Dzikir ini diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dari Abdullah bin Abbas RA, yang menuturkan bahwa Rasulullah ﷺ ketika bangun malam untuk shalat tahajud biasa membaca doa ini (HR. Bukhari no. 6317, Muslim no. 769).
Imam Ibn Hajar dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa doa ini mengandung pujian kepada Allah, pengakuan iman, serta permohonan ampunan yang sangat luas.
Menguatkan tauhid dengan menegaskan kebenaran janji Allah, hari kiamat, surga dan neraka.
Menghadirkan tawakal sejati dengan menyerahkan seluruh urusan hidup kepada Allah.
Menghapus dosa-dosa baik yang tampak maupun tersembunyi.
Membawa ketenangan batin saat dibaca dalam qiyamullail.
Baca juga : Tuntunan Sholat Gerhana Bulan (Khusuf): Panduan Praktis Niat hingga Doa
لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ الحَلِيْمُ الكَرِيْمُ، سُبْحَانَ اللهِ رَبِّ العَرْشِ العَظِيْمِ، الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ، أَسْأَلُكَ مُوْجِبَاتِ رَحْمَتِكَ، وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ، وَالغَنِيْمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ، وَالسَّلَامَةَ مِنْ كُلِّ إِثْمٍ، لَا تَدَعْ لِي ذَنْبًا إِلَّا غَفَرْتَهُ، وَلَا هَمًّا إِلَّا فَرَّجْتَهُ، وَلَا حَاجَةً هِيَ لَكَ رِضًا إِلَّا قَضَيْتَهَا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
La ilaha illallâhul halîmul karîm, subhânallâhi rabbil ‘arsyil karîmil ‘azhim, alhamdulillâhi rabbil ‘âlamîn. As’aluka mujibâti rahmatika, wa ‘azâ’ima maghfiratika, wal ghanîmata min kulli birrin, was-salâmata min kulli itsmin. Lâ tada’ lî dzanban illâ ghafartah, wa lâ hamman illâ farrajtah, wa lâ hâjatan hiya laka ridhan illâ qadhaitahâ yâ arhamar râhimîn.
“Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Lembut lagi Maha Mulia. Maha Suci Allah, Rabb pemilik Arasy yang agung. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Aku memohon kepada-Mu hal-hal yang mendatangkan rahmat-Mu, ampunan-Mu yang pasti, keuntungan dari segala kebaikan, dan keselamatan dari segala dosa. Ya Allah, jangan biarkan satu pun dosa kecuali Engkau ampuni, jangan ada kegelisahan kecuali Engkau lapangkan, dan jangan ada satu pun hajat yang Engkau ridhai kecuali Engkau kabulkan, wahai Tuhan Yang Maha Pengasih.”
Dzikir ini diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud RA bahwa Rasulullah ﷺ mengajarkan doa ini sebagai wirid setelah sholat malam dan doa dalam kesulitan. Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dalam Sunan Tirmidzi (no. 3502), hadis ini dinilai hasan shahih.
Tauhid dan pengakuan kelemahan hamba – dimulai dengan kalimat la ilaha illallah, menegaskan keesaan Allah.
Pujian agung – memuji Allah sebagai Rabb semesta alam dan pemilik Arasy yang agung.
Permohonan ampunan – doa ini memohon agar Allah menghapus seluruh dosa, baik kecil maupun besar.
Jalan terkabulnya hajat – doa ini sangat sesuai dibaca setelah sholat hajat karena isinya permintaan agar Allah mengabulkan kebutuhan yang diridhai-Nya.
Perlindungan dari kesulitan – Rasulullah ﷺ mengajarkan doa ini untuk melapangkan hati yang dilanda kesedihan atau kesempitan hidup.
Baca juga : Kumpulan Ucapan Doa Perjalanan: Agar Selamat dan Dimudahkan Allah SWT
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Rabbana âtinâ fid-dunyâ hasanah wa fil-âkhirati hasanah wa qinâ ‘adzâban-nâr.
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta selamatkanlah kami dari siksa api neraka.”
Doa ini terdapat dalam firman Allah SWT:
وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Dan di antara mereka ada yang berdoa: ‘Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta peliharalah kami dari siksa neraka.’” (QS. Al-Baqarah: 201)
Anas bin Malik RA meriwayatkan bahwa doa ini adalah doa yang paling sering dipanjatkan oleh Rasulullah ﷺ. Ia berkata:
“Doa yang paling sering dibaca oleh Nabi ﷺ adalah: Rabbana atina fid-dunya hasanah wa fil-akhirati hasanah wa qina ‘adzaban-nar.” (HR. Bukhari no. 6389, Muslim no. 2690).
Imam Ibn Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an al-‘Azhim menjelaskan: doa ini mencakup semua permintaan kebaikan dunia, seperti kesehatan, rezeki halal, ilmu yang bermanfaat, serta pasangan yang shalih/shalihah.
Adapun hasanah di akhirat mencakup keselamatan dari hisab, memperoleh rahmat Allah, dan masuk ke dalam surga-Nya.
Bagian wa qinâ ‘adzâban-nâr adalah permohonan perlindungan dari keburukan akhir yang paling besar, yakni azab neraka.
Doa paling lengkap: mencakup urusan dunia, akhirat, dan perlindungan.
Menjadi wirid utama: dianjurkan dibaca dalam sholat, setelah sholat, maupun dalam berbagai kesempatan doa.
Diamalkan Rasulullah ﷺ: termasuk doa yang beliau ulang-ulang dalam banyak kesempatan.
Sesuai kebutuhan hidup: doa ini sangat relevan bagi setiap muslim, karena menggabungkan kebutuhan lahir dan batin.
Niat: أُصَلِّيْ سُنَّةَ التَهَجُّدِ رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Minimal 2 rakaat, dikerjakan dengan khusyuk.
Disunahkan membaca Al-Kafirun pada rakaat pertama dan Al-Ikhlas pada rakaat kedua.
Ditutup dengan witir agar lebih utama.
Niat: أُصَلِّي سُنَّةَ الحَاجَةِ رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Minimal 2 rakaat, maksimal 12 rakaat.
Disarankan membaca Ayat Kursi dan surat Al-Ikhlas.
Setelah salam, panjatkan doa dengan penuh keyakinan.
Mendekatkan diri kepada Allah SWT (taqarrub).
Pengampunan dosa, baik yang tampak maupun tersembunyi.
Pengabulan hajat, bila dilakukan dengan ikhlas.
Ketenangan hati dan pikiran (QS. Ar-Ra’d: 28).
Perlindungan dari godaan syaitan, sebagaimana doa adalah benteng spiritual seorang mukmin.
Dzikir dan doa setelah sholat tahajud dan hajat adalah amalan agung yang diwariskan Rasulullah ﷺ. Ia bukan sekadar ibadah tambahan, melainkan kunci pengampunan, ketenangan, dan terkabulnya doa.
✨ Dengan istiqamah melaksanakan sholat malam dan memperbanyak dzikir, seorang muslim akan lebih dekat dengan Allah SWT, dilapangkan rezekinya, ditenangkan hatinya, dan dimudahkan segala urusannya.
Baca juga : Cara Bertawakkal kepada Allah: Tahapan Praktis, Dalil Arab, dan Tafsir Ulama
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir