Keboncinta.com — Pernikahan bukan sekadar menyatukan dua insan, tetapi juga membangun kehidupan bersama yang berlandaskan kasih sayang, tanggung jawab, dan ketaatan kepada Allah SWT. Karena itu, memilih pasangan tidak cukup hanya mempertimbangkan perasaan dan kecocokan lahiriah. Kualitas iman serta akhlak juga menjadi hal penting.
Selain memohon agar dipertemukan dengan pasangan yang saleh atau salehah, seorang Muslim dapat berdoa agar dijauhkan dari hubungan yang berpotensi merusak agama dan kehidupannya. Doa menjadi salah satu ikhtiar untuk memohon petunjuk Allah dalam mengambil keputusan, baik sebelum menikah maupun ketika menjalani rumah tangga.
Al-Qur’an memberikan pelajaran melalui kisah istri Nabi Nuh dan Nabi Luth dalam Surah At-Tahrim ayat 10. Kisah tersebut menunjukkan bahwa hubungan pernikahan tidak otomatis menjadikan kedua pihak memiliki iman dan ketaatan yang sama. Kedekatan dengan orang saleh pun tidak menggantikan tanggung jawab seseorang untuk beriman dan beramal baik.
Dalam memilih pasangan, kesamaan nilai keimanan dan akhlak dapat menjadi pertimbangan penting. Namun, manusia tetap memiliki keterbatasan dalam mengetahui isi hati dan masa depan seseorang. Oleh karena itu, ikhtiar memilih pasangan perlu disertai doa, pertimbangan yang matang, dan tawakal kepada Allah SWT.
Baca Juga: Pasangan Mulai Terlena Harta dan Kesibukan Dunia? Amalkan 4 Doa Ini agar Kembali Utamakan Keluarga
Berikut beberapa doa yang dapat diamalkan untuk memohon perlindungan, petunjuk, serta pasangan yang mendukung kehidupan dalam takwa. Perlu diperhatikan bahwa tidak semua bacaan di bawah ini merupakan doa yang secara khusus diajarkan Rasulullah SAW. Ada doa Al-Qur’an, doa istikharah, dan permohonan umum yang dapat disampaikan kepada Allah.
Seseorang dapat memohon kepada Allah agar dijauhkan dari pasangan yang menyakiti dan membawa dampak buruk dalam kehidupannya. Salah satu bacaan yang beredar dalam literatur keislaman adalah:
Arab:
اللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ صَاحِبِ غَفْلَةٍ وَمِنْ جَارِ سُوْءٍ وَمِنْ زَوْجٍ يُؤْذِيْ
Latin:
Allāhumma innī a‘ūdzu bika min ṣāḥibi ghaflatin wa min jāri sū’in wa min zawjin yu’dzī.
Artinya:
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari teman yang lalai, tetangga yang buruk, dan pasangan yang menyakiti.”
Bacaan ini dikutip dalam sejumlah pembahasan keagamaan, termasuk yang dikaitkan dengan kitab Tanbihul Mughtarrin karya Imam Abdul Wahhab As-Sya’rani. Namun, status dan sumber hadisnya perlu diperiksa secara khusus sebelum dinyatakan sebagai doa yang pasti berasal dari Rasulullah SAW.
Makna permohonannya dapat dipahami secara umum: memohon perlindungan dari lingkungan dan hubungan yang membawa keburukan. Dalam kehidupan rumah tangga, hal tersebut dapat mencakup pasangan yang merendahkan, menghalangi ibadah, atau mendorong kepada perbuatan yang bertentangan dengan ajaran agama.
Doa ini dapat dibaca sebagai permohonan kepada Allah, tetapi tetap perlu diiringi dengan penilaian yang bijaksana terhadap calon pasangan. Jangan sampai kecurigaan semata dijadikan dasar untuk menuduh seseorang memiliki keburukan iman.
Ketika menghadapi pilihan penting, termasuk menentukan calon pasangan, seorang Muslim dianjurkan untuk memohon petunjuk Allah melalui salat istikharah.
Rasulullah SAW mengajarkan istikharah sebagai salat sunah dua rakaat yang diikuti doa untuk memohon agar Allah menentukan pilihan terbaik dalam urusan yang sedang dihadapi. Doa istikharah yang diriwayatkan dalam hadis Jabir bin Abdullah memuat permohonan agar suatu urusan dimudahkan apabila baik bagi agama, kehidupan, dan masa depan seseorang, serta dijauhkan apabila membawa keburukan.
Berikut contoh permohonan dalam bahasa Arab yang disesuaikan dengan urusan memilih pasangan. Redaksi ini merupakan susunan doa, bukan kutipan lengkap dari hadis istikharah.
Arab:
اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ هَذَا الزَّوَاجُ خَيْرًا لِي فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَآخِرَتِي فَيَسِّرْهُ لِي، وَإِنْ كَانَ شَرًّا لِي فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَآخِرَتِي فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي عَنْهُ، وَاقْدُرْ لِيَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ
Latin:
Allāhumma in kāna hādzā az-zawāju khairan lī fī dīnī wa dunyāya wa ākhiratī fayassirhu lī, wa in kāna syarran lī fī dīnī wa dunyāya wa ākhiratī faṣrifhu ‘annī waṣrifnī ‘anhu, waqdur liyal-khaira ḥaitsu kān.
Artinya:
“Ya Allah, jika pernikahan ini baik bagiku dalam agamaku, kehidupanku, dan akhiratku, maka mudahkanlah untukku. Namun, jika pernikahan ini buruk bagiku dalam agamaku, kehidupanku, dan akhiratku, maka jauhkanlah ia dariku dan jauhkanlah aku darinya.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir