KebonCinta.com - Keberhasilan sekolah tidak semestinya hanya diukur dari nilai akademik, jumlah piala, atau pencapaian dalam berbagai kompetisi.
Lingkungan yang aman, nyaman, dan bebas dari kekerasan juga menjadi faktor penting agar peserta didik dapat belajar, mengembangkan potensi, dan meraih prestasi secara optimal.
Baca Juga: Dampak Siswa Menyontek di Sekolah, Bisa Hambat Kemampuan Belajar dan Pembentukan Karakter
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mendorong penguatan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN) melalui Peraturan Menteri
Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 6 Tahun 2026. Kebijakan ini menekankan pentingnya lingkungan pendidikan yang mendukung perlindungan fisik, kesejahteraan psikologis, keamanan sosial budaya, serta perilaku yang beradab di ruang digital.
Baca Juga: Survei KPK 2026 Ungkap 26 Persen Siswa Masih Menyontek, Guru Juga Disorot
Kepala Pusat Penguatan Karakter (Puspeka) Kemendikdasmen, Rusprita Putri Utami, menjelaskan bahwa upaya membangun lingkungan sekolah yang aman tidak seharusnya dipertentangkan dengan kewajiban guru memenuhi target kurikulum. Keduanya justru saling mendukung dalam proses pendidikan.
Dalam webinar internasional bertema Pendidikan Bermutu untuk Semua: Peran Guru dalam Mewujudkan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman, ia menekankan bahwa peserta didik akan kesulitan belajar secara optimal ketika berada dalam situasi yang membuat mereka takut, tertekan, tidak diterima, atau mengalami perundungan.
Baca Juga: Survei KPK 2026 Ungkap 26 Persen Siswa Masih Menyontek, Guru Juga Disorot
Karena itu, penciptaan lingkungan belajar yang aman bukan sekadar tambahan tugas bagi guru, melainkan bagian mendasar dari penyelenggaraan pembelajaran.
Peserta didik membutuhkan lebih dari sekadar materi pelajaran dan metode pengajaran yang efektif.
Mereka juga perlu merasa dihargai, memiliki hubungan sosial yang sehat, serta mendapatkan ruang untuk bertanya, menyampaikan pendapat, dan mengakui kesalahan tanpa takut dipermalukan.
Kondisi tersebut dapat mendukung keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran.
Sebaliknya, lingkungan yang dipenuhi tekanan atau kekerasan berpotensi menghambat keberanian mereka untuk berpartisipasi dan mengembangkan kemampuan.
Dengan demikian, prestasi akademik dan keamanan psikologis tidak semestinya dipandang sebagai dua tujuan yang saling bersaing.
Sekolah justru perlu membangun kondisi yang memungkinkan keduanya berkembang secara bersamaan.
Penerapan BSAN juga membutuhkan keterlibatan seluruh unsur sekolah. Tanggung jawab tersebut tidak dapat dibebankan kepada guru seorang diri,
tetapi perlu didukung oleh kepala sekolah, tenaga kependidikan, orang tua atau wali murid, serta peserta didik.
Orientasi pendidikan yang hanya menitikberatkan pada nilai dan kompetisi berisiko mengabaikan pengalaman belajar peserta didik sehari-hari.
Padahal, kualitas pendidikan juga tercermin dari bagaimana sekolah memperlakukan setiap anak, merespons tindakan kekerasan, dan memberikan kesempatan yang setara untuk berkembang.
Melalui penguatan budaya sekolah yang aman dan nyaman, satuan pendidikan diharapkan tidak hanya menghasilkan peserta didik berprestasi,
tetapi juga menyediakan ruang tumbuh yang mendukung perkembangan mereka secara menyeluruh.
Pada akhirnya, sekolah yang berkualitas bukan hanya tempat peserta didik dituntut mencapai hasil terbaik, melainkan lingkungan yang memungkinkan mereka belajar tanpa rasa takut.
Target kurikulum tetap penting, tetapi upaya mencapainya perlu berjalan seiring dengan perlindungan, penghormatan, dan pemenuhan kebutuhan peserta didik.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir