SINTA vs Scopus: Apa Bedanya dan Mana yang Lebih Rekomended di Dunia Akademik?

SINTA vs Scopus: Apa Bedanya dan Mana yang Lebih Rekomended di Dunia Akademik?

31 Maret 2026 | 22:05

Keboncinta.com-- Bagi mahasiswa, peneliti, atau siapa pun yang mulai terjun ke dunia akademik, istilah jurnal SINTA dan Scopus pasti sering terdengar. Keduanya kerap disebut dalam diskusi tentang publikasi ilmiah, syarat kelulusan, hingga kenaikan jabatan dosen. Tidak jarang juga muncul anggapan bahwa salah satunya lebih “bergengsi” dari yang lain.

Namun sebenarnya, apa sih perbedaan antara jurnal SINTA dan Scopus? Apakah keduanya bisa dibandingkan secara langsung?

Untuk memahami hal ini, kita perlu melihat peran masing-masing dalam ekosistem publikasi ilmiah.

Di Indonesia, SINTA adalah sistem yang dikembangkan oleh pemerintah untuk mengindeks dan menilai kualitas jurnal ilmiah nasional. SINTA bukanlah jurnal, melainkan platform yang mengelompokkan jurnal-jurnal di Indonesia berdasarkan kualitasnya.

Dalam sistem ini, jurnal diberi peringkat mulai dari SINTA 1 hingga SINTA 6. Semakin kecil angkanya, semakin tinggi kualitas dan reputasinya. Penilaian ini biasanya didasarkan pada berbagai aspek, seperti kualitas artikel, konsistensi penerbitan, serta proses peer review.

Sementara itu, Scopus adalah database internasional yang mengindeks jurnal-jurnal dari berbagai negara di dunia. Scopus dikelola oleh perusahaan global dan memiliki standar seleksi yang cukup ketat.

Jurnal yang terindeks Scopus biasanya telah melalui proses evaluasi yang kompleks, mulai dari kualitas editorial, dampak sitasi, hingga kontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan secara global. Karena cakupannya internasional, publikasi di jurnal Scopus sering dianggap memiliki jangkauan yang lebih luas.

Perbedaan utama antara keduanya sebenarnya terletak pada skala dan fungsi.

SINTA lebih berfokus pada ekosistem akademik di dalam negeri. Ia membantu memetakan kualitas jurnal Indonesia dan mendorong peningkatan mutu publikasi nasional. Bagi mahasiswa dan dosen di Indonesia, jurnal yang terindeks SINTA sering menjadi syarat penting dalam tugas akhir atau kenaikan jabatan.

Di sisi lain, Scopus beroperasi di tingkat global. Publikasi di jurnal yang terindeks Scopus berarti penelitian tersebut dapat diakses dan dibaca oleh komunitas akademik internasional. Hal ini tentu memberikan peluang lebih besar untuk mendapatkan sitasi dan pengakuan yang lebih luas.

 

Lalu, apakah Scopus selalu “lebih tinggi” dari SINTA?

 

Secara umum, banyak yang menganggap jurnal Scopus memiliki tingkat prestise yang lebih tinggi karena seleksinya lebih ketat dan cakupannya internasional. Namun bukan berarti jurnal SINTA tidak berkualitas. Banyak jurnal SINTA, terutama yang berada di peringkat atas, memiliki kualitas yang sangat baik dan bahkan sedang dalam proses menuju indeks internasional seperti Scopus.

Yang menarik, hubungan antara keduanya sebenarnya tidak sepenuhnya terpisah. Beberapa jurnal Indonesia yang sudah terindeks Scopus juga otomatis mendapatkan penilaian tinggi di SINTA. Artinya, keduanya bisa saling terhubung dalam ekosistem akademik.

Bagi penulis pemula, memahami perbedaan ini bisa membantu menentukan langkah yang tepat. Publikasi di jurnal SINTA sering menjadi pintu awal untuk belajar menulis ilmiah secara sistematis. Dari sana, penulis bisa berkembang dan mencoba menembus jurnal internasional seperti yang terindeks Scopus.

Tags:
pendidikan nasional Kreatif dan Produktif Tumbuh dan Berkarya Gen Milenial Wajib Tau!

Komentar Pengguna