KebonCinta.com-- Kebiasaan membuka media sosial berulang kali, menonton video pendek selama berjam-jam, hingga berpindah dari satu aplikasi ke aplikasi lain kini menjadi bagian dari keseharian banyak orang. Namun, pola konsumsi konten yang berlebihan dapat membuat waktu istirahat, belajar, dan aktivitas yang membutuhkan konsentrasi semakin terganggu.
Sebagian orang mungkin mulai merasakan sulit mempertahankan perhatian, cepat bosan saat membaca, atau mudah lupa terhadap informasi yang baru diterima. Kondisi tersebut kerap dikaitkan dengan istilah brain rot yang populer di tengah meningkatnya penggunaan perangkat digital.
Istilah brain rot sendiri bukan diagnosis medis resmi. Sebutan ini digunakan secara populer untuk menggambarkan kekhawatiran terhadap kebiasaan mengonsumsi konten digital secara berlebihan dan dampaknya terhadap kemampuan berpikir.
Sejumlah penelitian mengenai penggunaan media digital mulai menelaah kaitannya dengan perhatian, memori, kualitas tidur, dan kesehatan mental. Meski demikian, hubungan tersebut tidak berarti bahwa penggunaan media sosial secara langsung menyebabkan kerusakan otak pada setiap orang.
Karena itu, memahami kebiasaan digital sekaligus menjaga kesehatan otak menjadi langkah penting agar aktivitas sehari-hari tetap berjalan dengan baik.
Baca Juga: Janissari, Pasukan Elite Turki Utsmani yang Ditakuti Dunia, Ini Sejarah dan Kontroversinya
Brain rot merupakan istilah populer untuk menggambarkan kekhawatiran terhadap penurunan ketajaman berpikir yang dikaitkan dengan konsumsi konten digital berkualitas rendah atau berlebihan.
Fenomena ini sering dihubungkan dengan kebiasaan berpindah aplikasi secara terus-menerus, menonton video singkat tanpa batas, dan mencari hiburan instan setiap kali merasa bosan.
Ketika perhatian terus dialihkan oleh notifikasi atau konten baru, seseorang bisa mengalami kesulitan mempertahankan fokus pada satu pekerjaan. Aktivitas seperti membaca buku, mengerjakan tugas, atau mempelajari informasi yang kompleks pun terasa lebih menantang.
Meski begitu, kesulitan berkonsentrasi tidak selalu berkaitan dengan brain rot. Kurang tidur, stres, kecemasan, kelelahan, dan berbagai faktor kesehatan lainnya juga dapat memengaruhi daya ingat serta perhatian seseorang.
Ada sejumlah perubahan yang patut diperhatikan ketika penggunaan perangkat digital mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.
Seseorang mungkin sering memeriksa ponsel ketika sedang belajar, bekerja, atau membaca. Perhatian yang berulang kali teralihkan membuat pekerjaan lebih sulit diselesaikan secara optimal.
Aktivitas yang membutuhkan perhatian dalam waktu lama bisa terasa membosankan ketika seseorang terbiasa menerima rangsangan singkat secara terus-menerus. Namun, kebiasaan ini tidak otomatis menandakan adanya gangguan kognitif.
Baca Juga: Bantuan Masjid Rp50 Juta dan Musala Rp35 Juta dari Kemenag 2026, Cek Syarat dan Batas Pengajuan
Kesulitan mengingat informasi terkadang muncul karena perhatian tidak sepenuhnya tertuju pada hal yang sedang dilakukan. Akibatnya, informasi tidak diproses secara optimal sejak awal.
Kebiasaan berpindah tugas dapat membuat seseorang kesulitan mengikuti alur pemikiran yang panjang. Padahal, memahami bacaan, menganalisis masalah, dan mengambil keputusan membutuhkan perhatian yang terarah.
Terlalu banyak informasi, notifikasi, dan aktivitas digital dapat membuat seseorang merasa kewalahan. Jika disertai kurang tidur atau tekanan pekerjaan, kondisi tersebut dapat memperburuk konsentrasi.
Gejala-gejala ini bukan alat untuk mendiagnosis brain rot. Apabila gangguan memori atau konsentrasi berlangsung terus-menerus, semakin berat, atau menghambat aktivitas harian, sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Kabar baiknya, ada sejumlah kebiasaan sederhana yang dapat membantu menjaga perhatian dan mendukung kesehatan otak. Langkah-langkah berikut bisa diterapkan secara bertahap tanpa harus meninggalkan teknologi sepenuhnya.
Langkah awal yang bisa dilakukan adalah mengevaluasi durasi penggunaan media sosial setiap hari.
Tetapkan batas waktu yang realistis, matikan notifikasi yang tidak penting, dan hindari membuka aplikasi secara otomatis setiap kali merasa bosan.
Saat belajar atau bekerja, letakkan ponsel di luar jangkauan agar perhatian tidak mudah teralihkan.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir