup dan perilaku sosial sehari-hari seorang hamba. Peringatan tegas mengenai fenomena ini telah dijelaskan secara langsung oleh Allah SWT di dalam Al-Qur'an melalui Surat Al-Ma'un.

Surat yang terdiri dari tujuh ayat ini menyingkap hakikat keimanan seseorang yang tidak hanya diukur dari pengakuan lisan maupun rutinitas ibadah ritual semata, melainkan juga dari kepekaan sosial dan ketulusan hati. Lantas, apa saja perilaku keseharian yang dikategorikan sebagai ciri-ciri pendusta agama menurut penjelasan para ahli tafsir dalam Surat Al-Ma'un?

Daftar Ciri Pendusta Agama Berdasarkan Surat Al-Ma'un

Di dalam Surat Al-Ma'un, Allah SWT memaparkan lima karakteristik utama orang-orang yang mendustakan agama dan hari pembalasan, yang mencakup pelanggaran terhadap hak sesama manusia (habluminannas) maupun kelalaian dalam hubungan kepada Sang Pencipta (habluminallah).

Baca Juga: Tipisnya Batas Antara Syukur dan Riya: Membongkar Tren Pamer Pencapaian Berkedok Kalimat Thayyibah di Media Sosial 

1. Menghardik dan Berbuat Zalim kepada Anak Yatim

Tanda pertama dari orang yang mendustakan agama dalam pembuka Surat Al-Ma'un adalah perilaku kasar dan sewenang-wenang terhadap anak yatim. Merujuk pada penjelasan dalam Tafsir Ringkas Kemenag, tindakan menghardik anak yatim mencakup segala bentuk perbuatan yang menyakiti perasaan mereka, berbuat zalim, serta menahan atau merampas hak-hak yang semestinya mereka terima. Pelakunya cenderung menutup mata dan tidak memiliki kepedulian terhadap anak-anak yang telah kehilangan sosok ayah sebagai sandaran hidupnya.

Dalam keseharian, penghardikan ini sering kali tampak melalui penolakan kasar maupun bentakan ketika seorang anak yatim datang meminta bantuan guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Sikap buruk tersebut lahir dari kesombongan serta kecenderungan merendahkan kaum yang lemah.

Senada dengan hal itu, M. Khalilurrahman al-Mahfani dalam bukunya yang berjudul Dahsyatnya Doa Anak Yatim menerangkan bahwa para ulama tafsir memaknai tindakan menghardik sebagai perilaku semena-mena, pengabaian hak, hingga penganiayaan terhadap anak yatim. Bahkan, salah satu riwayat mengenai sebab turunnya (asbabun nuzul) ayat pertama Surat Al-Ma'un mengisahkan peristiwa ketika Abu Sufyan memukul seorang anak yatim yang datang meminta makanan kepadanya.

2. Enggan Memberi Makan dan Membantu Fakir Miskin

Karakteristik kedua yang disorot dalam Surat Al-Ma'un adalah matinya empati terhadap penderitaan fakir miskin. Allah SWT menggambarkan pendusta agama sebagai pribadi yang bersikap acuh tak acuh terhadap nasib kaum papa dan enggan mengulurkan tangan untuk membantu memenuhi kebutuhan pokok mereka.

Berdasarkan uraian Tafsir Kemenag, keengganan ini tidak hanya terbatas pada penolakan memberi makan secara langsung, tetapi juga terlihat dari sikap pasif yang tidak mau menganjurkan atau mengajak orang lain untuk menyantuni kaum miskin. Sifat kikir dan kecintaan berlebih terhadap harta benda membuat hati seseorang tertutup untuk menggerakkan kebaikan bersama. Padahal, seseorang yang sedang berada dalam keterbatasan materi sekalipun tetap memiliki peluang beramal dengan cara mendorong pihak lain yang berkecukupan agar mau berbagi kepada sesama.

3. Lalai dalam Mendirikan Ibadah Salat

Memasuki aspek ibadah ritual, Surat Al-Ma'un mengecam keras orang-orang yang celaka karena lalai dari salatnya. Mengutip pemaparan Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy dalam buku Tafsir Al-Quranul Majid An-Nur Jilid 4, makna kelalaian dalam salat tidak hanya berkaitan dengan urusan waktu pelaksanaan. Lebih jauh dari itu, lalai juga mencakup kondisi ketika seseorang mengerjakan salat sebatas gerakan fisik dan ucapan lisan, tanpa disertai kehadiran hati (khusyuk) serta penghayatan terhadap makna ibadahnya.

Akibat dari salat yang kehilangan ruhnya ini, pelakunya tidak memahami esensi bacaan maupun gerakan yang dikerjakan. Salatnya pun gagal memberikan dampak positif terhadap pembentukan akhlak, tidak mampu mencegah perbuatan keji, serta tidak sanggup melembutkan hati yang keras.

Sementara itu, Darwis Abu Ubaidah melalui bukunya Tafsir Al-Asas menjelaskan bahwa kategori lalai dalam salat juga meliputi kebiasaan menunda-nunda pelaksanaan salat hingga melewati batas waktu yang utama, termasuk kesengajaan mengerjakan salat di luar waktunya tanpa adanya uzur yang dibenarkan syariat.

Baca Juga: Pesan Menyejukkan Habib Umar untuk Ayu Ting Ting: “Tugas Ibu Mendidik Anak Adalah Amal Jariyah Tak Terputus” 

4. Melakukan Ibadah Salat secara Riya

Ciri keempat dari pendusta agama adalah mengotori kemurnian ibadah dengan penyakit riya. Sifat riya terjadi ketika seseorang menunaikan amal kebajikan bukan karena Allah SWT, melainkan didorong oleh keinginan untuk dilihat, dipuji, atau mendapatkan pengakuan dari orang lain.

Dalam hal ibadah salat, orang yang riya mengerjakannya demi mempertontonkan kesalehan di hadapan manusia, bukan semata-mata untuk menghamba kepada Allah SWT.

LANJUT MEMBACA
Jelajahi Artikel
1 / 2
LANJUTKAN MEMBACA Selanjutnya
Tags:

Komentar Pengguna