Keboncinta.com-- Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai mengubah cara banyak orang menyelesaikan pekerjaan. Berbagai alat berbasis AI digunakan untuk membantu tugas, mulai dari merangkum informasi hingga mencari ide.
Di tengah perubahan tersebut, muncul fenomena yang dikenal sebagai quiet covering. Istilah ini menggambarkan kecenderungan pekerja menyembunyikan bagian tertentu dari dirinya atau cara mereka bekerja agar tidak mendapatkan penilaian negatif di lingkungan profesional.
Pada pekerja Generasi Z, fenomena tersebut juga dikaitkan dengan penggunaan AI secara diam-diam. Sebagian pekerja muda memanfaatkan teknologi untuk membantu menyelesaikan tugas, tetapi tidak selalu mengungkapkannya kepada atasan karena khawatir penggunaan AI justru membuat mereka dinilai kurang mampu atau meningkatkan risiko kehilangan pekerjaan.
AI dapat digunakan untuk berbagai aktivitas di lingkungan profesional. Pekerja memanfaatkannya untuk merangkum dokumen atau catatan rapat, mencari gagasan, menganalisis data, membuat laporan, hingga membantu pekerjaan pemrograman.
Bagi sebagian pekerja, keberadaan teknologi tersebut dapat membantu mempercepat proses penyelesaian tugas. AI juga dapat menjadi alat pendukung ketika seseorang membutuhkan ide awal atau ingin mengolah informasi dalam jumlah besar.
Namun, persoalannya tidak hanya berkaitan dengan seberapa sering teknologi tersebut digunakan. Cara pekerja memandang penggunaan AI di lingkungan kerja juga menjadi bagian penting.
Ketika aturan perusahaan belum jelas atau pekerja merasa penggunaan AI dapat menimbulkan penilaian tertentu, sebagian orang memilih tidak terbuka mengenai teknologi yang mereka gunakan.
Kekhawatiran mengenai masa depan pekerjaan menjadi salah satu alasan pekerja muda enggan mengungkapkan penggunaan AI.
Dalam survei terhadap lebih dari 1.000 pekerja Gen Z dan milenial di Amerika Serikat, sebanyak 47 persen responden mengatakan mereka khawatir AI dapat menggantikan pekerjaan mereka. Kekhawatiran tersebut menjadi salah satu alasan utama mereka tidak ingin terbuka mengenai penggunaan AI.
Selain itu, sekitar 30 persen responden menyatakan tidak mengetahui kebijakan perusahaan terkait penggunaan AI atau bekerja di perusahaan yang belum memiliki aturan yang jelas mengenai teknologi tersebut.
Situasi ini menciptakan persoalan tersendiri. Di satu sisi, AI dapat menjadi alat yang membantu meningkatkan efisiensi pekerjaan. Di sisi lain, ketidakjelasan aturan dan kekhawatiran mengenai keamanan pekerjaan dapat membuat karyawan memilih menggunakan teknologi tersebut tanpa membicarakannya dengan atasan.
Quiet covering pada dasarnya berkaitan dengan perilaku menyembunyikan bagian tertentu dari diri sendiri agar dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan profesional.
Konsep covering sendiri telah digunakan untuk menggambarkan tindakan seseorang dalam menyamarkan atribut atau aspek tertentu agar terhindar dari stereotip, penilaian, atau perlakuan yang tidak diinginkan. Dalam perkembangan pembahasan mengenai dunia kerja, konsep tersebut juga dikaitkan dengan upaya menyembunyikan kesenjangan kemampuan.
Dalam konteks penggunaan AI, hal yang ditutupi bukan selalu identitas pribadi, tetapi cara seseorang menyelesaikan pekerjaannya.
Seorang pekerja mungkin sebenarnya menggunakan AI untuk membantu menyusun ide atau merangkum informasi, tetapi memilih tidak memberitahukan hal tersebut kepada rekan kerja maupun pimpinan.
Perilaku seperti ini menunjukkan bahwa perubahan teknologi juga dapat memengaruhi cara pekerja menampilkan kemampuan mereka di lingkungan profesional.
Fenomena quiet covering tidak hanya berkaitan dengan AI. Survei Attensi terhadap 2.000 pekerja dari berbagai industri dan kelompok usia menunjukkan bahwa 58 persen responden mengaku melakukan skill masking, yaitu menyembunyikan kekurangan pengetahuan atau kemampuan.
Hampir separuh responden juga mengaku pernah berpura-pura memahami sesuatu di tempat kerja. Sementara itu, 40 persen mengatakan mereka memilih tidak meminta bantuan meskipun belum yakin bagaimana menyelesaikan tugas tertentu.
Data tersebut memberikan gambaran bahwa sebagian pekerja menghadapi tekanan untuk terlihat mampu dan memahami pekerjaan yang diberikan.
Dalam situasi seperti itu, AI dapat menjadi salah satu alat yang digunakan secara diam-diam untuk membantu memenuhi tuntutan pekerjaan. Namun, alasan seseorang merahasiakan penggunaan AI dapat berbeda-beda, mulai dari kekhawatiran terhadap penilaian hingga ketakutan mengenai masa depan karier.
Studi Hu-X dan HiBob mengenai quiet covering pada Gen Z mencatat sejumlah dampak yang dilaporkan responden.
Sebanyak 64 persen melaporkan mengalami stres sedang hingga berat. Kemudian 56 persen menyebut keterlibatan mereka di tempat kerja menurun, sementara 55 persen mengatakan kreativitas dan inovasi ikut terdampak.
Dari sisi produktivitas dan efisiensi, 54 persen responden melaporkan adanya penurunan. Dampak lainnya berkaitan dengan perkembangan karier sebesar 40 persen, kehidupan di luar pekerjaan sebesar 43 persen, serta kinerja sebesar 47 persen.
Angka-angka tersebut merupakan hasil survei dan menggambarkan pengalaman responden, sehingga tidak berarti setiap pekerja Gen Z mengalami dampak yang sama.
Meski demikian, temuan tersebut menunjukkan bahwa perilaku menyembunyikan kemampuan, kebutuhan bantuan, atau aspek tertentu dalam pekerjaan dapat menjadi persoalan yang patut diperhatikan dalam lingkungan profesional.
Meningkatnya penggunaan AI membuat perusahaan menghadapi kebutuhan baru dalam mengatur teknologi di tempat kerja.
Aturan yang jelas dapat membantu karyawan memahami penggunaan AI yang diperbolehkan, jenis informasi yang tidak boleh dimasukkan ke dalam layanan AI, serta kapan penggunaan teknologi tersebut perlu diungkapkan.
Persoalan ini juga berkaitan dengan keamanan data. Salah satu survei terhadap pekerja Gen Z dan milenial menunjukkan lebih dari 60 persen responden menggunakan aplikasi atau perangkat lunak pribadi untuk pekerjaan, bukan hanya perangkat yang disediakan perusahaan. Kondisi tersebut dapat menimbulkan persoalan keamanan apabila informasi perusahaan dimasukkan ke layanan yang tidak disetujui organisasi.
Karena itu, perkembangan AI tidak hanya membutuhkan teknologi, tetapi juga pemahaman mengenai aturan, keamanan informasi, pelatihan, dan komunikasi antara pekerja dengan perusahaan.
Quiet covering memperlihatkan bahwa persoalan di tempat kerja tidak selalu muncul dalam bentuk konflik terbuka. Ada pula pekerja yang memilih menyembunyikan kesulitan, kebutuhan bantuan, atau cara mereka menyelesaikan pekerjaan agar tetap terlihat kompeten dan profesional.
Pada saat yang sama, kehadiran AI menambah dimensi baru dalam fenomena tersebut. Teknologi dapat membantu pekerja menyelesaikan tugas dengan lebih efisien, tetapi kekhawatiran mengenai penggantian pekerjaan dan ketidakjelasan aturan dapat membuat penggunaannya dilakukan secara tertutup.
Bagi dunia kerja, kondisi ini menunjukkan pentingnya komunikasi yang terbuka mengenai teknologi.