Pendidikan
Dewi Safitri

Skor PISA 2025 Indonesia Masih Rendah, Apakah Kecerdasan Anak Diukur dari Nilai Akademik?

Skor PISA 2025 Indonesia Masih Rendah, Apakah Kecerdasan Anak Diukur dari Nilai Akademik?

10 Oktober 2026 | 02:32

KebonCinta.com - Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 kembali menyoroti tantangan pendidikan Indonesia.

Namun, capaian yang masih tertinggal dari rata-rata negara anggota Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) perlu dibaca secara lebih mendalam. 

Skor rendah tidak serta-merta menunjukkan bahwa anak Indonesia tidak cerdas, tetapi dapat menjadi petunjuk adanya persoalan dalam proses pembelajaran.

Baca Juga: 65 Soal TKA Bahasa Inggris Kelas 12 2026, Lengkap dengan Bacaan dan Kunci Jawaban 

Berdasarkan hasil yang dirilis OECD pada 8 September 2026, Indonesia memperoleh skor rata-rata 389 untuk sains, 364 untuk matematika, dan 365 untuk membaca. Angka tersebut masih berada di bawah rata-rata OECD, masing-masing 482 untuk sains, 463 untuk matematika, dan 461 untuk membaca.

Tantangan juga terlihat dari proporsi peserta didik yang mencapai Level 2 atau lebih. 

Di Indonesia, capaian tersebut baru diraih oleh 37 persen peserta didik dalam sains, 17 persen dalam matematika, dan 27 persen dalam membaca.

Baca Juga: Bukan Dipaksa, Ini 6 Cara Membuat Anak Senang Membaca Buku Sejak Kecil 

Data ini menunjukkan bahwa penguatan kemampuan dasar peserta didik masih menjadi pekerjaan penting. Meski demikian, hasil asesmen tersebut tidak seharusnya dijadikan ukuran tunggal untuk menilai kecerdasan anak. 

PISA mengukur kemampuan tertentu, terutama bagaimana peserta didik menggunakan pengetahuan dan keterampilannya untuk menyelesaikan persoalan yang berkaitan dengan kehidupan nyata.

Baca Juga: Mengajak Siswa Gemar Membaca, Apakah Mudah? 

Pendidikan Tidak Cukup Mengandalkan Hafalan

Kecerdasan manusia memiliki dimensi yang lebih luas daripada sekadar kemampuan menjawab soal dengan benar. 

Kemampuan memahami hubungan antarkonsep, mengenali pola, belajar dari pengalaman, serta menerapkan pengetahuan dalam situasi baru juga merupakan bagian penting dari proses berpikir.

Gagasan Ray Kurzweil dalam How to Create a Mind menempatkan pengenalan pola sebagai salah satu unsur mendasar dalam cara kerja pikiran manusia. 

Melalui pengalaman, manusia membangun hubungan antara informasi yang diterima, kemudian menggunakan pemahaman tersebut untuk membaca situasi dan memperkirakan kemungkinan yang akan terjadi.

Perspektif ini relevan untuk mengevaluasi pendekatan pembelajaran di sekolah. 

Peserta didik tidak cukup hanya menguasai materi melalui hafalan, tetapi perlu memperoleh kesempatan untuk memahami konsep, 

menghubungkan pengetahuan, dan menggunakannya untuk memecahkan masalah.

Dengan demikian, rendahnya capaian PISA semestinya mendorong evaluasi terhadap kualitas proses belajar, 

bukan justru melabeli peserta didik sebagai kelompok yang kurang cerdas.

Hasil PISA Perlu Menjadi Bahan Evaluasi Sistem Pendidikan

Hasil PISA dapat dimanfaatkan sebagai salah satu instrumen untuk melihat sejauh mana pendidikan membantu peserta didik mengembangkan kemampuan membaca, bernalar secara matematis, dan memahami persoalan sains. 

Data tersebut juga menjadi pengingat bahwa capaian akademik perlu ditopang oleh proses pembelajaran yang mendorong pemahaman dan penerapan pengetahuan.

Evaluasi tidak cukup berhenti pada perbandingan peringkat antarnegara. 

Pemerintah, sekolah, dan pendidik perlu menjadikan hasil asesmen sebagai dasar untuk mengidentifikasi kesenjangan pembelajaran, 

memperkuat literasi dan numerasi, serta membangun lingkungan belajar yang mendukung kemampuan berpikir kritis.

Pada akhirnya, persoalan utama bukan hanya mengapa skor PISA Indonesia masih rendah, 

melainkan bagaimana sistem pendidikan dapat membantu anak mengembangkan potensinya secara lebih optimal. 

Angka asesmen penting untuk membaca kondisi pendidikan, tetapi tidak dapat mewakili keseluruhan kapasitas dan potensi setiap anak Indonesia.

Tags:
lingkungan belajar asesmen pendidikan kecerdasan anak Pendidikan Indonesia

Komentar Pengguna