Pendidikan
Vini Dwi Jayati

Waspada Toxic Friendship, Pertemanan yang Merugikan Diri Sendiri

Waspada Toxic Friendship, Pertemanan yang Merugikan Diri Sendiri

15 Juni 2026 | 12:58

Keboncinta.com-- Memiliki teman merupakan bagian penting dalam kehidupan, terutama bagi anak-anak dan remaja. Teman dapat menjadi tempat berbagi cerita, belajar bersama, serta memberikan dukungan dalam berbagai situasi. Namun, tidak semua pertemanan memberikan dampak positif. Ada kalanya seseorang berada dalam hubungan pertemanan yang justru merugikan atau dikenal dengan istilah toxic friendship.

Toxic friendship adalah hubungan pertemanan yang memberikan pengaruh negatif terhadap kondisi emosional, mental, maupun perkembangan diri seseorang. Hubungan seperti ini sering kali membuat seseorang merasa tidak nyaman, tidak dihargai, bahkan kehilangan kepercayaan diri. Oleh karena itu, penting bagi setiap orang untuk mengenali tanda-tandanya sejak dini.

Salah satu ciri toxic friendship adalah teman yang sering merendahkan atau mempermalukan kita. Candaan yang berlebihan, ejekan yang menyakitkan, atau kebiasaan mempermalukan seseorang di depan orang lain bukanlah bentuk pertemanan yang sehat. Sikap tersebut dapat membuat seseorang merasa tidak percaya diri dan kehilangan semangat.

Selain itu, teman yang tidak mendukung saat kita berhasil juga perlu diwaspadai. Alih-alih memberikan selamat atau dukungan, mereka justru merasa iri dan menunjukkan sikap tidak senang terhadap pencapaian yang kita raih. Padahal, teman yang baik akan ikut bahagia melihat keberhasilan temannya.

Ciri lainnya adalah suka mengatur dan memaksa orang lain mengikuti keinginannya. Dalam pertemanan yang sehat, setiap orang memiliki hak untuk menyampaikan pendapat dan membuat keputusan sendiri. Jika seseorang selalu memaksakan kehendaknya, maka hubungan tersebut tidak berjalan secara seimbang.

Perilaku manipulatif juga sering ditemukan dalam toxic friendship. Teman yang manipulatif akan membuat orang lain merasa bersalah agar menuruti keinginannya. Mereka sering menggunakan emosi atau kata-kata tertentu untuk mengendalikan orang lain demi kepentingan pribadi.

Tidak hanya itu, kebiasaan menyebarkan gosip dan membicarakan keburukan teman di belakang juga menjadi tanda pertemanan yang tidak sehat. Sikap tersebut dapat merusak kepercayaan dan menimbulkan konflik yang berkepanjangan. Pertemanan yang baik seharusnya dibangun atas dasar kejujuran dan saling menghargai.

Tanda lainnya adalah ketika setelah bertemu dengan seseorang kita justru merasa sedih, lelah, tertekan, atau tidak dihargai. Jika hal itu terjadi secara berulang, bisa jadi hubungan pertemanan tersebut telah memberikan dampak negatif terhadap kesehatan emosional.

Lalu, apa yang harus dilakukan jika menghadapi toxic friendship? Langkah pertama adalah mengenali tanda-tandanya dan menyadari bahwa hubungan tersebut tidak sehat. Setelah itu, beranilah menetapkan batasan dengan mengatakan "tidak" pada perlakuan yang merugikan. Pilihlah lingkungan pertemanan yang positif, yaitu teman-teman yang saling menghargai, mendukung, dan memberikan pengaruh baik.

Jangan ragu untuk berbicara kepada orang tua, wali kelas, guru BK, atau orang dewasa yang dipercaya jika mengalami kesulitan dalam menghadapi permasalahan pertemanan.

Tags:
Kesehatan Mental Pengembangan Diri Pendidikan Karakter Pertemanan Sehat Toxic Friendship

Komentar Pengguna