KebonCinta.com - Kesungguhan mengikuti pelajaran menjadi perhatian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti. Ia menyoroti anggapan bahwa murid tetap akan naik kelas meskipun usaha yang dilakukan selama belajar berbeda.
Mu’ti menyebut keadaan tersebut dengan istilah “RMS” atau “rajin malas sama saja”. Sorotan ini disampaikan dalam pembahasan rekomendasi mengenai mekanisme kenaikan kelas dari Dewan Pendidikan Nasional.
“Karena banyak murid itu yang mengikuti rumus RMS: rajin malas sama saja,” kata Abdul Mu’ti, sebagaimana dimuat dalam pemberitaan resmi BPMP Kepulauan Riau.
Istilah RMS digunakan Mu’ti untuk menggambarkan persepsi bahwa kesungguhan belajar tidak memengaruhi kelanjutan kelas. Murid merasa tetap akan melanjutkan ke tingkat berikutnya meskipun usaha belajarnya berbeda.
Baca Juga: Mengapa Kebijakan Tidak Naik Kelas Diusulkan Kembali? Ini Alasan yang Disampaikan Mendikdasmen
Menurut penjelasan BPMP Kepulauan Riau, sorotan tersebut berkaitan dengan keinginan membangun kembali kebiasaan belajar dan semangat berkompetisi di kalangan peserta didik. Perkembangan serta capaian belajar menjadi perhatian dalam pembahasan itu.
Pernyataan tersebut perlu dipahami sebagai perhatian terhadap budaya belajar. Istilah RMS tidak menjadi dasar untuk menyimpulkan bahwa semua murid memiliki sikap yang sama terhadap pendidikan.
Dalam publikasi Dewan Pendidikan Nasional, Mu’ti menempatkan pembentukan karakter dan kebiasaan belajar sebagai bagian dari peningkatan mutu pendidikan. Perhatian tersebut berjalan bersama pengembangan kemampuan akademik murid.
Kesungguhan belajar dapat terlihat dalam kegiatan sehari-hari. Misalnya, murid berusaha memahami materi yang belum dikuasai, menindaklanjuti masukan guru, atau bertanya ketika menemukan kesulitan.
Contoh tersebut merupakan gambaran keterlibatan dalam proses belajar. Murid yang mengalami kesulitan tetap membutuhkan pendampingan agar dapat mengenali hambatan dan menemukan langkah untuk melanjutkan pembelajaran.
Baca Juga: Kemendikdasmen Siapkan 60 Fasilitator PAUD 2026, Perkuat Pembelajaran Mendalam dan Inklusif
Dewan Pendidikan Nasional juga mencatat bahwa Mu’ti mendorong pembiasaan sikap rajin belajar, kesiapan berkompetisi, serta ketangguhan pada murid. Penguatan karakter itu menjadi bagian dari perhatian Kemendikdasmen terhadap mutu pendidikan.
Dalam keseharian sekolah, ruang untuk melatih sikap tersebut dapat hadir melalui tugas yang sesuai kemampuan, kesempatan memperbaiki pekerjaan, dan umpan balik yang jelas.
Sebagai contoh, ketika jawaban belum tepat, guru dapat menunjukkan bagian yang perlu diperiksa kembali. Murid kemudian mendapat kesempatan meninjau cara berpikirnya dan memperbaiki hasil pekerjaan. Kegiatan seperti ini memberi tempat bagi usaha dan perkembangan selama belajar.
Pembahasan mengenai kesungguhan murid muncul bersama rekomendasi perubahan mekanisme kenaikan kelas. Namun, Dewan Pendidikan Nasional menegaskan bahwa rekomendasi tersebut masih membutuhkan kajian akademik dan masukan pakar, serta belum menjadi ketentuan yang diterapkan secara nasional.
Baca Juga: Mendikdasmen Minta Bahasa Daerah Dibiasakan di Rumah dan Sekolah, 490 Siswa Ikuti FTBI Jateng 2026
Sorotan “rajin malas sama saja” membawa perhatian pada pentingnya keterlibatan murid dalam pembelajaran. Sekolah perlu memberi kesempatan bagi murid untuk berusaha, memperoleh bantuan, dan menunjukkan perkembangan, sehingga proses belajar memiliki makna dalam keseharian mereka.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir