Parenting
Azzahra Esa Nabila

Selalu Harus Bahagia? Mengurai Toxic Positivity di Balik Layar Media Sosial

Selalu Harus Bahagia? Mengurai Toxic Positivity di Balik Layar Media Sosial

29 April 2026 | 09:53

Keboncinta.com-- Di beranda media sosial, semuanya terlihat baik-baik saja. Senyum yang tidak pernah pudar, kata-kata motivasi yang seolah selalu tepat, dan pesan-pesan yang mengajak untuk “tetap positif apa pun yang terjadi”. Sekilas, ini tampak seperti hal yang baik. Siapa yang tidak ingin hidup dengan pikiran positif?

Namun, di balik itu, ada fenomena yang mulai banyak dibicarakan: toxic positivity. Istilah ini merujuk pada dorongan untuk selalu berpikir positif secara berlebihan, bahkan ketika situasi sebenarnya tidak baik-baik saja. Perasaan sedih, marah, atau kecewa dianggap sebagai sesuatu yang harus segera ditekan atau diabaikan.

Konten-konten motivasi yang singkat dan menarik memang mudah menyebar, tetapi tidak selalu memberi ruang bagi emosi yang lebih kompleks. Masalahnya bukan pada pesan positif itu sendiri, tetapi pada cara penyampaiannya.

Dalam kajian Psikologi, emosi negatif seperti sedih atau marah adalah bagian alami dari pengalaman manusia. Menekan emosi tersebut justru dapat memperburuk kondisi mental, karena perasaan yang tidak diakui cenderung muncul kembali dalam bentuk lain. Toxic positivity sering muncul dalam bentuk kalimat yang terdengar sederhana, seperti “jangan sedih”, “pikirkan yang baik-baik saja”, atau “orang lain lebih susah dari kamu”. Niatnya mungkin baik, tetapi tanpa disadari, kalimat-kalimat ini bisa membuat seseorang merasa tidak dipahami.

Alih-alih merasa didukung, mereka justru merasa harus menyembunyikan perasaannya. Di media sosial, tekanan ini bisa semakin kuat. Ketika mayoritas konten menampilkan kehidupan yang terlihat bahagia, muncul kesan bahwa kesedihan adalah sesuatu yang “tidak seharusnya ada”. Padahal, realitas tidak selalu seperti itu. Menariknya, banyak orang mulai menyadari hal ini dan mencoba menghadirkan konten yang lebih jujur. Cerita tentang kegagalan, kelelahan, dan proses yang tidak sempurna mulai mendapat tempat. Ini menjadi tanda bahwa audiens sebenarnya tidak hanya membutuhkan motivasi, tetapi juga kejujuran.

Karena menjadi positif bukan berarti menolak perasaan negatif. Akan tetapi mampu melihat harapan tanpa mengabaikan kenyataan. Media sosial bisa tetap menjadi ruang yang menyenangkan, tetapi juga perlu menjadi ruang yang manusiawi, di mana semua perasaan punya tempat.

Karena tidak apa-apa untuk tidak selalu baik-baik saja. Dan justru dari kejujuran itulah, proses pemulihan bisa benar-benar dimulai.

Tags:
Gen Z life Relationship Tips Toxic Positivitas

Komentar Pengguna