Keboncinta.com-- Dalam sejarah kerajaan di Indonesia, Trah Mataram Islam merupakan salah satu dinasti terbesar dan paling berpengaruh dalam sejarah Jawa.
Namun di balik keagungan keraton dan kehalusan budayanya, dinasti ini tidak pernah lepas dari arus perebutan tahta yang terus bergolak dari masa ke masa.
Sejak wafatnya Sultan Agung (1645 M), Mataram memasuki periode panjang ketegangan, ketika ambisi, legitimasi, dan campur tangan kekuatan asing saling bertaut dan melahirkan perjalanan sejarah yang penuh drama dan pergolakan.
Setelah Sultan Agung mangkat, Mataram berada di bawah kepemimpinan Amangkurat I. Ia memerintah dengan kekuasaan yang sangat terpusat, membungkam lawan politik, dan mengontrol para bangsawan dengan ketat.
Baca Juga: Berapa sih Batas Wajar Konsumsi Gula Setiap Hari? Ini Penjelasan Lengkapnya!
Meski keraton tetap terlihat tenang dari luar, suasana curiga menyelimuti ruang-ruang dalam istana. Ketidakpuasan rakyat dan bangsawan lama-kelamaan memuncak hingga akhirnya meledak dalam pemberontakan Trunajaya.
Momentum inilah yang membuka celah besar dalam struktur kekuasaan dan menandai babak baru perebutan tahta di tubuh Mataram.
Ketika Amangkurat I wafat (1677 M) dalam kondisi kerajaan yang retak, Amangkurat II naik ke tampuk kekuasaan. Namun legitimasi yang ia miliki tidak diterima sepenuhnya oleh para bangsawan.
Pangeran Puger, saudaranya sendiri, tampil sebagai sosok tandingan yang merasa lebih layak menduduki tahta. Perseteruan mereka tidak hanya menjadi konflik keluarga biasa, tetapi benar-benar membelah istana dan wilayah Mataram.
Baca Juga: Raja Abdullah II Anugerahkan Tanda Kehormatan Tertinggi Yordania kepada Presiden Prabowo
Keadaan semakin rumit ketika VOC mulai ikut campur, mendukung pihak yang dianggap paling menguntungkan bagi kepentingan kolonial. Keraton Mataram berubah menjadi arena tarik-menarik kekuatan, tempat suara rakyat dan nilai-nilai lama sering tergilas oleh kepentingan politik dan ekonomi.
Dalam situasi yang semakin tidak menentu tersebut, muncul Pangeran Mangkubumi, tokoh karismatik yang menolak kebijakan keraton dan penjajah. Ia meninggalkan pusat kerajaan dan bergerak bersama rakyat yang memandangnya sebagai pewaris sah nilai-nilai Mataram.
Di pedesaan yang luas, gerakannya mendapat dukungan besar, sehingga ketegangan kian meruncing. Pertempuran, negosiasi, dan manuver politik akhirnya bermuara pada Perjanjian Giyanti tahun 1755.
Melalui perjanjian itu, Mataram resmi terbelah menjadi dua bagian: Kasunanan Surakarta yang dipimpin keturunan Pakubuwana, dan Kasultanan Yogyakarta yang dipimpin Hamengkubuwono I. Sejak itu, Mataram tidak lagi berdiri sebagai satu kerajaan, tetapi menjadi dua pusat kebudayaan yang berkembang dengan cara masing-masing.
Baca Juga: Pemerintah Denmark Ambil Langkah Tegas: Sosial Media Dilarang bagi Anak di Bawah 15 Tahun
Kasunanan Surakarta, yang berdiri sebagai penerus garis resmi Mataram, tetap menunjukkan keindahan arsitektur keraton, tata upacara yang anggun, dan budaya istana yang kaya simbol.
Namun sejarah panjang kerajaan ini terus diwarnai keretakan internal. Pada masa kolonial, keberadaan Belanda yang memiliki pengaruh besar dalam penetapan kebijakan membuat kedudukan raja tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh tradisi Mataram, melainkan juga oleh strategi politik kolonial.
Kondisi tersebut menjadikan Surakarta sebagai kerajaan yang sering berada dalam ketegangan, baik antara keluarga kerajaan maupun antara istana dan rakyat.
Selanjutnya, ketika memasuki era modern dan terutama setelah reformasi, kisruh Kasunanan Surakarta mencapai titik baru yang paling nyata.
Dualisme kepemimpinan muncul dari perbedaan klaim atas tahta di antara anggota keluarga keraton. Situasi ini menciptakan suasana tegang yang tidak lagi tertutup, melainkan terlihat jelas oleh masyarakat luas.
Baca Juga: Konferensi Wakaf Internasional 2025: Momentum Kebangkitan Wakaf Produktif untuk Kesejahteraan Umat
Sebagian bangunan keraton terkunci, beberapa upacara adat harus diselenggarakan terpisah oleh dua kubu berbeda, dan banyak aset budaya tidak terurus dengan baik.
Ketenangan keraton yang biasanya menjadi ciri khas budaya Jawa perlahan berubah menjadi ruang penuh ketidakpastian dan kekisruhan bernuansa politik.
Di luar tembok keraton, masyarakat Surakarta menyaksikan bagaimana keraton yang mereka banggakan tidak mampu menemukan titik temu. Para abdi dalem kebingungan menentukan loyalitas, sementara pegiat budaya harus berjuang sendiri menjaga kelestarian tradisi.
Meski demikian, banyak pihak tetap berharap bahwa keraton, sebagai simbol besar sejarah Mataram, suatu hari akan kembali menemukan kesatuan dan wibawanya.
Tradisi besar yang hidup di dalamnya, dari tari, gamelan, hingga upacara adat, tetap menjadi poros kebudayaan Jawa yang tidak boleh hilang.
Masih terjadinya kisruh Kasunanan Surakarta hingga hari ini menjadi bukti bahwa perebutan tahta dalam Trah Mataram Islam bukan hanya cerita masa lalu, tetapi alur panjang sejarah yang masih bergema hingga era modern.
Konflik yang bermula dari perebutan legitimasi di abad ke-17 kini menjelma menjadi tantangan pelestarian budaya dalam dunia yang terus berubah.***