Khazanah
Tegar Bagus Pribadi

Tipisnya Batas Antara Syukur dan Riya: Membongkar Tren Pamer Pencapaian Berkedok Kalimat Thayyibah di Media Sosial

Tipisnya Batas Antara Syukur dan Riya: Membongkar Tren Pamer Pencapaian Berkedok Kalimat Thayyibah di Media Sosial

30 Juni 2026 | 15:17

keboncinta.com--  Dalam lanskap digital hari ini, kita sering kali menyaksikan sebuah fenomena yang cukup mengkhawatirkan di mana ekspresi syukur sering kali terdistorsi menjadi ajang pamer terselubung. Banyak pengguna media sosial yang dengan lihai membungkus pencapaian duniawi mereka—seperti jabatan baru, harta benda mewah, atau prestasi karier—dengan balutan kalimat thayyibah seperti "Alhamdulillah", "MasyaAllah", atau "Tabarakallah". Sepintas, ini tampak seperti tindakan saleh yang menyanjung kebesaran Tuhan. Namun, jika kita membedah lebih dalam melalui kacamata khazanah Islam, terdapat garis yang sangat tipis dan krusial antara ketulusan bersyukur dan jebakan riya atau pamer yang terselubung. Penggunaan kalimat-kalimat suci ini sebagai pembuka atau penutup dari pameran harta dan status sering kali hanyalah mekanisme pertahanan ego untuk melegitimasi kesombongan agar tampak religius di mata pengikut. Fenomena ini menciptakan disonansi spiritual yang akut, di mana tujuan utama dari konten tersebut bukan lagi untuk mengajak orang lain berdzikir, melainkan untuk mengundang pujian dan validasi atas superioritas pencapaian diri sendiri.

Secara analisis psikologi perilaku, perilaku ini berakar dari haus akan validasi sosial yang diekspresikan melalui topeng kesalehan. Otak manusia secara alami mendambakan pengakuan, dan dengan menggunakan label religius, seseorang secara cerdas meminimalisir risiko dianggap sombong oleh orang lain, padahal intensi hatinya sangat kontradiktif. Dalam khazanah Islam, riya adalah penyakit hati yang sangat halus, sering kali diibaratkan seperti langkah semut hitam yang berjalan di atas batu hitam pada malam yang gelap. Ketika seseorang mengumumkan kenikmatannya secara publik dengan tujuan agar orang lain tahu, memuji, atau merasa iri, maka pada saat itulah keberkahan dari nikmat tersebut mulai tergerus. Syukur yang hakiki menuntut ketersembunyian yang mendalam antara hamba dan Penciptanya; syukur adalah tentang kerendahan hati yang mengakui bahwa segala pencapaian hanyalah titipan sementara, bukan panggung untuk mengukuhkan harga diri di hadapan manusia.

Meruntuhkan jebakan riya yang terselubung ini menuntut kita untuk melakukan audit niat yang sangat jujur sebelum menekan tombol unggah di media sosial. Kita harus berani bertanya pada diri sendiri dengan pertanyaan yang menusuk nurani: "Jika tidak ada satu orang pun yang memberi tanda suka (like) atau berkomentar pujian pada unggahan ini, apakah saya tetap akan membagikannya?". Menjadi muslim yang berdaulat berarti mampu memisahkan antara ruang syukur yang bersifat privat dengan kebutuhan untuk sekadar mencari validasi di ruang publik. Kedewasaan iman yang sejati tercermin saat seseorang mampu menikmati kenikmatan dari Allah dengan cara yang lebih elegan, yakni dengan menjaganya tetap dalam batas kesederhanaan, menyalurkan kebermanfaatannya kepada mereka yang membutuhkan secara senyap, dan menyimpan pujian hanya untuk Sang Pemberi Nikmat, bukan untuk khalayak media sosial yang fana.

Sebagai contoh konkret dari tipisnya batas ini, kita bisa melihat profil seorang individu yang baru saja membeli kendaraan mewah; alih-alih sekadar bersyukur dalam sujud, ia membuat unggahan foto detail barang tersebut dengan narasi "Alhamdulillah, berkat doa ibu bisa beli ini", yang sebenarnya merupakan cara halus untuk memamerkan kapasitas finansialnya agar terlihat sukses di mata teman-teman lamanya. Ini adalah bentuk komodifikasi kalimat thayyibah yang merusak kemurnian tauhid. Sebaliknya, contoh nyata yang jauh lebih mulia adalah seseorang yang mendapatkan promosi jabatan besar, ia tidak mengunggah apa pun ke media sosial, namun ia secara diam-diam mentransfer sejumlah dana sedekah ke panti asuhan sebagai bentuk syukur yang nyata. Dia membiarkan keberhasilan itu terbukti melalui akhlak kerjanya yang semakin baik dan kebermanfaatannya bagi orang lain, bukan melalui deretan foto di layar gawai. Contoh praktis terakhir untuk melatih otot kerendahan hati ini adalah menerapkan teknik "Jeda Sebelum Unggah" (the 15-minute gratitude pause); setiap kali lo merasa ingin mengunggah pencapaian diri, tunggulah selama 15 menit, lalu tanyakan kembali apakah unggahan itu benar-benar akan mendekatkan diri lo kepada Allah atau justru mendekatkan diri lo kepada jebakan riya. Intervensi cara berpikir yang jujur, objektif, dan berbasis pada kejernihan hati ini akan secara instan meruntuhkan keangkuhan ego pencari validasi, menjaga kemurnian syukur lo dari noda pamer, serta memastikan lo tumbuh menjadi manusia merdeka yang sukses di bumi namun tetap menjadi hamba yang tulus di sisi Allah SWT kelak.

Tags:
Khazanah Islam Bersyukur Riya

Komentar Pengguna