"What If" Anak Memilih Karir Esports? Panduan Orang Tua Menghadapi Cita-cita Generasi Z & Alpha yang Gak Masuk Akal

"What If" Anak Memilih Karir Esports? Panduan Orang Tua Menghadapi Cita-cita Generasi Z & Alpha yang Gak Masuk Akal

28 Februari 2026 | 22:01

keboncinta.com--  Bagi banyak orang tua dari generasi X atau Milenial, mendengar anak menyatakan keinginan untuk menjadi pemain profesional esports mungkin terdengar seperti lelucon atau sekadar alasan untuk malas belajar. Di mata orang tua, bermain game sering kali masih dianggap sebagai hobi yang membuang waktu dan merusak masa depan, namun bagi Generasi Z dan Alpha, dunia digital adalah realitas baru yang menawarkan karier dengan pendapatan yang bisa melampaui profesi konvensional. Menghadapi situasi ini, langkah pertama yang paling bijak adalah membuang jauh-jauh sikap menghakimi dan mulai membangun jembatan komunikasi yang sehat. Menolak mentah-mentah cita-cita tersebut tanpa memahami ekosistemnya hanya akan menciptakan jarak emosional dan membuat anak merasa tidak didukung dalam minat yang mereka anggap serius. Orang tua perlu menyadari bahwa esports saat ini telah bertransformasi menjadi industri bernilai miliaran dolar yang melibatkan disiplin tinggi, strategi kompleks, serta kerja sama tim yang sangat ketat.

Alih-alih melarang, orang tua dapat berperan sebagai pengarah yang membantu anak memahami perbedaan antara "bermain game untuk kesenangan" dengan "bermain game untuk prestasi". Karier profesional di dunia esports menuntut dedikasi yang sama besarnya dengan atlet fisik, mulai dari pengaturan jadwal latihan, menjaga kebugaran tubuh, hingga menjaga kesehatan mental agar tetap fokus dalam kompetisi. Dalam hal ini, orang tua bisa menerapkan sistem "kontrak profesional" di rumah, di mana anak diizinkan fokus pada game asalkan mereka mampu menjaga nilai akademik, disiplin waktu tidur, dan tetap bersosialisasi di dunia nyata. Dengan memberikan batasan yang konstruktif, orang tua sebenarnya sedang mengajarkan tanggung jawab dan manajemen waktu, yang merupakan soft skill krusial dalam karier apa pun di masa depan. Jika anak memang memiliki bakat luar biasa, dukungan orang tua dalam bentuk fasilitas yang memadai dan pengawasan terhadap asupan konten digital akan jauh lebih efektif daripada larangan yang bersifat membatasi.

Penting juga bagi orang tua untuk memberikan wawasan tentang realitas industri yang keras, di mana masa keemasan seorang atlet esports biasanya sangat singkat dan persaingannya sangatlah brutal. Orang tua bisa mengajak anak berdiskusi tentang rencana cadangan atau plan B, seperti mendalami bidang manajemen esports, produksi konten, atau analisis data yang memiliki keberlanjutan karier lebih panjang. Dengan pendekatan yang suportif namun tetap realistis, anak akan merasa bahwa orang tua mereka adalah mitra diskusi yang cerdas, bukan penghalang mimpi. Cita-cita yang mungkin terdengar "gak masuk akal" bagi orang tua ini sebenarnya adalah peluang besar untuk melatih ketangguhan mental anak dalam menghadapi tantangan zaman baru. Pada akhirnya, tugas orang tua bukanlah menentukan jalan hidup anak secara kaku, melainkan memastikan bahwa apa pun jalan yang mereka pilih, mereka menjalaninya dengan karakter yang kuat, disiplin, dan integritas yang tinggi.

Tags:
Parenting Gen Alpha Gen Z Karier Anak

Komentar Pengguna