Keboncinta.com-- Suara tangisan, teriakan, hingga anak berguling atau menangis sejadi-jadinya sering membuat orang tua panik. Dalam kondisi seperti ini, reaksi pertama orang tua terkadang justru ikut terpancing emosi.
Padahal, tantrum merupakan bagian dari proses perkembangan emosi anak. Pada usia tertentu, anak belum selalu mampu mengungkapkan rasa kecewa, marah, lelah, lapar, atau keinginannya dengan kata-kata. Akibatnya, emosi tersebut dapat muncul dalam bentuk ledakan perasaan.
Karena itu, menghadapi anak tantrum membutuhkan kesabaran dan cara yang tepat. Orang tua tidak harus selalu langsung memenuhi keinginan anak, tetapi perlu membantu anak mengenali dan mengelola emosinya.
Lantas, apa yang sebaiknya dilakukan ketika anak sedang tantrum? Berikut beberapa cara yang dapat diterapkan orang tua.
Baca Juga: Arah Karier Guru PPPK Mulai Terbuka, Status Paruh Waktu Berpeluang Berubah pada 2027
Hal pertama yang perlu dilakukan adalah mengendalikan reaksi diri sendiri. Ketika anak berteriak atau menangis, orang tua mungkin merasa kesal, malu, atau kehilangan kesabaran.
Namun, membalas dengan teriakan atau kemarahan justru dapat membuat suasana semakin sulit dikendalikan.
Cobalah mengambil jeda sejenak, menarik napas, dan memastikan diri berada dalam kondisi cukup tenang sebelum berbicara kepada anak.
Sikap tenang orang tua juga dapat membantu menciptakan suasana yang lebih aman bagi anak ketika emosinya sedang memuncak.
Tantrum biasanya tidak muncul tanpa alasan. Orang tua dapat mencoba mengamati kondisi anak sebelum ledakan emosi terjadi.
Apakah anak sedang lapar, mengantuk, kelelahan, terlalu banyak mendapatkan stimulasi, merasa kecewa, atau tidak mendapatkan sesuatu yang diinginkannya?
Mengetahui pemicu dapat membantu orang tua menentukan respons yang lebih tepat.
Sebagai contoh, anak yang rewel karena kelelahan tentu membutuhkan pendekatan berbeda dengan anak yang marah karena keinginannya tidak terpenuhi.
Baca Juga: Arah Karier Guru PPPK Mulai Terbuka, Status Paruh Waktu Berpeluang Berubah pada 2027
Ketika sedang tantrum, anak mungkin belum mampu menjelaskan dengan jelas apa yang sedang dirasakannya.
Orang tua dapat membantu dengan mengakui emosinya tanpa harus selalu menyetujui perilakunya.
Kalimat sederhana seperti, “Kamu kelihatannya sedang kecewa karena tidak boleh mengambil itu” dapat menunjukkan bahwa orang tua memahami perasaannya.
Setelah anak mulai lebih tenang, orang tua dapat menjelaskan perilaku mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan.
Dengan pendekatan tersebut, anak secara perlahan belajar bahwa perasaan marah atau kecewa adalah hal yang dapat dirasakan, tetapi tetap perlu disampaikan dengan cara yang aman.
Memberikan pilihan dapat membantu anak merasa memiliki kendali terhadap situasi tanpa membuat orang tua kehilangan batasan yang sudah ditetapkan.
Misalnya, daripada bertanya apakah anak mau tidur atau tidak, orang tua dapat menawarkan pilihan, seperti, “Mau membaca buku dulu atau langsung bersiap tidur?”
Pilihan yang diberikan sebaiknya tetap berada dalam batas yang dapat diterima orang tua.
Cara ini dapat membantu anak belajar mengambil keputusan sekaligus mengurangi perasaan bahwa semua hal ditentukan sepihak oleh orang dewasa.
Baca Juga: Aturan Pindah Tugas ASN Dinilai Terlalu Ketat, Usulan Baru Dorong Kesempatan Mutasi Setelah 5 Tahun
Memukul, mencubit, membentak, atau memberikan ancaman bukanlah cara yang baik untuk mengajarkan anak mengelola emosinya.
Ketika anak sedang kehilangan kendali atas emosinya, hukuman fisik justru dapat membuat situasi semakin buruk dan membuat anak merasa takut.
Orang tua sebaiknya tetap memberikan batasan secara tegas tetapi tenang. Jika perilaku anak membahayakan dirinya sendiri atau orang lain, keselamatan perlu menjadi prioritas dengan menghentikan tindakan tersebut secara aman.
Setelah anak tenang, orang tua dapat membantu menjelaskan perilaku yang lebih tepat untuk dilakukan ketika merasa marah atau kecewa.
Anak perlu belajar bahwa ada cara yang lebih baik untuk menghadapi emosi yang kuat.
Salah satu cara sederhana yang dapat diperkenalkan adalah menarik dan mengembuskan napas secara perlahan. Orang tua dapat memberikan contoh dengan melakukan latihan tersebut bersama anak ketika kondisinya sudah memungkinkan.
Namun, teknik menenangkan diri sebaiknya tidak dipaksakan ketika anak sedang berada di puncak tantrum. Berikan ruang dan waktu hingga emosinya mulai mereda, kemudian ajak anak mencoba cara tersebut.
Seiring bertambahnya usia, anak dapat belajar berbagai strategi lain untuk mengelola rasa marah, kecewa, atau frustrasi.
Tantrum sering membuat orang tua khawatir anaknya menjadi terlalu keras kepala atau sulit diatur. Padahal, pada masa perkembangan tertentu, ledakan emosi dapat menjadi bagian dari proses belajar anak dalam mengenali dan mengendalikan perasaannya.
Yang penting adalah bagaimana orang tua merespons situasi tersebut.
Anak perlu mendapatkan batasan yang jelas, tetapi pada saat yang sama juga membutuhkan rasa aman dan dukungan untuk memahami emosinya.
Memberikan apa pun yang diinginkan anak setiap kali ia tantrum memang mungkin membuat tangisan berhenti lebih cepat. Namun, orang tua perlu berhati-hati agar anak tidak belajar bahwa tantrum merupakan cara untuk mendapatkan sesuatu.
Empati tidak sama dengan selalu mengabulkan permintaan anak.
Orang tua tetap dapat mengatakan tidak ketika memang diperlukan sambil menunjukkan bahwa perasaan anak tetap didengarkan. Dengan begitu, anak belajar bahwa kecewa adalah bagian dari kehidupan dan keinginannya tidak selalu dapat dipenuhi.
Baca Juga: Tahun Ajaran 2026/2027 Lebih Mantap, Ini Program Kerja dan SOP yang Perlu Disiapkan Tim Kurikulum
Menghadapi tantrum membutuhkan proses.