Transformasi Kurikulum Diniyah: Integrasi Baca Tulis Al-Qur’an dan Pembentukan Karakter

Transformasi Kurikulum Diniyah: Integrasi Baca Tulis Al-Qur’an dan Pembentukan Karakter

19 November 2025 | 09:52

Keboncinta.com-- Direktorat Pesantren Kementerian Agama (Kemenag) tengah melakukan revieu menyeluruh terhadap kurikulum Lembaga Pendidikan Al-Qur’an (LPQ) dan Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT).

Proses ini dilakukan melalui Workshop Pengembangan Kurikulum Pendidikan Diniyah Takmiliyah dan Pendidikan Al-Qur’an yang berlangsung pada 17–19 November 2025 di Jakarta.

Forum ini menjadi ruang strategis untuk merumuskan arah baru pendidikan Al-Qur’an yang lebih holistik, berkarakter, dan relevan dengan tantangan zaman.

Direktur Pesantren, Basnang Said, menegaskan perlunya kurikulum LPQ dan MDT yang mampu memadukan kompetensi baca tulis Al-Qur’an dengan penguatan karakter.

Di tengah derasnya arus informasi digital dan kompleksitas sosial, kata Basnang, pendidikan diniyah harus menjadi ruang pedagogis yang mengintegrasikan dimensi kognitif, afektif, dan psikomotorik secara sistematis.

Baca Juga: Kemenag Rampungkan Enam Pedoman Teknis Pendidikan Inklusif untuk Madrasah, Ini Penjelasannya!

Nilai-nilai tawasuth, tasamuh, ta’awun, dan mahabbah al-wathan disepakati sebagai dasar penting dalam rancangan kurikulum baru.

Nilai-nilai tersebut tidak hanya memperkuat identitas keislaman yang moderat dan berakhlak mulia, tetapi juga berfungsi sebagai pijakan untuk membentuk profil lulusan yang tangguh menghadapi dinamika kehidupan modern.

Kasubdit Pendidikan Diniyah Takmiliyah dan Pendidikan Al-Qur’an, Aziz Syafiuddin, menjelaskan bahwa workshop ini diharapkan menghasilkan masukan konkret dalam penguatan kelembagaan pesantren, LPQ, dan MDT secara komprehensif.

Salah satu fokusnya ialah penyusunan standar kurikulum nasional yang lebih terukur, mencakup tahapan pembelajaran hingga capaian kompetensi minimal pada setiap jenjang layanan.

Standar ini akan tetap fleksibel dan memberi ruang adaptasi sesuai karakter lokal lembaga pendidikan.

Baca Juga: Jejak Peradaban Islam Modern: Mengupas Materi SKI Kelas XII Madrasah Aliyah

Hadir sebagai narasumber, Ketua DPP FKPQ Saefudin Zuhri dan pakar kurikulum UNUGIRI Surabaya Amin Hasan, yang memberikan perspektif terkait desain kurikulum modern.

Mereka menekankan pentingnya penguatan literasi dasar keagamaan sejak usia dini serta perlunya instrumen evaluasi yang tidak hanya mengukur kemampuan membaca, tetapi juga sikap keberagamaan yang inklusif dan proporsional.

Diferensiasi kurikulum turut diperkaya oleh paparan dekan Ushuluddin IIQ, Muhammad Ulinnuha, mengenai konsep kurikulum berbasis cinta.

Konsep ini menekankan integrasi nilai kesederhanaan, kasih sayang, keikhlasan, dan cinta kepada Allah, Rasul, Al-Qur’an, orang tua, guru, sesama, hingga tanah air ke dalam seluruh elemen pembelajaran.

Pendekatan ini diyakini mampu membentuk santri yang tidak sekadar mahir membaca Al-Qur’an, tetapi juga memiliki sensitivitas empatik dan kepedulian dalam kehidupan sehari-hari.

Workshop ini diikuti oleh para pengelola LPQ, MDT, penyusun kurikulum, dan akademisi dari berbagai daerah. Berbagai sesi diskusi dan FGD menghasilkan rekomendasi operasional yang memperkuat arah baru kurikulum.

Baca Juga: Menelusuri Kejayaan Islam Klasik: Materi Sejarah Kebudayaan Islam Kelas XI Madrasah Aliyah

Beberapa temuan penting antara lain urgensi penguatan materi adab dan akhlak di setiap jenjang, penyesuaian sekuen pembelajaran baca tulis Al-Qur’an sesuai tahap perkembangan anak, serta penyusunan panduan pembelajaran yang mudah diterapkan guru di kelas.

Forum juga merumuskan kerangka kurikulum LPQ dan MDT yang selaras dengan kebijakan penguatan pendidikan karakter, serta responsif terhadap fenomena sosial kontemporer, termasuk meningkatnya kasus kekerasan di lingkungan pendidikan.

Dengan pembaruan kurikulum ini, Kemenag menargetkan lahirnya generasi Qur’ani yang moderat, berakhlak mulia.***

Tags:
pendidikan kemenag Kurikulum Cinta kurikulum

Komentar Pengguna