Keboncinta.com-- Ketika sebuah kesempatan datang, kita sering merasa harus segera mengambilnya. Tawaran pekerjaan, ajakan bergabung dalam proyek, peluang mengikuti kegiatan, atau kesempatan bertemu orang baru terdengar seperti sesuatu yang sayang jika dilewatkan.
Namun, menerima semua kesempatan bukan selalu tanda bahwa kita sedang berkembang. Ada kalanya terlalu banyak hal yang diterima justru membuat waktu, tenaga, dan perhatian terbagi ke mana-mana.
Kita ingin mencoba semuanya, tetapi akhirnya tidak memiliki cukup ruang untuk menjalankan satu hal dengan maksimal.
Tekanan untuk tidak melewatkan kesempatan juga bisa membuat kita merasa bersalah ketika mengatakan tidak.
Kita takut dianggap tidak ambisius, tidak berani mengambil risiko, atau kehilangan sesuatu yang mungkin membawa perubahan besar. Padahal, setiap kesempatan memiliki konsekuensi yang perlu dipertimbangkan.
Lantas, kapan sebuah kesempatan layak diterima dan kapan sebaiknya dilepas? Jawabannya tidak selalu bergantung pada seberapa menarik peluang tersebut, tetapi pada kesesuaiannya dengan kondisi dan tujuan kita saat ini.
Kesempatan yang baik seharusnya memiliki alasan yang jelas untuk diperjuangkan.
Misalnya, sebuah proyek bisa diterima karena sesuai dengan keterampilan yang ingin dikembangkan. Sebaliknya, jika kesempatan tersebut hanya diambil karena takut tertinggal dari orang lain, kita perlu berhenti sejenak dan mempertimbangkannya kembali.
Waktu juga menjadi pertimbangan penting. Kesempatan yang terlihat bagus tetap bisa menjadi beban jika jadwal kita sudah terlalu penuh.
Mengambil pekerjaan tambahan ketika sedang kewalahan, misalnya, mungkin memberikan pengalaman baru, tetapi juga dapat mengorbankan tanggung jawab yang sudah lebih dulu dimiliki.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir